Logo Header Antaranews Kalteng

Kader Posyandu di Kotim diminta bantu edukasi masyarakat bersihkan drainase cegah banjir

Kamis, 21 Mei 2026 16:00 WIB
Image Print
Ketua TP Posyandu Kotim Khairiah Halikinnor mengajak para ibu rumah tangga agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan, khususnya drainase, untuk mencegah banjir, Kamis (21/5/2026). ANTARA/Devita Maulina

Sampit (ANTARA) - Tim Pembina (TP) Posyandu Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, meminta para kader posyandu turut berperan aktif mengedukasi masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan, khususnya drainase, sebagai upaya mencegah banjir.

“Kader diharapkan bisa ikut mengedukasi masyarakat di wilayah masing-masing. Karena tolok ukur di kelurahan maupun desa itu sering kali dilihat dari kadernya. Ini juga alasan pemerintah membentuk 6 SPM, karena kader adalah salah satu ujung tombak tercapainya pembangunan di Indonesia,” kata Ketua TP Posyandu Kotim Khairiah Halikinnor di Sampit, Kamis.

Hal ini ia sampaikan saat melaksanakan pembinaan terkait program Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Posyandu Anggur, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Arahan ini sehubungan dengan banjir yang belakangan kerap merendam sejumlah wilayah di Kota Sampit.

Khairiah menjelaskan, peran kader posyandu kini semakin luas sejak diterapkannya 6 SPM dalam kegiatan posyandu, sehingga persoalan lingkungan seperti drainase juga menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian.

Menurutnya, kondisi banjir yang kerap terjadi di Sampit tidak hanya dipengaruhi tingginya intensitas hujan, tetapi juga akibat drainase yang tersumbat sampah sehingga aliran air menjadi tidak lancar.

“Dalam enam bidang SPM terdapat sektor pekerjaan umum yang berkaitan langsung dengan persoalan drainase dan sanitasi lingkungan, sehingga kader posyandu diharapkan dapat membantu pemerintah menyampaikan edukasi kepada masyarakat,” tuturnya.

Khairiah menilai, kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan masih perlu ditingkatkan, terutama terkait kebiasaan membuang sampah sembarangan ke selokan atau parit yang menjadi salah satu penyebab utama tersumbatnya drainase.

“Misal kalau membuang sampah, baik itu sampah rumah tangga maupun daun-daun kering hasil menyapu halaman, tolong jangan dibuang ke selokan karena itulah salah satunya yang dapat membuat drainase tersumbat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sepenuhnya menyalahkan pemerintah ketika banjir terjadi, sebab persoalan tersebut membutuhkan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.

Baca juga: Mobil pompa dikerahkan untuk atasi drainase tersumbat di Sampit

“Nanti ketika banjir menyalahkan pemerintah, padahal drainase kita sendiri penuh dengan sampah. Maka dari itu tolong perhatiannya. Karena untuk mengatasi permasalahan seperti banjir itu perlu tanggung jawab bersama. Kalau hanya mengharap pemerintah agak sulit, apalagi sekarang sedang efisiensi anggaran,” tegasnya.

Khairiah secara khusus mengimbau para ibu rumah tangga untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah rumah tangga, mengingat sebagian besar aktivitas penghasil sampah berasal dari dapur dan kegiatan membersihkan rumah maupun halaman.

Ia meminta sampah rumah tangga dibuang pada tempat yang telah disediakan dan tidak dibuang ke saluran air, sementara sampah organik seperti daun-daun kering dianjurkan untuk dikubur agar dapat dimanfaatkan menjadi pupuk alami.

“Makanya itu saya mengimbau, terutama kepada ibu-ibu rumah tangga. Karena ibu-ibu ini adalah kadang-kadang pengumpul sampah itu karena mereka di dapur, jadi tolong sampahnya ketika selesai memasak atau membersihkan halaman tolong dibuang ke tempat semestinya,” ucapnya.

Selain lebih ramah lingkungan, pengelolaan sampah organik dengan cara dikubur juga dinilai dapat mengurangi kebiasaan membakar sampah yang berpotensi menimbulkan polusi udara di lingkungan permukiman.

“Khususnya untuk sampah organik seperti daun kering itu kalau bisa dikubur supaya bisa menjadi pupuk alami juga, hindari cara membakar karena itu dapat menimbulkan polusi udara,” lanjutnya.

Khairiah berharap masyarakat semakin sadar bahwa menjaga kebersihan drainase merupakan langkah sederhana namun penting untuk mengurangi risiko banjir, terutama saat curah hujan tinggi melanda wilayah Sampit dan sekitarnya.

“Itu yang saya harapkan dengan masyarakat. Supaya jangan teriak-teriak banjir, padahal kadang-kadang banjir itu karena diri kita sendiri. Karena sebenarnya banjir di Sampit ini bisa cepat surut kalau drainasenya lancar dan tidak dibarengi dengan air pasang,” demikian Khairiah.

Baca juga: PT Globalindo Alam Perkasa perkuat pencegahan karhutla melalui sosialisasi dan simulasi bersama masyarakat

Baca juga: BPS Kotim siapkan 352 petugas untuk Sensus Ekonomi 2026

Baca juga: Sapi Kurban Presiden untuk Sampit berbobot hampir satu ton



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026