Palangka Raya (Antara Kalteng) - Lomba Tari Pedalaman Suku Dayak yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah masih tetap menjadi idola di festival Budaya Isen Mulang dalam rangka memperingati hari jadi provinsi berjuluk "Bumi Tambun Bungai" itu.
Walau tari pedalaman ini diselenggarakan setiap tahun tapi selalu yang paling ditunggu-tunggu karena kostum dan gaya menarinya luar biasa, kata masyarakat Palangka Raya Yetin, Kamis.
"Kalau saya lihat peserta tari pedalaman tahun 2014 lebih meriah dibandingkan penyelenggaraan FBIM di tahun 2013. Tidak hanya kostum dan tariannya yang lebih menonjol, tapi juga musiknya membuat merinding," tambah Yetin.
Perempuan yang tinggal di jalan Bukit Keminting itu menganggap tari pedalaman maupun perlombaan lain, merupakan upaya pemerintah di provinsi Kalteng melestarikan sekaligus memperkenalkan Budaya Dayak di tingkat Nasional bahkan Internasional.
Yetin mengatakan perlombaan tari pedalaman tahun-tahun sebelumnya hanya menggunakan bahasa Indonesia, tapi sekarang ini pembawa acaranya juga menggunakan bahasa Inggris saat membacakan ilustrasi maksud dari tarian yang akan di bawakan.
"Adanya lomba tari pedalaman ini juga membuat kaum muda, khususnya suku Dayak semakin bangga dan mencintai budaya. Saya mengapresiasi dan mendukung upaya pak Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang," kata dia.
Guru SMP Katolik Palangka Raya Hertiani mengatakan Panitia perlombaan tari pedalaman harus mengevaluasi bentuk panggung agar dapat terlihat banyak orang yang antusiasme ingin menontonnya.
"Banyak penonton yang kecewa karena tidak bisa melihat, panggungnya terlalu rendah, jadinya yang belakang kesulitan," kata Hertiani.
Peserta lomba photographer FBIM Kopriwanto mengaku juga kesulitan mengambil gambar saat tari pedalaman karena pencahayaan panggung kurang mendukung.
"Lampunya itu membuat hasil foto jadi kurang bagus. Kami berharap panitia bisa memperbaiki pencahayaannya," demikian Kopriwanto.
(T.KR-JWM/B/Y008/Y008)
