Riban Dua Kali Jadi Wali Kota Oleh Saidulkarnain Ishak

id Riban Dua Kali Jadi Wali Kota Oleh Saidulkarnain Ishak

Saidulkarnain Ishak, (FOTO ANTARA Kalteng/Ronny NT)

Palangka Raya, 14/6 (Antara) - Pemilihan kepala daerah di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya usai sudah dan rakyat telah menentukan pilihannya.

Pasangan HM Riban Satia-Mofit Saptono terpilih kembali dengan meraih 33.146 suara (31,52 persen) dari 105.160 suara sah.

Terpilihnya kembali Riban yang sudah lima tahun memimpin calon ibu kota Indonesia itu menunjukkan bahwa keinginan masyarakat untuk melanjutkan pembangunan kesejahteraan rakyat semakin nyata dan sekaligus mendambakan kemajuan lima tahun mendatang.

Hasil rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Palangka Raya disebutkan, Rimo mengantongi 33.146 suara (31,52 persen), disusul Tuty Dau-Maryono (Damar) 31.591 (30,04 persen), Faridawaty Darland Atjeh-Sodikul Mubin (Fadi) 21.023 suara (19,99 persen).

Pasangan calon Wali Kota lainnya seperti Edison-Hadiansyah (Edisyah) memperoleh 11.301 suara (10,75 persen), pasangan Sudadi-Ida Bagus Supriyatna (Dadi-Bagus) meraih 7.123 suara (6,77 persen), dan pasangan Zons Herry Ringkin-Apri Husin Rahu (ZonA) mendapat 976 suara (0,96 persen).

Kepercayaan masyarakat kepada Riban Satia dengan pasangan Wakil Wali Kota baru Mofit Saptono itu tidak terlepas dari gerak pembangunan yang dilaksanakan selama lima tahun terakhir, termasuk juga soal wacana ibu kota pemerintahan Indonesia yang dibincangkan lagi dalam dua tahun terakhir.

HM Riban Satia mencatat sejarah dalam Pilkada 2013, karena sejak Kota Palangka Raya berdiri pada 1957 baru pertama sekali menjabat Wali Kota dua periode. Riban menyatakan menghargai keputusan masyarakat yang memilih pasangan Rimo untuk kedua kalinya.

"Saya sangat menghargai keputusan masyarakat Kota Palangka Raya, yang menginginkan saya tetap memimpin kota ini dengan semboyan berjuang bersama rakyat," kata HM Riban Satia diumumkan hasil penghitungan suara yang dilakukan KPU setempat.

Kepercayaan masyarakat tersebut menjadi tantangan bagi pelaksanaan program pembangunan di kota Palangka Raya yang diwacana sebagai kandidat ibu kota pemerintahan Indonesia seperti yang digagas Presiden pertama Indonesia, Soekarno setengah abad silam.

Wacana ibu kota negara Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus dibicarakan anak bangsa, dan Palangka Raya sebagai ibu kota Provinsi Kalteng menjadi salah satu yang dinilai strategis sebagai "Ibu Kota Masa Depan Indonesia" seperti disebut Presiden Soekarno pada 1957 itu.

Presiden pertama Indonesia Soekarno menyampaikan gagasan pemindahan ibu kota negeri ini ke Palangka Raya sekitar tahun 1957-an. Banyak kalangan menilai, gagasan proklamator Negara berpenduduk sekitar 240 juta jiwa ini brilian dan patut dipertimbangkan.



Sudah dipersiapkan

Kini, pertengahan 2013, setelah lebih setengah abad berlalu, gagasan brilian Bung Karno itu aktual dibicarakan mengingat ibu kota Indonesia, DKI Jakarta semakin padat dan banjir diiringi kemacetan yang hingga sekarang belum ada solusinya.

Riban Satia yang terpilih kembali dalam Pilkada 2013 untuk kedua kalinya itu menyatakan sudah membuat perencanaan tata ruang dan wilayah kota untuk 50-100 tahun ke depan seperti ruas jalan yang lebar dan jaringan drainase dalam kota.

Hal ini sudah diatur dalam regulasi yang disusun Pemerintah Kota Palangka Raya, sehingga setiap orang yang berkunjung selalu berkomentar bahwa Palangka Raya merupakan kota yang tertata dengan jaringan jalan lebar dan halaman rumah luas.

"Palangka Raya adalah kota terluas di Asia Tenggara, dan bahkan mungkin di dunia. Dengan luas 2.678,5 kilometer persegi, baru 54 kilometer persegi yang digunakan untuk pemukiman dan sangat dimungkinkan dilakukan pengembangan di masa mendatang," kata Riban Satia.

Bahkan wali kota menyatakan Palangka Raya siap dijadikan pusat pemerintahan Indonesia di masa mendatang.

"Mari kita maju bersama untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Kota Palangka Raya. Semua warga kita ajak bersatu dan menyatukan visi ikut berpartisipasi dalam berbagai program pembangunan tanpa beda usai Pilkada 2013," katanya.

Pengamat kebijakan publik Andrianov Chaniago pernah mengatakan, kota-kota di Indonesia saat ini sedang tumbuh berkembang.

Karena itu, tugas utama pemimpin melakukan pembaruan dan perombakan yang signifikan untuk menata pertumbuhannya.

"Hal terpenting dilakukan adalah konsolidasi lahan dan bangunan. Konsolidasi lahan dan bangunan selama ini tidak pernah tercapai. Pemimpin harus mampu mengubah perilaku rakyat demi kebaikan dan pertumbuhan kota di masa mendatang," katanya.

Staf pengajar pascasarjana Universitas Indonesia Jakarta itu menyatakan masih ada indikasi sulit mengubah perilaku tersebut, namun dia yakin secara perlahan dimungkinkan jika pemimpin berperan kreatif-aktif seperti yang terjadi di Solo dan Surabaya.

Tidak ada perubahan dalam kehidupan seorang manusia bila keberatan meninggalkan perilaku keliru secara individu, keluarga dan masyarakat. Demikian juga dengan kemajuan pembangunan suatu daerah, mustahil berkembang tanpa perubahan perilaku masyarakat.

Oleh karena itu, kebijakan dan peran pemimpin sangat menentukan dalam mengubah perilaku dan pola pikir masyarakat untuk mempercepat pembangunan. Masyarakat yang berdomisili di kota Palangka Raya agaknya tidak sulit diajak melanjutkan pembangunan.

Pemerintah provinsi dan pemerintah Kota seperti siap menyambut rencana pemindahan ibu kota Indonesia ke Palangka Raya. HM Riban yang mencatat sejarah baru 'terpilih kedua kali' dalam Pilkada 2013 menyatakan siap mendukung keinginan tersebut.



(T.S019/B/A025/A025)

Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar