Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah melakukan berbagai antisipasi guna menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), salah satunya dari segi kesehatan dengan menyiapkan ribuan masker hingga obat-obatan.
“Untuk persiapan di bidang kesehatan, pertama persediaan masker. Sebenarnya itu sudah kami persiapkan dari 2023 lalu, ketika terjadi karhutla. Tapi alhamdulillah, 2023 itu kondisinya cepat mereda dan aman, sehingga stok masker masih ada,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim Nugroho Kuncoro Yudho di Sampit, Minggu.
Sebelumnya, Pemkab Kotim telah menetapkan status siaga bencana karhutla selama 30 hari, yakni 23 Januari - 21 Februari 2026, seiring dengan menurunnya intensitas curah hujan yang diikuti dengan meningkatnya potensi karhutla.
Nugroho menjelaskan, karhutla bukan hanya berdampak pada kerusakan lingkungan tetapi juga buruk bagi kesehatan. Kabut asap dan jelaga dari karhutla dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernafasan hingga menyebabkan diare.
Oleh karena itu, Dinkes turut melakukan persiapan dalam mengantisipasi dampak tersebut, antara lain memastikan ketersediaan masker mencukupi.
Saat ini, Dinkes Kotim memiliki 39 dus masker anak, yang berisi 20 kotak dengan masing-masing kotak berisi 50 lembar masker. Jika diakumulasikan artinya ada 39.000 lembar masker anak tersedia.
“Dari jumlah tersebut 12 dus di antaranya sudah didistribusikan ke 11 puskesmas, berarti saat ini ada ada di gudang Dinkes sendiri masih ada 27 dus,” imbuhnya.
Baca juga: Jalan Sehat Kreasi SMPN 1 Sampit jadi ajang nostalgia lintas generasi
Kemudian, masker dewasa tercatat ada 43 dus, yang berisi 40 kotak dengan masing-masing berisi 50 lembar masker dan jika ditotal mencapai 80.000 lembar lebih. Sebanyak 13 dus telah didistribusikan ke puskesmas dan sisanya masih ada di gudang Dinkes.
Masker tersebut biasanya dibagikan kepada masyarakat secara gratis, ketika indeks standar pencemaran udara sudah menunjukkan indikasi yang mengkhawatirkan.
Selain masker, pihaknya juga memastikan bahwa ketersediaan obat-obatan di puskesmas, khususnya obat untuk infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan diare dalam kondisi aman, begitu pula infus.
“Hanya saja untuk sekarang ini stok kita yang terbatas adalah oralit, di gudang Dinkes saat ini hanya ada sekitar 800 saset, di puskesmas ada tapi tidak merata. Meskipun tidak tau kebutuhan pastinya, tapi jumlah itu menurut perkiraan kami masih kurang,” bebernya.
Nugroho menjelaskan, pasokan oralit ini merupakan bagian dari program Kementerian Kesehatan untuk penanganan penyakit diare yang pendistribusiannya melalui provinsi, sedangkan informasi terakhir di Dinkes Kalteng pun stoknya kosong sejak Desember 2025.
Dinkes Kotim telah mengusulkan penambahan pasokan melalui Dinkes Kalteng yang diharapkan mendapat persetujuan dan kiriman dari pusat dalam waktu dekat.
Ia menambahkan, walaupun oralit bisa dibuat dengan mencampurkan garam dan gula, tetapi cara ini tidak dianjurkan, sebab biasanya masyarakat awam tidak bisa mengukur takaran yang pas untuk campuran tersebut sehingga tidak efektif.
“Tetap lebih aman menggunakan oralit. Namun, yang lebih utama lagi adalah mencegah agar jangan sampai terkena diare. Mulai dengan memastikan ketersediaan air bersih baik itu untuk memasak maupun mencuci dan terapkan hidup bersih dan sehat,” demikian Nugroho.
Baca juga: Pemkab Kotim rencanakan pembangunan baru Jembatan Patah
Baca juga: Diskominfo Kotim dorong penguatan keterbukaan informasi publik
Baca juga: BMKG Kotim peringatkan risiko karhutla akibat curah hujan rendah