Logo Header Antaranews Kalteng

DPRD Kotim sebut kehadiran Beras Itah wujud kedaulatan pangan lokal

Selasa, 24 Maret 2026 18:55 WIB
Image Print
Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur Eddy Mashamy. ANTARA/HO-DPRD Kotim

Sampit (ANTARA) - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Eddy Mashamy menyatakan dukungan penuh atas peluncuran produk Beras Itah yang dinilai menjadi wujud kedaulatan pangan lokal dan kemandirian ekonomi daerah.

“Inisiatif hadirnya Beras Itah menunjukkan bahwa petani di Kotim sudah mulai berani mengambil kendali. Bukan cuma sekadar menanam, tapi juga membangun merek sendiri,” kata Eddy Mashamy di Sampit, Selasa.

Hal ini ia sampaikan sehubungan dengan peluncuran produk beras kemasan oleh para petani Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, yang diberi nama Beras Itah.

Sekaligus, menjadi merek beras kedua yang diluncurkan petani di Kotim setelah Beras Siam Epang 2022 lalu, dengan dukungan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim.

Eddy menyebut, kehadiran merek baru ini dinilai sebagai langkah berani para petani di Kotim, khususnya di wilayah Lampuyang, dalam mengambil kendali penuh atas rantai produksi pangan dari hulu hingga ke hilir.

“Langkah kolaborasi ini adalah bentuk nyata kemandirian ekonomi. Dengan merek Beras Itah, petani tidak lagi hanya bergantung pada tengkulak atau pasar luar, tapi punya kebanggaan (pride) atas produk tanah mereka sendiri,” ujarnya.

Disamping itu, penggunaan nama "Itah" dari Bahasa Dayak Ngaju yang berarti "Kita" dalam Bahasa Indonesia juga dinilai memberikan ikatan emosional yang kuat bagi masyarakat Kalimantan Tengah.

Baca juga: Legislator Kotim soroti minimnya fasilitas sanitasi sekolah

Eddy juga menyoroti tekstur beras yang pulen sebagai keunggulan kompetitif (USP) yang sangat kuat. Karakteristik ini diyakini mampu menarik minat segmen pasar yang luas, baik di tingkat regional maupun nasional.

Jika kualitas ini dijaga secara konsisten, Beras Itah diprediksi dapat menggeser dominasi beras kiriman dari luar pulau. Faktor kesegaran dan harga yang lebih kompetitif menjadi senjata utama produk lokal ini.

“Di pasar Kalimantan dan bahkan nasional, beras pulen punya segmen penggemar yang besar. Beras Itah bisa bersaing karena faktor kesegaran dan harga yang lebih kompetitif," lanjutnya.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga mengapresiasi keputusan petani untuk tetap mempertahankan varietas Siam Epang Lampuyang. Langkah ini dianggap sebagai upaya cerdas dalam melestarikan identitas kuliner dan warisan rasa lokal.

Mempertahankan varietas lokal di tengah gempuran benih hibrida pabrikan merupakan strategi penting untuk menjaga ketahanan ekosistem. Siam Epang telah memiliki nama besar yang menjadi jaminan kualitas bagi konsumen.

Eddy mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberikan dukungan nyata terhadap inovasi ini. Dukungan tersebut dapat dilakukan dengan memprioritaskan konsumsi beras lokal guna meningkatkan kesejahteraan para petani di Bumi Habaring Hurung.

“Bangga dengan inovasi petani Lampuyang! Hadirnya Beras Itah bukan sekadar jualan beras, tapi bukti kalau petani kita bisa berdaulat di pasar sendiri. Apalagi tetap mempertahankan Siam Epang yang legendaris,” demikian Eddy.

Baca juga: Usai Lebaran, harga bahan pangan di Sampit masih tinggi

Baca juga: Pantau Pantai Ujung Pandaran, Wabup Kotim ajak pengunjung bersihkan sampah

Baca juga: Harga cabai rawit di Sampit tembus Rp180.000 per kg usai Lebaran



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026