PLTS solusi menangani ketiadaan listrik desa terpencil

id DPRD Kalteng,Kalimantan Tengah,DPRD Kalimantan Tengah,PLTS Desa,Desa Terpencil

Anggota DPRD Kalimantan Tengah, Anggoro Dian Purnomo (FOTO ANTARA Kalteng/Ronny NT)

Palangka Raya (Antaranews Kalteng) - Anggota DPRD Kalimantan Tengah Anggoro Dian Purnomo mengingatkan, Pemerintah Provinsi dan Perusahaan Listrik Negara segera membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di desa terpencil.

Permintaan segera itu karena lembaga DPRD Kalteng telah berkali-kali mengusulkan pembangunan PLTS dalam mengatasi ketiadaan listrik di desa-desa terpencil, kata Anggoro, di Palangka Raya, Jumat.

"Kami setiap melakukan reses ke Kabupaten Katingan maupun Gunung Mas, ketiadaan listrik di desa terpelosok selalu menjadi keluhan masyarakat. Jadi, kami ingatkan kembali agar Pemprov dan PLN segera merealisasikan usulan pembangunan PLTS," tambahnya.

Menurut anggota Komisi B DPRD Kalteng itu, adanya usulan membangun PLTS karena telah mempertimbangkan kemampuan anggaran Pemprov dan PLN, sebab biaya membangun PLTS jauh lebih murah dibandingkan pembangkit listrik lainnya.

Dia mengatakan, mengatasi keterisolasian suatu wilayah bukan hanya dari segi infrastruktur, tapi juga listrik. Hal itu lah yang mendasari kalangan DPRD Kalteng dalam berbagai kesempatan selalu mengusulkan pembangunan PLTS.

Baca juga: Meteran listrik curian diduga dijual ke PBS, kata Legislator Kalteng

"Sampai sekarang ini masih sangat banyak desa di Kalteng yang belum dialiri listrik. Itulah kenapa kita juga ikut memikirkan solusi dari ketiadaan listrik," kata Anggoro.

Wakil rakyat Kalteng dari daerah pemilihan I meliputi Kota Palangka Raya, Kabupaten Katingan dan Gunung Mas itu juga mengingatkan, pemerintah kabupaten perlu memperhatikan secara serius masalah infrastruktur ke desa-desa.

"Jika infrastruktur dan listrik tersedia di desa, kami yakin akan mendorong desa bisa menggerakkan potensinya menjadi desa mandiri," demikian Anggoro.

Baca juga: DPRD Ingin 273 Desa se-Kalteng Dibangun PLTS

Pewarta :
Editor: Rachmat Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar