Artikel - Lapangan Tiananmen Jadi Objek Wisata Dunia

id Lapangan Tiananmen Jadi Objek Wisata Dunia

Artikel - Lapangan Tiananmen Jadi Objek Wisata Dunia

Delegasi wartawan Indonesia dari Bali, NTB, dan NTT di Lapangan Tiananmen Tiongkok di jantung Kota Beijing. (Foto Laurensius Molan)

Hampir setiap hari, ribuan orang Tiongkok dan wisatawan manca negara datang ke lapangan merah ini

Beijing (Antara Kalteng) - Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Lapangan Tiananmen Tiongkok di jantung Kota Beijing, delegasi wartawan Indonesia dari Bali, NTB, dan NTT begitu kaget ketika melihat ribuan orang lalu-lalang di lapangan merah tersebut.

"Ada apa ini?" demikian celetuk sejumlah wartawan saat turun dari bus pada hari Senin (25/5) menjelang pukul 11.00 waktu setempat.

"Ini Lapangan Tiananmen yang sangat terkenal dengan tragedi pembantaian para demonstran pada tahun 1989," kata Henry Somantri, anggota delegasi dari koran berbahasa Mandarin yang terbit di Denpasar, Bali.

Demonstrasi yang dipimpin para mahasiswa di Lapangan Tiananmen antara 15 April dan 4 Juni 1989 itu akibat dari ketidakstabilan ekonomi dan politik serta korupsi yang merajalela di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada saat itu.

Lebih dari 3.000 orang dilaporkan tewas pada saat itu akibat tindakan bersenjata yang dilakukan militer Tiongkok yang tunduk di bawah pemerintahan yang otoriter. Protes para mahasiswa pada saat itu menyusul kematian Hu Yaobang, Sekretaris Partai Komunis yang mengundurkan diri akibat tekanan politik dari Deng Xiaoping.

Pada tanggal 26 April 1989, editorial Harian Rakyat menunduh mahasiswa merencanakan kekacauan. Pernyataan ini yang menyulut kemarahan mahasiswa yang diperparah lagi dengan penolakan penguasa yang otoriter untuk bertemu dengan Perdana Menteri Li Peng, yang dinilai sebagai saingan politik Hu Yaobang pada saat itu.

Sekitar 50.000 mahasiswa mulai turun ke jalan di Kota Beijing pada tanggal 27 April 1989 tanpa menghiraukan perintah bubar yang diumumkan penguasa.

Pada tanggal 4 Mei 1989, sekitar 100.000 pelajar dan pekerja berparade di Kota Beijing meminta pemerintah untuk mereformasi media dan mengadakan dialog dengan wakil pilihan mahasiswa. Pemerintah menolak permintaan tersebut. Namun, setuju untuk berbicara dengan anggota dari organisasi pelajar yang ditunjuk.

Pada tanggal 13 Mei, banyak kelompok mahasiswa menempati lapangan Tiananmen dan memulai protes lapar, meminta pemerintah menarik tuduhan yang dirilis di Harian Rakyat dan memulai pembicaraan dengan wakil mahasiswa. Ratusan ribu mahasiswa bersama penduduk Beijing memprotes pemerintah yang otoriter tersebut.

Meskipun pemerintah mengumumkan undang-undang darurat pada tanggal 20 Mei 1989, demonstrasi terus berlanjut. Setelah para pemimpin Komunis berunding, keluarlah perintah menggunakan kekuatan militer untuk memecahkan krisis tersebut.

Tentara Pembebasan Rakyat dan tank-tank dari Brigade 27 dan 28 dikirim untuk mengendalikan kota. Pasukan militer ini diserang oleh para buruh dan mahasiswa Tiongkok di jalan-jalan kota Beijing dan kekerasan yang muncul sesudah itu sehingga mengakibatkan kematian di antara penduduk sipil dan militer.

Pemerintah Tiongkok mengakui bahwa beberapa ratus orang mati dalam insiden tersebut. Badan Intelijen AS (CIA) memperkirakan 800 orang atau berbeda 400 sesuai dengan versi penguasa, sedang Palang Merah Tiongkok memperkirakan 2.600 orang tewas.

