Sampit (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan mengimbau seluruh elemen masyarakat bersiap menghadapi musim kemarau panjang pada 2026.
Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo di Sampit, Kamis, mengatakan durasi musim kemarau untuk sebagian besar wilayah ini pada tahun 2026 sekitar 120 hari atau empat bulan.
"Di mana mulai dari dasarian pertama Juni sampai akhir September. Cukup lama, lebih panjang dibanding normalnya," ucapnya.
Ia menjelaskan, awal musim kemarau di Kotim dibagi dalam empat zona, yakni Kalteng 8, Kalteng 9, Kalteng 10 dan Kalteng 13. Untuk tiga zona pertama, awal musim kemarau terjadi dalam rentang waktu yang sama, yakni pada dasarian pertama Juni. Musim kemarau tersebut diprakirakan berlangsung hingga dasarian tiga atau akhir September, dengan durasi sekitar 120 hari.
Sementara untuk Kalteng 13 yang meliputi wilayah Kecamatan Teluk Sampit dan Pulau Hanaut, awal musim kemarau diprediksi sedikit mengalami kemunduran yakni pada Juni dasarian ketiga atau sekitar 21 Juni.
Meskipun mulai lebih lambat, akhir masa kemarau tetap diprediksi jatuh pada rentang waktu yang sama, yaitu akhir September. Sedangkan, untuk puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
"Durasi rata-ratanya sekitar 120 hari. Tapi, untuk Teluk Sampit dan Pulau Hanaut itu karena awal musim kemaraunya mundur jadi sekitar 10 dasarian (100 hari), namun jatuhnya sama-sama berakhir di September," jelasnya.
Terkait kondisi kelembaban udara, BMKG Kotim memantau saat ini masih relatif stabil, pada pagi hari berkisar antara 95 hingga 100 persen. Sedangkan pada siang hari, kelembaban udara kemungkinan besar masih bertahan di atas angka 70 sampai 80 persen.
BMKG Kotim juga terus melakukan pemantauan intensif terhadap perubahan atmosfer yang dapat memicu kondisi cuaca ekstrem di wilayah Kotim.
Baca juga: KONI pastikan Kotim tetap ikut PorprovKalteng meski anggaran belum cair
"Kesimpulan kami, kemarau tahun ini datangnya lebih awal, durasinya lebih panjang dan kemungkinan besar potensi fenomena El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat akan terjadi di tahun ini," tambah Mulyono.
Menyikapi durasi kemarau yang cukup panjang tersebut, ia memberikan imbauan penting bagi masyarakat. Langkah antisipasi utama yang ditekankan adalah larangan keras melakukan aktivitas pembakaran hutan dan lahan (karhutla) mengingat potensi kekeringan yang dapat menyebabkan perluasan kebakaran.
Selain menjaga lingkungan, masyarakat juga diminta menjaga kondisi kesehatan fisik, agar tetap prima selama cuaca panas berlangsung. Penggunaan sumber air bersih juga diharapkan dilakukan secara bijak, agar cadangan air tetap mencukupi hingga akhir musim.
"Imbauan ke masyarakat, pertama jangan membakar hutan dan lahan karena prakiraan kemarau lumayan panjang. Kedua jaga kesehatan, ketiga gunakan air secara bijak dan keempat perbanyaklah berolahraga, agar imunitas tetap terjaga," demikian Mulyono.
Baca juga: Legislator Kotim minta pemda kaji ulang aturan terkait UEP
Baca juga: Pemkab Kotim targetkan proyek listrik Pulau Hanaut tuntas tahun ini
Baca juga: Perempuan Kotim didorong melek literasi keuangan syariah lewat Sicantiks