Sampit (ANTARA) - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah Wahito Fajriannor mengimbau masyarakat di wilayah selatan untuk waspada terhadap kemunculan buaya seiring dengan banjir yang merendam wilayah setempat.
“Kami menghimbau kepada masyarakat agar waspada terhadap kemunculan buaya ketika air pasang di wilayah selatan Kotim,” kata Fajrin di Sampit, Selasa.
Banjir rob yang merendam wilayah selatan Kotim, tidak hanya memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap aktivitas, mobilitas maupun keamanan masyarakat setempat, tetapi juga potensi akan naiknya buaya ke daratan dan terjadinya serangan terhadap warga setempat.
Fajrin yang merupakan anggota DPRD Daerah Pemilihan (Dapil) III Kotim, yakni meliputi Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut dan Teluk Sampit akan ancaman bahaya ini.
Kekhawatiran ini didasari oleh pengalaman di masa lalu. Wilayah selatan Kotim termasuk yang paling rawan kemunculan buaya, apalagi di muara Sungai Mentaya yang merupakan habitat bagi satwa tersebut.
“Dulu pernah kejadian di Samuda Kota, ada buaya besar masuk ke halaman rumah warga karena air pasang. Yang bahaya itu kalau kejadiannya pada malam hari, saat jarak pandang menurun, takutnya ada warga yang beraktivitas di luar rumah, bahkan anak-anak yang berkeliaran tanpa menyadari keberadaan satwa itu,” tuturnya.
Selain laporan kemunculan yang sering, beberapa kasus serangan buaya kepada manusia juga pernah terjadi bahkan hingga menelan korban jiwa.
Baca juga: Pemkab Kotim tekankan pentingnya harmoni dalam keberagamaan
Terlebih, menurutnya yang semakin mengkhawatirkan kemunculan predator tersebut semakin tahun semakin sering dan diduga hal ini sejalan dengan peningkatan jumlah buaya di wilayah itu karena adanya proses kembang biak.
Bahkan, sebaran buaya kini semakin meluas, bukan hanya terpusat di sungai besar, tapi juga anak-anak sungai hingga sungai pengaringan (galian).
Di sisi lain, kebiasaan sebagian masyarakat yang masih membuang sampah rumah tangga atau bangkai sembarangan juga memicu predator itu masuk ke wilayah permukiman. Artinya, potensi ancamannya semakin meningkat.
“Apalagi di pasar, sampah sisa jeroan ayam dan lainnya yang dibuang ke sungai mengundang kedatangan hewan karnivora, termasuk buaya. Semakin tahun jumlahnya semakin banyak. Sekarang ketika sore hari itu buaya sering muncul, kalau dulu jarang,” lanjutnya.
Maka untuk menyikapi itu, ia kembali menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat. Salah satunya, menghindari aktivitas langsung di sungai dan ketika terjadi banjir perhatikan betul-betul keadaan sekitar sebelum keluar rumah.
Sementara itu berkenaan dengan banjir, menurut Fajrin hal tersebut sudah menjadi siklus musiman dan masyarakat setempat pun sudah terbiasa karena biasanya banjir tidak berlangsung lama.
Banjir biasanya disebabkan curah hujan tinggi dibarengi air pasang, tapi biasanya tidak terlalu lama. Namun, karena kondisi drainase sekarang banyak yang tersumbat dan pendangkalan Sungai Mentaya menyebabkan banjir sempat tertahan.
“Tapi untuk sementara masih aman, karena informasinya banjir sudah surut,” demikian Fajrin.
Baca juga: DPMD Kotim dalami kasus dugaan penipuan BUMDes Lampuyang
Baca juga: DLH Kotim terima bantuan kendaraan angkutan sampah dari pemprov
Baca juga: BPBD Kotim: Waspadai pertanda alam untuk hindari dampak cuaca ekstrem
