Logo Header Antaranews Kalteng

Atrial fibrilasi dan gejala awal yang berisiko picu stroke

Selasa, 12 Mei 2026 21:14 WIB
Image Print
Ilustrasi Stroke (ANTARA/Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis aritmia lulusan Universitas Indonesia dr. Dony Yugo Hermanto Sp.JP Subsp Ar (K) FIHA mengatakan gejala atrial fibrilasi atau gangguan irama jantung yang tidak teratur seringkali tidak diwaspadai padahal bisa menyebabkan gagal jantung dan stroke.

“Orangnya akan merasa berdebar-debar, gak nyaman kayak lari terus-terusan, dia pasti akan merasa lelah, jadi ada korslet di serambinya yang menyebabkan listrik jantungnya terganggu yang akhirnya menyebabkan si pompanya juga akan terganggu,” kata Dony dalam acara diskusi mengenai atrial fibrilasi di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan gangguan irama jantung seringkali ditemukan pada usia tua dengan komorbid terutama hipertensi. Gejalanya umumnya berdebar dengan denyut nadi di atas 100 denyut per menit, rasa tidak nyaman di dada, mudah lelah dan gejala lain sesak napas.

Atrial fibrilasi di Indonesia menurut Dony juga seringkali diabaikan karena deteksi dini yang sangat minim dan sering under diagnosis, dan juga sifat gejalanya yang hilang timbul sehingga tidak menjadi perhatian khusus.

Dony mengatakan atrial fibrilasi juga bisa disebabkan karena genetik dan generatif karena penuaan, dan juga hipertensi yang sering tidak terdeteksi sejak awal.

“Di Indonesia sering banget under diagnose kadang-kadang disepelekan hipertensi karena gak ada gejala, dilihatin aja. Alhasilnya dia bisa menyebabkan atrial fibrilaasi, penyakit jantung jelas bisa,” kata Dony.

Ia menjelaskan orang dengan gangguan irama jantung atau atrial fibrilasi memiliki peningkatan kejadian kematian 1,5-3,5 kali lipat dibandingkan orang dengan irama jantung normal.

Dony juga mengatakan mendeteksi atriall fibrilasi bisa dengan menggunakan alat pengukur tekanan darah dengan batas normal antara 50-100 denyut per menit. Selain itu, masyarakat juga perlu diedukasi untuk bisa meraba nadi sendiri atau Menari untuk menghitung detak normal yang ditandai dengan denyut teratur.

Atau bisa juga melihat dari smartwatch dengan grafik heart rate sehingga bisa terlihat ada peningkatan denyut jantung yang tiba-tiba tinggi tanpa ada aktivitas tertentu atau sedang merasakan emosi, maka perlu diwaspadai sebagai atrial fibrilasi.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026