Harga Ikan Khas Kotim Melambung

id Harga Ikan Khas Kotim Melambung , Ikan Jelawat, sampit

Harga Ikan Khas Kotim Melambung

Ilustrasi (Istimewa)

Ini masih termasuk stabil, kalau lagi kosong, harganya bisa naik menjadi Rp 70 ribu atau lebih...

Sampit, Kalteng, 13/4 (Antara) - Jelawat, ikan tawar khas Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, harganya melambung. Satu kilogram jelawat saat ini dihargai Rp 65 ribu.

"Ini masih termasuk stabil, kalau lagi kosong, harganya bisa naik menjadi Rp 70 ribu atau lebih. Pasokan ikan ini biasanya memang sedikit," kata Saniah, pedagang di Pasar Keramat Sampit.

Pantauan di pasar tersebut, hanya beberapa penjual ikan yang menjual jelawat. Selain memang pasokannya sedikit, pedagang beralasan, mahalnya harga ikan tersebut membuat tidak banyak pedagang yang berani menjual karena takut tidak laku semua.

"Kalau melihat harganya yang mahal seperti itu, kita sudah bisa menebak bahwa yang beli paling orang yang kaya. Kalau warga ekonomi biasa, mereka pasti memilih jenis ikan lainnya yang harganya jauh lebih murah. Makanya pedagang juga tidak banyak yang menjual karena memang pembelinya juga tidak banyak. Biasanya paling pengusaha rumah makan yang beli banyak untuk menu mereka," tambah Saniah.

Dijelaskan, mahalnya harga jelawat diperkirakan karena pasokannya sebagian besar mengandalkan dari luar daerah seperti daerah Pegatan Kabupaten Katingan dan Seruyan. Kotim yang dulunya dikenal sebagai daerah penghasil jelawat, kini justru kesulitan mendapatkan ikan yang rasanya enak namun banyak tulangnya itu.

Belakangan ini ikan jelawat menjadi pembicaraan hangat seiring rencana Bupati Kotim, Supian Hadi yang ingin membangun ikon Kota Sampit dengan mengusung ikan jelawat sebagai maskot utama. Ikon kota yang akan dilengkapi berbagai fasilitas itu diperkirakan akan menelan biaya mencapai Rp40 miliar dengan sistem penganggaran tahun jamak selama tiga tahun.

Bupati meyakinkan bahwa proyek tersebut bukan sekadar bagian dari penataan Sampit, tetapi juga mempertimbangkan dampak ekonominya. Dia memimpikan Sampit akan menjadi daerah tujuan wisata di Kalimantan Tengah sehingga menimbulkan dampak luas bagi ekonomi masyarakat setempat.

"Sektor jasa kita nanti akan terangkat juga dan pelaku usaha kecil misalnya pembuat suvenir, makanan dan lainnya jugta akan menikmati dampaknya," ujarnya.

Untuk mengembalikan kejayaan populasi jelawat di Kotim, beberapa tahun terakhir ini Dinas Kelautan dan Perikanan setempat berkonsentrasi mengembangkan bibit jelawat. Bahkan rencananya akan dilakukan penaburan benih dalam jumlah besar di Sungai Mentaya dengan harapan agar ikan jelawat tersebut berkembang biak sehingga kembali dengan mudah didapatkan masyarakat.

(T.KR-NJI/B/E001/E001)