Para mahasiswa pengunjuk rasa mengklaim bahwa lebih dari 7.000 orang yang terbunuh. Setelah kekerasan ini, pemerintah melakukan penangkapan di mana-mana untuk menekan sisa-sisa pendukung gerakan tersebut.

Pemerintah kemudian memilih jalan untuk membatasi akses pers asing dan mengendalikan liputan atas kejadian-kejadian di pers daratan Tiongkok.

Peristiwa lapangan merah Tiananmen itu tentu tidak dilupakan begitu saja oleh para mahasiswa Tiongkok dan agaknya tetap dikenang pula oleh dunia internasional. Namun, Lapangan Tiananmen yang terkenal angker itu, kini malah jadi objek wisata dunia.

"Hampir setiap hari, ribuan orang Tiongkok dan wisatawan manca negara datang ke lapangan merah ini," ujar Li Meng, pemandu delegasi wartawan Indonesia yang ditugaskan khusus oleh Konjen RRT di Denpasar, Bali, untuk menemani delegasi yang dipimpin oleh I Made Tinggal Karyawan, Kepala Biro Antara Bali.

Delegasi wartawan pun harus berdesak-desakan di pintu masuk untuk mendapatkan karcis masuk ke Lapangan Tiananmen yang dijaga ketat oleh petugas keamanan setempat.

Di bawah terik matahari Beijing, delegasi wartawan Indonesia pun berkeliling Lapangan Tiananmen yang luas itu sebelum melangkah ke Istana Kuno yang terletak di depan Lapangan Merah yang menjadi simbol negara Tiongkok tersebut.

Istana Kuno seluas sekitar 720.000 meter persegi itu terdiri atas tujuh bangunan utama dan 800 bangunan pendamping dengan jumlah kamar sebanyak 8.707 buah. Masing-masing istana terdiri atas lima pintu. Pintu utama, menurut legenda Tiongkok, hanya dilalui oleh Sang Raja.

Istana Kuno ini sering dilukiskan sebagai "Kota Terlarang Ungu" atau "Istana Terlarang" yang terletak di jantung Kota Beijing berpenduduk sekitar 21 juta jiwa itu. Ini merupakan istana kerajaan selama periode Dinasti Ming dan Dinasti Qing.

Istana Kuno ini merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO yang ditetapkan pada tahun 1987. UNESCO kemudian menyebutnya sebagai "Istana Kerajaan Dinasti Ming dan Qing".

Lokasi tersebut dikelilingi oleh suatu wilayah luas yang disebut Kota Kerajaan. Walaupun tidak lagi ditempati oleh kalangan bangsawan, Kota Terlarang tetap merupakan simbol dari kekuasaan Tiongkok. Gambarnya sendiri muncul pada lambang negara Republik Rakyat Tiongkok.

Museum Istana sekarang ini merupakan salah satu lokasi yang paling menarik wisatawan di dunia. Kota Terlarang memiliki banyak nama. Di Tiongkok, lokasi tersebut umum dikenal dengan nama Gu Gong atau bekas istana.

Meskipun kelelahan di bawah terik sinar matahari, delegasi wartawan Indonesia akhirnya berhasil mengelilingi Istana Terlarang itu sampai tuntas.

"Tiananmen sekarang sudah mulai menyapa dunia, yang terlihat dari ribuan wisatawan domestik dan mancanegara datang dan berkunjung di tempat ini," komentar Ketua Delegasi Wartawan Indonesia I Made Tinggal Karyawan.

Ia menilai pemerintahan Tiongkok sangat luar biasa dalam menata memori sejarahnya sehingga tetap dikenang oleh dunia lewat mata para wisatawan yang datang dan melihat Lapangan Tiananmen sampai ke Istana Kuno yang bersejarah itu.

"Lapangan Tiananmen yang menjadi pintu masuk utama di utara Istana Kuno, tampak hanya biasa-biasa saja jika dilihat hanya selayang pandang. Namun, di balik itu, memiliki nilai sejarah yang sangat fundamental bagi Tiongkok yang kemudian mengabadikannya menjadi objek wisata dunia," ujarnya.


Pewarta :
Editor : Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.