Lelang Pengerukan Alur Diulang Karena Sepi Peminat

id Lelang Pengerukan, sampit, kotim,KSOP Sampit, Benny Noviandinudin, pengerukan

Lelang Pengerukan Alur Diulang Karena Sepi Peminat

Ilustrasi (ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

Sampit (Antara Kalteng) - Lelang proyek pengerukan alur Mentaya Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah terpaksa diulang karena lelang pertama gagal akibat sepi peminat.

"Pelelangan kemarin gagal, ini sedang reviewe akan dilelang ulang. Banyak yang mendaftar, tapi yang meng-upload dokumen cuma satu perusahaan dan itu pun tidak memenuhi syarat," kata Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Sampit Benny Noviandinudin di Sampit, Rabu.

Benny mengaku tidak mengetahui alasan mengapa perusahaan-perusahaan yang sudah mendaftar lelang tidak menindaklanjuti dengan memasukkan dokumen. Pihaknya memang tidak terlibat secara langsung karena pelelangan ini merupakan kewenangan pemerintah pusat.

Pemerintah juga harus melaksanakan lelang sesuai aturan. Apalagi pengerukan alur ini merupakan proyek serius yang harus dilakukan oleh perusahaan yang benar-benar mampu melaksanakan sesuai dengan target-target yang ditetapkan dalam waktu yang ditentukan pula.

"Kalau kami tentu berharap pelelangan ini segera kembali dilakukan dan mudahan ada pemenangnya sehingga pengerukan bisa dimulai. Pengerukan dibutuhkan agar lalu lintas kapal makin lancar," harap Benny.

Berdasarkan keterangan Kepala Sub Bagian Perencanaan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kalimantan Tengah, Joko Tri saat menghadiri musyawarah perencanaan pembangunan di Sampit, pemerintah pusat akan menggelontorkan dana Rp68 miliar untuk kembali mengeruk lumpur di alur Sungai Mentaya.

Pengerukan alur pelayaran atau kolam pelabuhan Sungai Mentaya Sampit kali ini dilakukan di alur.

Dari perencanaan, volume lumpur yang akan dikeruk sekitar 1.000.000 meter kubik. Pengerukan ini diharapkan bisa menjawab keluhan pelaku usaha pelayaran terkait pendangkalan yang mengganggu lalu lintas kapal selama ini.

Juli 2015 lalu, pemerintah pusat mengucurkan dana APBN sekitar Rp34 miliar untuk mengeruk sekitar 500.000 meter kubik lumpur di ambang luar sepanjang 1,8 kilometer dengan lebar 60 meter dan kedalaman antara empat hingga lima meter.

Pekerjaan pengerukan dilaksanakan selama empat bulan. KSOP Sampit mengusulkan pengerukan kembali dilakukan di dua titik dangkal dalam alur yakni perairan depan Pos TNI AL dan kawasan Serambut.

Saat ini kedalaman alur Mentaya di titik-titik terparah yaitu hanya berkisar 2,5 meter LWS (low water spring) atau posisi surut terendah.

Kondisi ini juga membuat hanya kapal yang tidak terlalu besar yang bisa masuk hingga ke pelabuhan, sementara kapal berkapasitas besar tidak bisa masuk ke Pelabuhan Sampit.

Pendangkalan alur juga sangat mengganggu lalu lintas kapal. Kapal yang hendak masuk atau keluar dari Pelabuhan Sampit harus menyesuaikan kondisi air pasang Sungai Mentaya agar tidak kandas.

Dia mengatakan, jika salah perhitungan, kapal akan tertahan di muara dan harus menunggu air sungai kembali pasang agar bisa melanjutkan perjalanan.

Jika alur Mentaya lancar, lalu lintas kapal diyakini akan meningkat signifikan. Dampaknya sangat positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat yang dipastikan juga akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi daerah karena banyak barang kebutuhan didatangkan dari luar daerah menggunakan kapal laut.


Pewarta :
Uploader : Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.