
Korban serangan buaya di Pulau Hanaut ditemukan

Sampit (ANTARA) - BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menyatakan korban serangan buaya di Desa Satiruk, Kecamatan Pulau Hanaut ditemukan pada hari ketiga pencarian, berlokasi sekitar lima kilometer dari lokasi kejadian yang sebelumnya disampaikan para saksi.
“Tim pencarian di lapangan mengkonfirmasi korban telah ditemukan sekitar pukul 11:300 wib di Sungai Tatah Bamban yang masih satu aliran Sungai Rangkang yang merupakan lokasi dugaan serangan buaya terjadi,” kata Pelaksana Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam di Sampit, Senin.
Dia menjelaskan upaya pencarian memakan waktu dan melibatkan berbagai pihak. Pencarian pada hari pertama dan kedua melibatkan masyarakat desa, aparatur desa, kecamatan dan tim terpadu, yakni Pos SAR Sampit, Polairud, Pos AL serta BPBD namun nihil.
Pihak Polairud Posko Sampit sempat menurunkan unit kapal cukup besar, namun tantangan gelombang besar di perairan tersebut menghambat pergerakan.
"Hari kedua dan ketiga kita coba modifikasi menggunakan perahu karet kecil, sebagian daerah disisir dan alhamdulillah pada hari ini ditemukan jenazah tersebut," jelasnya.
Jenazah korban ditemukan oleh perahu-perahu tradisional masyarakat yang berani menyisir area yang lebih jauh. Korban bernama Muhran (63) ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa dan jenazah yang bisa diselamatkan hanya sekitar 70 persen.
Saat ditemukan pakaian korban sudah rusak parah namun masih dapat dikenali dan pakaian itulah yang ditunjukkan kepada keluarga korban, lalu pihak keluarga membenarkan pakaian itu yang dikenakan Muhran saat dikabarkan diterkam buaya pada Sabtu (22/11).
“Kami bersama tim terpadu bersyukur bisa membantu masyarakat menemukan korban, walaupun kondisinya memprihatinkan. Kami juga berterima kasih kepada masyarakat setempat yang ikut bahu-membahu dalam pencarian hingga korban dapat ditemukan,” lanjutnya.
Baca juga: Sesalkan tumpukan sampah di Taman Kota, DLH Kotim ajak masyarakat peduli
Multazam menambahkan, rencananya akan dilakukan visum terhadap korban, namun untuk detail teknisnya menjadi kewenangan pihak kepolisian.
Berdasarkan keterangan warga setempat, korban sudah terbiasa mencari udang dan hasil sungai lainnya di lokasi tersebut. Namun, tetap saja pengalaman tersebut tidak menjamin 100 persen aman dari bahaya.
Saat kejadian, ada saksi mata yang sempat melihat korban berteriak meminta tolong, namun karena yang dilawan adalah hewan predator, saksi tidak dapat melakukan pertolongan langsung.
Ia berharap kejadian ini dapat menjadi perhatian serius bagi masyarakat setempat, yakni dalam mencari rezeki di wilayah sungai harus lebih berhati-hati dan mengutamakan keselamatan, apalagi dalam setahun terakhir tercatat ada dua kejadian serangan buaya di Kecamatan Pulau Hanaut.
“Kami berharap memang edukasi kepada masyarakat, kalau sudah begini tentu dalam berusaha atau mencari penghidupan di wilayah sungai harus lebih berhati-hati karena kita tidak ingin ada masyarakat lagi yang menjadi korban,” tuturnya.
BPBD Kotim juga berencana untuk melakukan koordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan, mengingat kewenangan penanganan hewan predator berada di kementerian tersebut, agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Baca juga: Dua hari pencarian, korban serangan buaya di Pulau Hanaut belum ditemukan
Terpisah, Camat Pulau Hanaut Fahrujiansyah membenarkan korban serangan buaya di wilayahnya telah ditemukan pada Senin siang. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan jenazah yang tidak lengkap.
“Korban telah ditemukan walaupun kondisinya cukup memprihatinkan,” ujarnya.
Fahrujiansyah yang saat itu sedang menghadiri rapat di DPRD Kotim menyampaikan, berdasarkan informasi Kapolsek setempat, korban telah dibawa ke rumah duka.
Fahrujiansyah yang baru menjabat kurang dari dua bulan sebagai Camat Pulau Hanaut pun mengaku telah mendengar banyak cerita warga setempat mengenai kemunculan buaya, terutama saat menangkap ikan atau udang di kawasan pesisir.
“Buaya yang terlihat itu mulai dari yang kecil sampai ukuran besar sekitar lima meter, karena memang biasanya buaya muara itu ukurannya lebih besar dari buaya sungai,” ujarnya.
Namun, karena kejadian tersebut tergolong sering dan adanya tuntutan ekonomi sehingga warga tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai nelayan lokal.
Menurutnya, kejadian baru-baru ini pun kemungkinan bagi warga setempat dianggap sebagai apes saja. Sebab, warga juga mengetahui wilayah tersebut merupakan habitat alami buaya dan potensi bertemu dengan satwa itu di sungai cukup tinggi.
Kendati begitu, dengan insiden baru-baru ini ia mengimbau masyarakat agar lebih waspada. Ketika mencari ikan atau udang di sungai maupun pesisir pantai hendaknya tidak dilakukan seorang diri, dengan harapan ketika terjadi sesuatu ada lebih banyak orang yang bisa menolong.
“Lihat situasi dan kondisi sebelum pergi menangkap ikan dan kalau bisa bawa lebih banyak orang, jangan hanya berdua atau bahkan satu orang. Belajarlah dari kejadian baru-baru ini, karena tentunya kita berharap kejadian serupa tidak lagi terulang,” demikian Fahrujiansyah.
Baca juga: Dishub Kotim sambangi BPSDM Perhubungan jajaki kerja sama peningkatan SDM
Baca juga: Bupati Kotim tunggu hasil evaluasi BNNK terkait kades positif narkoba
Baca juga: Ketua DPRD Kotim sebut Provinsi Kotawaringin Raya sudah sangat dinantikan
Pewarta : Devita Maulina
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
