Sampit (ANTARA) - Kemeriahan perayaan Imlek di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mencapai puncaknya melalui atraksi barongsai memukau yang berhasil menyatukan ribuan warga dari berbagai latar belakang keyakinan di halaman Kelenteng Harmoni Kehidupan.

“Hari ini kami merayakan Cap Go Meh yang merupakan puncak sekaligus penutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek. Cap Go Meh ini perayaan universal. Namun bagi kami umat Konghucu, sebelum merayakan diawali dengan ibadah bersama terlebih dahulu,” kata Pemuka Agama Khonghucu Wen Shi Suhardi di Sampit, Selasa.

Agenda yang diinisiasi oleh Majelis Agama Konghucu ini sejatinya merupakan perayaan Cap Go Meh, yakni penutup rangkaian Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Acara dimulai dengan ibadah ritual Yuan Xiao Jie sebagai ungkapan syukur yang khidmat.

Suasana malam seketika bergemuruh ketika tabuhan perkusi tradisional mengiringi liukan empat barongsai berwarna cerah. Ratusan pasang mata tampak terhipnotis oleh ketangkasan para penari yang tampil enerjik di hadapan publik.

Interaksi jenaka antara kostum singa dan penonton memicu gelak tawa serta tepuk tangan riuh. Tradisi berbagi pun terlihat kental saat warga berebut memberikan angpao melalui mulut barongsai sebagai simbol keberuntungan dan apresiasi seni.

Pemandangan menarik terlihat dari komposisi penonton yang tidak didominasi oleh satu kalangan saja. Toleransi di Sampit begitu nyata saat warga lintas agama berbaur tanpa sekat, membuktikan bahwa seni dan budaya mampu menjadi jembatan persaudaraan.

Baca juga: Lapas Sampit bekali keterampilan kerja untuk warga binaan memulai usaha

Wenshi Suhardi, menekankan bahwa meskipun ritual ibadah bersifat internal, namun kegembiraan perayaannya milik bersama. Hal ini tercermin dari jadwal acara yang disusun dengan sangat toleran.

“Untuk menghormati umat Muslim yang melaksanakan tarawih, pertunjukan barongsai kami mulai sekitar pukul 21.00 WIB,” ujarnya.

Selain atraksi fisik, perayaan ini juga menyuguhkan kehangatan melalui sajian Lontong Cap Go Meh. Kuliner khas ini bukan sekadar hidangan, melainkan simbol akulturasi dan semangat berbagi kebahagiaan melalui santap malam bersama yang inklusif.

Kemeriahan semakin lengkap dengan penampilan bakat dari anak-anak Sekolah Minggu Konghucu yang membawakan pentas seni. Di balik keriuhan tersebut, terselip doa mendalam untuk stabilitas dan kedamaian bangsa Indonesia ke depannya.

“Kita berharap semua diberikan kesehatan dan kesejahteraan. Untuk negeri kita, semoga dijauhkan dari bencana, konflik intoleransi, serta paham radikalisme. Harapannya negara kita selalu kondusif, harmonis, dan rukun,” demikian Wenshi Suhardi.

Baca juga: Tim Wasev tekankan pentingnya antisipasi dampak cuaca dalam pelaksanaan TMMD di Kotim

Baca juga: Evakuasi buaya tangkapan warga di Ujung Pandaran terhambat transisi kewenangan

Baca juga: Sekolah Rakyat di Kotim targetkan 1.080 murid baru