
Wabup Kotim blusukan salurkan bantuan korban rumah roboh

Sampit (ANTARA) - Insiden rumah roboh akibat angin kencang di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah yang terjadi pada Rabu (4/2) menjadi atensi pemerintah daerah setempat, khususnya Wakil Bupati Kotim Irawati yang blusukan untuk menyalurkan bantuan bagi korban.
“Laporan dari Kalaksa BPBD bahwa ada satu rumah yang roboh total akibat angin kencang kemarin sore, hari ini saya bersama Dinas Sosial dan BPBD melakukan peninjauan langsung ke lokasi sekaligus menyalurkan sedikit bantuan,” kata Irawati di Sampit, Kamis.
Peristiwa yang cukup memprihatinkan tersebut berlokasi di Jalan Madiun Ngawi, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Selain rumah yang roboh itu, sebenarnya ada bangunan lain yang juga terdampak tetapi masih bisa ditempati oleh pemiliknya.
Meskipun lokasi berada di kawasan perkotaan, akses menuju rumah korban ternyata sangat terbatas. Wabup bersama jajaran Dinas Sosial dan BPBD harus berjalan kaki sejauh 50 meter karena kendaraan roda empat tidak bisa menjangkau titik lokasi.
Kehadiran orang nomor dua di Kotim ini sekaligus untuk memberikan bantuan darurat berupa sembako dan sedikit uang tunai yang diharapkan setidaknya bisa memotivasi para korban agar tetap semangat melanjutkan hidup.
Selain bantuan fisik, Irawati yang prihatin melihat kondisi ekonomi korban juga menawarkan solusi pendidikan bagi anak mereka. Menurutnya, kondisi keluarga tersebut memang masuk dalam kategori sangat layak untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah.
"Saya mengantarkan bantuan sembako dan sedikit kebutuhan mereka. Mengingat beberapa hari lagi kita sudah mau masuk bulan Ramadhan, kami ingin memastikan kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi di masa sulit ini," imbuhnya.
Baca juga: Pemkab Kotim menang gugatan parkir elektronik PPM di tingkat PK
Ia melanjutkan, Pemkab Kotim sebenarnya memiliki program bedah rumah untuk membantu warga seperti ini. Hal ini juga sudah dilaporkan ke Bupati Kotim agar yang bersangkutan bisa mendapat bantuan berupa program bedah rumah.
Terkait mekanisme perbaikan rumah biasanya akan melibatkan Dinas PUPR, BPBD dan Dinas Sosial. Namun, semua itu tetap bergantung pada ketersediaan anggaran dan kelengkapan aturan yang berlaku di pemerintahan.
Akan tetapi, terdapat kendala administrasi karena pemilik rumah masih menggunakan KTP luar daerah, sementara bantuan tersebut mensyaratkan administrasi kependudukan Kotim.
“Saya sudah menyarankan agar merubah administrasi kependudukan karena beliau sudah tinggal di Kotim dari 2017. Ketentuannya, jika menetap 6 bulan harus ganti KTP agar bisa mendapat manfaat bantuan pemerintah hingga layanan kesehatan,” ujarnya.
Irawati juga menyoroti status lahan yang menurut pemiliknya sudah ditebus namun sertifikatnya masih atas nama orang lain. Hal ini menjadi catatan penting karena syarat bedah rumah mengharuskan sertifikat atau SKT atas nama pribadi pemilik rumah.
Ia pun mendorong pemilik rumah agar segera mengurus perpindahan administrasi kependudukan dan sertifikat tanah, sehingga bantuan dari pemerintah daerah bisa disalurkan.
Meskipun, saat saran itu disampaikan, pemilik rumah terlihat masih ragu dan mengkhawatirkan biaya untuk pemindahan administrasi kependudukan.
“Kami juga menegaskan bahwa mengurus administrasi kependudukan itu gratis, cukup datang ke dinas terkait. Untuk itu, saya mengimbau masyarakat Kotim agar tidak mudah percaya dengan calo. Cukup lengkapi persyaratan dan urus sendiri tanpa biaya,” pungkasnya.
Baca juga: Sebanyak 480 Usulan masuk dalam musrenbangcam Mentawa Baru Ketapang
Di sisi lain, Zainal selaku pemilik rumah menjelaskan bahwa saat kejadian dirinya sedang bekerja di Jalan Jenderal Sudirman kilometer 35. Ia baru mengetahui kronologi detail peristiwa tersebut setelah mendapatkan cerita dari sang istri dan warga di sekitar lokasi.
“Kata pekerja bangunan yang tak jauh dari sini, suaranya sangat nyaring seperti hujan deras tapi ternyata angin berputar-putar. Kejadiannya sebelum hujan lebat, rumah langsung terangkat dan roboh ke samping,” kisah Zainal.
Ia meneruskan, saat kejadian hanya ada sang istri di dalam rumah. Kemudian angin kencang datang dari arah utara ke selatan. Sang istri sempat melihat atap teras terangkat dan segera lari menyelamatkan diri.
Ketika sang istri menoleh kembali ke rumah mereka, bagian atap teras rumah sudah terbang terbawa angin yang berputar-putar. Lalu tak berapa lama rumah mereka terangkat, kemudian jatuh ke tanah dan roboh.
“Informasi dari warga sini kejadiannya sekitar pukul 15:30 WIB, sebelum hujan deras. Kejadiannya cuma sebentar saja, sekitar enam menit,” imbuhnya.
Akibat kejadian ini, semua harta benda termasuk satu unit sepeda motor milik Zainal mengalami kerusakan parah karena tidak sempat diamankan. Seluruh bangunan dengan pondasi kayu ulin kini nyaris rata dengan tanah dan menyisakan puing-puing.
Kerugian bangunan saja diperkirakan sekitar Rp50 juta karena banyak menggunakan kayu ulin. Zainal pun tak ingin menuntut banyak dari pemerintah daerah setempat, mengingat insiden ini disebabkan faktor alam.
Namun, ia berharap bisa kembali membangun rumahnya bersama keluarga meski harus memulai lagi dari awal, sedikit demi sedikit.
“Untuk sementara istri saya mengungsi di rumah tetangga, rencana ke depan kalau ada dana akan dibangun sedikit demi sedikit,” demikian Zainal.
Baca juga: Dinas SDABMBKPRKP Kotim wajibkan Perumdam kembalikan galian pipa ke kondisi awal
Baca juga: Kejati periksa Ketua KPU Kalteng telusuri dugaan korupsi dana hibah KPU Kotim
Baca juga: Legislator Kotim soroti pemasangan pipa air berdampak pada kondisi jalan
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
