Logo Header Antaranews Kalteng

DPKP Kotim siapkan restorasi perkebunan kelapa dalam

Minggu, 7 Juni 2026 05:59 WIB
Image Print
Kepala DPKP Kotim Yephi Hartady Periyanto. (ANTARA/Devita Maulina)

Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) menyiapkan program restorasi perkebunan kelapa dalam, guna memperkuat rantai hilirisasi yang kini mulai berkembang di daerah itu.

“Sekarang ini kita merencanakan mulai dari hulu sampai hilir, dengan kehadiran pemerintah daerah lewat DPKP, khususnya bidang perkebunan kedepannya bisa lebih fokus. Kalau dulu programnya itu tidak terstruktur,” Kepala DPKP Kotim Yephi Hartady Periyanto di Sampit, Minggu.

Ia menjelaskan, program restorasi yang disiapkan pemerintah daerah bukan hanya sekadar mempertahankan perkebunan yang ada, tetapi juga mengembalikan kondisi sektor kelapa dalam seperti masa jayanya dahulu, bahkan diharapkan bisa berkembang lebih baik lagi.

Kelapa dalam merupakan salah satu komoditas unggulan bagi masyarakat di wilayah selatan Kotim. Berdasarkan pemetaan yang pihaknya lakukan, setidaknya ada tiga kecamatan yang memiliki pertanian kelapa dalam yang cukup luas.

Tiga kecamatan tersebut adalah Pulau Hanaut, Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan, dengan total luasan lebih dari 20.000 hektare.

“Jadi cukup luas khususnya yang ada di wilayah Pulau Hanaut, kalau tidak salah itu di Desa Bapinang Hilir Laut dan Hantipan serta sekitar kawasan Sungai Kelampan itu mayoritas memang di sana banyak pertanaman kelapa dalam,” ucapnya.

Bahkan, ia menyampaikan adanya peluang perluasan perkebunan karena saat ini mulai ada kepastian hilirisasi hasil kelapa dalam melalui keberadaan perusahaan pengolahan di Kotim, yakni PT Samuda Coco yang telah menyerap bahan baku dari petani.

“Harapan kita memang akan ada perluasan dan perluasan ini sebenarnya juga ditunjang karena adanya kepastian hilirisasi terkait hasil panen kelapa dalam itu sendiri, yang mana kita sama-sama mengetahui saat ini sudah ada perusahaan yang menerima bahan baku kelapa dalam yaitu PT Samuda Coco,” lanjutnya.

Baca juga: Bulog Kotim tambah gudang demi optimalkan penyerapan gabah petani

Perusahaan tersebut, lanjutnya, saat ini masih terus pengembangan, baik dari sisi kapasitas produksi maupun diversifikasi produk olahan berbahan dasar kelapa dalam sehingga dinilai mampu meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.

Kapasitas produksi perusahaan yang sebelumnya sekitar 60 ton per hari ditargetkan meningkat menjadi 100 ton per hari sehingga kebutuhan bahan baku dipastikan semakin besar dan membuka peluang pengembangan kebun rakyat.

“Jadi ke depannya itu bisa dipastikan bahwa seluruh bahan baku itu pasti terserap. Jadi tinggal kita memproyeksi pengembangan atau perluasan saja di perkebunannya,” jelas Yephi.

Selain itu, pemerintah daerah juga masih membuka peluang masuknya investor lain guna memperkuat industri hilir kelapa dalam di Kotim. Keberadaan industri pengolahan dinilai menjadi faktor penting untuk menjamin kepastian pasar sekaligus meningkatkan harga jual hasil petani.

DPKP Kotim pun saat ini mulai merintis sistem pemasaran dan penguatan tata kelola sektor kelapa dalam secara lebih terstruktur, mengingat selama ini pengembangan komoditas tersebut dinilai masih berjalan sporadis dan belum memiliki program berkelanjutan.

Yephi mengakui, hingga kini pihaknya belum memiliki data pasti mengenai jumlah petani kelapa dalam di Kotim karena selama bertahun-tahun belum ada program khusus yang fokus membina dan mendampingi petani di sektor tersebut.

“Baru sekarang ini kita merencanakan memang mulai dari hulu sampai hilir itu, dan nanti akan fokus lagi,” imbuhnya.

Ia menambahkan, ke depan DPKP akan menyiapkan petugas khusus untuk mengawal keberhasilan program restorasi kelapa dalam, termasuk menyusun grand design atau master plan pengembangan jangka panjang yang mencakup perluasan kebun, peningkatan kualitas sumber daya manusia petani hingga pembentukan kelembagaan yang menjaga stabilitas harga.

Selama ini program pengembangan kelapa dalam belum berjalan terarah dan sebagian besar hanya bersifat bantuan sporadis melalui pokok pikiran anggota DPRD tanpa adanya kesinambungan program.

“Makanya di tahun ini dan seterusnya program-program seperti itu akan kita jalankan,” demikian Yephi.

Baca juga: Pemkab Kotim siapkan pembahasan APBD Perubahan lebih awal

Baca juga: Bupati Kotim minta warga sampaikan kondisi ekonomi riil saat Sensus Ekonomi

Baca juga: Jamaah haji Kotim dijadwalkan tiba bertahap mulai 12 Juni



Pewarta :
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026