Kardiovaskuler? Penyebab Kematian Terbesar Di Indonesia

id RS UGM, Kardiovaskuler, Borneo, Kedokteran

Kardiovaskuler? Penyebab Kematian Terbesar Di Indonesia

Dokumentasi sejumlah dokter, wartawan dan pengunjung menyaksikan secara langsung operasi Hybrid Gangguan Jantung Ventrical Septal Defect (VSD) di Aula Rumah Sakit Moehamad Hoesin Palembang, Sumsel, Senin (4/1). (ANTARA FOTO/ Feny Selly)

Yogyakarta (Antara Kalteng) - Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Ova Emilia, mengatakan, hingga saat ini penyakit kardiovaskuler masih menjadi penyakit tidak menular utama penyebab kematian.

"Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian nomor satu," kata Ova Emilia saat membuka Simposium Kardiologi "Atrial Fibrilation Awareness" di RS Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat.

Ia menjelaskan penyakit kardiovaskuler adalah penyakit yang disebabkan gangguan pada jantung dan pembuluh darah, termasuk diantaranya adalah penyakit jantung koroner, gangguan irama jantung (aritmia), gagal jantung, hipertensi dan stroke. Di Indonesia penyakit jantung koroner (PJK) mencapai 26,4 persen.

"Jantung koroner yang dikelompokkan penyakit sistem sirkulasi merupakan penyebab utama dan pertama dari seluruh kematian mencapai 26,4 persen, angka ini empat kali lebih tinggi dari angka kematian akibat kanker," kata dia.

Ia menyebutkan pada 2008 diperkirakan 17,3 juta kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler dan lebih dari 3 juta kematian tersebut terjadi pada usia di bawah 60 tahun. Kementerian Kesehatan RI pada 2013 juga menyebut penyakit kardiovaskuler masih termasuk dalam 10 penyakit tidak menular dengan prevalensi tertinggi. 

Simposium Kardiologi "Atrial Fibrilation Awareness" merupakan kegiatan "Annual Scientific Meeting" (ASM) 2017. Simposium itu digelar dalam rangkaian Dies Natalis ke-5 RS UGM, Dies ke-71 Fakultas Kedokteran UGM dan HUT ke-35 RSUP Dr. Sardjito.

Sementara itu, ketua umum ASM 2017, Elisabeth Siti Herini mengatakan penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit dengan mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Oleh sebab itu, menurut dia, upaya pencegahan terhadap penyakit tersebut harus terus dilakukan.

"Pencegahan penyakit kardiovaskuler, baik primer maupun sekunder, berhubungan erat dengan pengendalian faktor risiko antara lain hipertensi, dislipidemia, dan diabetes mellitus," kata dia.

Salah satu penyakit kardiovaskuler yang memiliki morbiditas tinggi, menurut dia, adalah atrial fibrillasi. Atrial fibrillasi adalah kelainan irama jantung yang disebabkan timbulnya berbagai macam fokus ektopik pada atrium. 

Kelainan tersebut, kata dia, merupakan kelainan irama jantung dengan prevalensi terbanyak sekaligus dapat menyebabkan komplikasi, antara lain gagal jantung, stroke. "Pada akhirnya angka kematian semakin bertambah tinggi," kata dia.

Pewarta :
Editor : Rachmat Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar