Palangka Raya (ANTARA) - Sebuah usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, galeri Tio Art Collection bersiap menembus pasar internasional dengan ekspor perdana produk olahan limbah kayu berornamen budaya Dayak ke Selandia Baru.
Pemilik galeri Tio Art Collection, Sulistyo di Palangka Raya, Minggu, menjelaskan bahwa usahanya yang dirintis sejak tahun 2014 ini mengolah limbah kayu menjadi berbagai souvenir dan ornamen khas Dayak.
Produk tersebut berlokasi di Jalan G. Obos, Komplek Bayangkara 2, Blok C Nomor 2, Menteng, Kecamatan Jekan Raya.
"Kami berusaha mempromosikan dan mengenalkan budaya Dayak melalui ornamen-ornamen ini. Kebanyakan produk di galeri kami bernuansa Dayak, sehingga bisa menciptakan dan mempromosikan budaya Dayak ke luar daerah," ujar Sulistyo.
Baca juga: Sebanyak 17 UMKM Palangka Raya ekspor produk ke Selandia Baru
Menurutnya, produk yang telah dihasilkan telah menjangkau ke wilayah Nusantara, termasuk pesanan dari Jakarta dan bahkan pihak Bank Indonesia (BI) beberapa tahun lalu untuk dekorasi ruangan dengan nuansa motif Dayak.
Harga produk bervariasi, mulai dari gantungan kunci kecil hingga limited edition yang lebih mahal, tergantung tingkat kerumitan dan keunikan seni.
Sulistyo, yang berasal dari Jawa dan telah tinggal di Palangka Raya sejak awal tahun 1990-an bersama keluarga, menekankan pentingnya konsistensi bagi pelaku usaha.
Ia berharap ekspor perdana ke Selandia Baru ini menjadi langkah awal memperluas pasar, sekaligus menginspirasi para pelaku UMKM lainnya di provinsi berjuluk "Bumi Tambun Bungai" - "Bumi Pancasila".
Baca juga: Kerajinan Kalteng bikin kagum pengusaha asal Selandia Baru
"Harapan ke depan, ayo kita semua pelaku usaha harus terus konsisten, apapun yang terjadi tetap semangat, berkarya, dan berbuat untuk Kalteng Berkah, khususnya Palangka Raya," tuturnya penuh semangat.
Upaya ini sejalan dengan tren UMKM Palangka Raya yang semakin go international, termasuk pengiriman produk etnik dan budaya ke pasar luar negeri seperti Selandia Baru.
Hal ini juga tidak lepas peran pemerintah daerah untuk meningkatkan daya saing dan pelestarian budaya lokal.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk dan lainnya, dapat diakses melalui akun media sosial Instagram @sulistiyo75_
Baca juga: Produk Kalteng unik, tapi kemasan dan branding masih prematur
Pemilik galeri Tio Art Collection, Sulistyo (tengah) saat kedatangan pemilik Galeri Lifestyle Nusantara sekaligus perusahaan Exquisite Wood Limited di Selandia Baru, Hairunnisa (kanan), bersama suaminya, Rodney Taua atau Sidik di Palangka Raya bebrapa waktu lalu. ANTARA/Dokumentasi Pribadi
Pemilik Galeri Lifestyle Nusantara sekaligus perusahaan Exquisite Wood Limited di Selandia Baru, Hairunnisa, bersama suaminya, Rodney Taua atau Sidik menjadi pihak yang melakukan ekspor.
"Tujuan kita memfasilitasi ekspor ini hanya semata-mata ingin membuktikan UMKM Palangka Raya mampu bersaing di pasar mancanegara," katanya.
Pihaknya berharap, program ini mampu menjadi penyemangat pelaku UMKM untuk terus mengembangkan kualitas dan kuantitas usaha yang digeluti.
Baca juga: Produk lokal Kalteng mendunia hingga "Best of the Best" di pasar internasional
Baca juga: UMKM kerajinan rotan Palangka Raya siap bersaing di pasar internasional
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Palangka Raya Achmad Zaini menyatakan produk UMKM bernuansa etnik dan budaya Kalteng memiliki peluang besar di pasar internasional, termasuk Selandia Baru dan Eropa.
“Pasar Eropa sangat menghargai etnik dan budaya. Produk Kalteng memiliki potensi besar untuk dipasarkan secara internasional,” katanya.
Ia menambahkan salah satu tantangan utama UMKM menembus pasar ekspor adalah pemenuhan standarisasi kualitas produk, sehingga pelaku UMKM perlu terus meningkatkan kualitas agar mampu bersaing secara berkelanjutan.