Palangka Raya (ANTARA) - Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Tantawi Jauhari meminta pemerintah kota untuk segera mengatasi kelangkaan BBM jenis Pertalite di daerah ini.
"Saya mendapat informasi, bahwa beberapa pekan terakhir ini warga kesulitan mendapatkan BBM jenis Pertalite. Bahkan di SPBU juga mengalami antre yang panjang," katanya di Palangka Raya, Sabtu.
Dia mengungkapkan, kelangkaan BBM jenis Pertalite ini membuat aktivitas warga menjadi terhambat, terutama bagi mereka yang sangat bergantung pada kendaraan.
Ia menduga, permasalahan ini muncul dari ketidakseimbangan antara permintaan yang tinggi dan pasokan BBM jenis PErtalite yang terbatas di Kota Palangka Raya.
“Masalah antrean panjang ini bukan hanya mengganggu aktivitas warga, tapi juga berpotensi menghambat pergerakan ekonomi. Pemerintah harus segera mengambil tindakan yang cepat dan tepat," ucapnya.
Tantawi juga menduga, adanya pengurangan suplai dari Pertamina dan meningkatnya konsumsi BBM akibat aktivitas pembangunan, termasuk sektor pertambangan dan konstruksi.
Untuk itu ia menilai, perlu adanya evaluasi kebutuhan BBM secara menyeluruh agar distribusi dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat dan meghindari potensi penimbunan atau penyalahgunaan BBM.
“Distribusi BBM di Kota Palangka Raya ini harus diawasi dengan ketat. Jika perlu, lakukan sidak ke SPBU untuk memastikan alur penyaluran berjalan sesuai aturan,” ujarnya.
Tantawi juga mengimbau masyarakat untuk tidak memborong BBM secara berlebihan karena hal itu justru akan memperparah kelangkaan.
Selain itu ia juga berharap adanya sinergi yang kuat antara Pemerintah Kota Palangka Raya, pemilik SPBU dan Pertamina, agar persoalan kelangkaan BBM ini segera teratasi dan tidak berkepanjangan.
"Saya minta masyarakat tidak panik, jangan memborong BBM tindakan seperti ini karena akan memperparah keadaan. Beli dan gunakan BBM dengan bijak," demikian Tantawi.
DPRD Palangka Raya minta pemerintah segera atasi kelangkaan BBM
Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Tantawi Jauhari. ANTARA/Rajib Rizali
