Nyanyi sunyi di balik hattrick emas atletik Indonesia di Angkor Wat

id atletik,hattrick,emas,sea games,angkor wat,kamboja,indonesia

Nyanyi sunyi di balik hattrick emas atletik Indonesia di Angkor Wat

Pelari putri Indonesia Odekta Elvina Naibaho mengigit medali emas saat penyerahan medali marathon SEA Games 2023 di kawasan situs warisan budaya dunia UNESCO Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja, Sabtu (6/5/2023). Odekta berhasil meraih medali emas. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Phnom Penh (ANTARA) - Hutan di kawasan Candi Angkor Wat masih gulita, ketika beberapa sosok berseragam dasar hitam kombinasi sentuhan batik abstrak berwarna merah turun dari mini bus menuju deretan tenda darurat yang dibangun oleh panitia SEA Games ke-32 Kamboja.


Di tenda terdepan sebelah kanan yang berlabel tulisan “Indonesia”, mereka berhenti, lalu masuk sambil meletakkan beberapa tas yang mereka bawa di lantai kayu. Mereka kemudian sibuk. Ada yang mengeluarkan makanan dan minuman, ada yang mengeluarkan beberapa Bendera Merah Putih dari tas yang kemudian diletakkan di meja, ada pula yang membuka laptop, dan ada yang mengamati dengan serius secarik kertas, seperti peta rute.

Tenda-tenda darurat itu didirikan sebagai posko kontingen masing-masing negara yang mengikuti lomba atletik nomor maraton dan jalan cepat SEA Games ke-32 Kamboja. Dipilihnya lokasi lomba di tengah hutan kawasan Candi Angkor Wat adalah bagian dari upaya panitia untuk mempromosikan Angkor Wat sebagai primadona wisata Budaya negeri Kamboja melalui ajang SEA Games.

“Sudah masuk waktu Shalat Subuh belum ya? Minjem sajadahnya dong Pak Mus,” kata seorang anak muda kepada pria paruh baya yang dipanggil Pak Mus.
Pak Mus mengambil sajadah dari tas hitamnya dan diserahkan ke anak muda yang kemudian mengambil sebotol air mineral untuk berwudu.

Pak Mus pun membuka sepatu olahraganya dan berkemas untuk menunaikan Shalat Subuh. Sesaat tenda darurat serasa seperti mushala kecil dengan lantunan bacaan shalat yang perlahan, namun terasa syahdu di kesunyian subuh Hutan Angkor.

Selesai menunaikan shalat dua rakaat, Pak Mus menengadahkan tangannya, berdoa. Ritual yang biasa ia lakukan seusai shalat. Namun, kali ini sedikit berbeda, ada tambahan doa mohon kelancaran menunaikan tugas negara agar Bendera Merah Putih bisa berkibar dan lagu Indonesia Raya berkumandang di kawasan Angkor Wat, sebagai buah dari kemenangan tim atletik Indonesia.

Dia sudah bangun jam dua waktu setempat, karena memang banyak yang harus disiapkan untuk anak-anak asuhnya berlari, dan nomor maraton dimulai jam enam pagi.

Pak Mus bernama lengkap Drs. Mustara Musa, MPd. Dia adalah manajer tim atletik Indonesia di SEA Games ke-32 Kamboja. Di pundak Pak Mus dan kawan-kawan lah tanggung jawab mengelola segala urusan pendukung untuk menyukseskan misi atletik Indonesia mencapai target yang sudah ditentukan.

Tentu, Pak Mus dan kawan-kawan pun ikut terlibat menentukan target berdasarkan peta kekuatan, data-data atlet, serta kondisi terkini di lapangan yang dia punya. Pak Mus pun terlibat dalam pemilihan atlet dan pelatih.

Di SEA Games edisi ke-32 ini, tim atletik ditargetkan menyumbang 5 medali emas untuk kontingen Indonesia dan target itu bukan hanya tercapai, tapi terlampaui karena sepanjang lomba nomor atletik yang dimulai 6 Mei dan berakhir 12 Mei, cabang atletik total menyumbang 7 medali emas, 3 medali perak, dan 9 medali perunggu untuk membantu kontingen Indonesia mencapai target 60 medali emas dan bertahan di posisi tiga besar pesta olahraga antarnegara kawasan Asia Tenggara ini.


Air “ajaib” hingga kacamata

Berbekal ilmu keolahragaan yang ia tekuni di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) serta pengalaman luas sebagai atlet maupun pembina olahraga, Mustara Musa tentu sangat paham secara ilmiah tentang cara mempersiapkan seorang atlet menjadi juara.

Sport science adalah hal mutlak harus ada dalam membentuk para atlet agar bisa bersaing dengan atlet-atlet lain, baik di lingkup nasional, regional, maupun tingkat dunia, seperti Olimpiade.

Namun bagi Pak Mus, bekal ilmiah saja belum cukup untuk mengantarkan atlet ke podium tertinggi, apalagi untuk atlet atlet Indonesia yang sedikit banyak memiliki mental atau budaya “Timur”. Perlu pendekatan kultural, bahkan personal, sehingga atlet bisa mengeluarkan potensinya secara maksimal saat berlomba.

Bagi dia, yang agak rumit itu mengelola mood para atlet. Dia harus peka, apalagi ini nomor maraton. Lari maraton itu panjang dan lama, sehingga bukan hanya fisik dan teknik, tapi perlu persiapan mental yang matang.

Mustara dan kawan-kawan pun menyiapkan segalanya dengan detail, termasuk hal-hal yang mungkin secara ilmiah perlu kajian panjang untuk memberi penjelasannya, seperti saat ia dan tim yang jauh-jauh hari menyiapkan dua botol “air ajaib” untuk pelari maraton Agus Prayogo dan Odekta Elvina Naibaho. Air itu akan diberikan kepada sang pelari untuk diminum di kilometer tertentu.

Sebenarnya itu air biasa. Kalau unsur tambahan paling itu air mineral isotonic saja. Air itu menjadi air spesial karena ada sugesti untuk memberi tambahan bekal keyakinan atlet untuk berlomba.

“Air ajaib” itu merupakan kearifan sebagai bentuk dari detail yang disiapkan jajaran manajemen kontingen atletik Indonesia. Demi detail itu pula, Pak Mus rela berjalan kaki sepanjang delapan kilometer di bawah terik matahari untuk mengantarkan kacamata Agus Prayogo yang tertinggal.

Agus saat itu lupa tidak membawa kacamata, padahal walaupun hitungannya masih pagi matahari di negeri itu begitu terik, panas sekali. Pak Mus berjalan menelusuri pinggir Hutan Angkor Wat menuju kilometer empat rute lomba maraton untuk menyerahkan kacamata kepada pelatih Agus yang menunggu di sana.

Menyiapkan dan mengelola atlet untuk mencapai target ternyata bukan perkara yang sederhana. Selain hal-hal teknis, seperti latihan, sepatu, atau gizi, ternyata ada detail-detail lain yang juga tidak bisa diabaikan.

Detail detail itu sering sangat personal dan nyaris tak pernah muncul dalam kalkulasi target atau evaluasi hasil. Namun, itu ada dan Pak Mus bersama tim begitu cermat menyiapkan, sehingga di terik matahari Angkor Wat yang hampir menyentuh 40 derajat Selsius, Agus Prayogo, Odekta Elvina Naibaho, Hendro Yap, dan Violine Intan Puspita bisa berlari dan berjalan cepat dengan nyaman, dengan mood yang positip. Hasilnya pun berbuah manis, terjadi hattrick tiga keping emas plus satu perak di hari pertama lomba atletik SEA Games 2023.

Tiga kali Bendera Merah Putih berkibar dan Indonesia Raya bergema di kawasan Hutan Angkor Wat. Tentu perjuangan para atletlah yang menjadi musabab utamanya, plus pelatih yang menyiapkan program dan memberi tempaan. Orang-orang yang menyiapkan air, melipat bendera untuk selebrasi, dan cerita berjalan kaki 8 kilometer “hanya” untuk mengantar kacamata, cukup menjadi gimik dan detail-detail yang mungkin terlalu naif untuk dimasukkan dalam menjelaskan kesuksesan hatrick tiga emas di Angkor dan sukses-sukses raihan medali emas yang lain.

Detail-detail seperti yang dicermati Pak Mus dan tim adalah ibarat nyanyi sunyi yang membuat merdu, meski tak terdengar. Ia kerap absen dari sorotan khalayak tentang sukses para pahlawan olahraga dalam mengharumkan nama bangsa.

Dalam sebuah sukses, seperti keberhasilan atlet berkalung medali emas, pasti ada yang absen disebut dan untuk itu mungkin sekali-kali ada baiknya kita mengingat pesan detektif Sherlock Holmes bahwa dalam meneliti satu kasus, kita tak cukup hanya menganalisis barang bukti yang ada. Kita harus mengetahui ada yang absen, ada yang tak terlihat, ada yang tak tampak di permukaan karena memang bukan yang adiluhung, tapi hal itu penting dan bisa jadi menentukan.