Ini penyebab kematian teknisi pesawat pembom air asal Rusia

id kematian teknisi pesawat pembom air ,Penyebab kematian teknisi pesawat pembom air asal Rusia,water bombing,karhutla,kabut asap

Petugas menyiapkan pendaratan helikopter water bombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) seusai melakukan pembasahan lahan gambut yang terbakar di Bandar Udara Cut Nyak Dhien, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, Senin (12/8/2019). ANTARA FOTO/Tim gabungan pemadam Karhutla/hp.

Palembang (ANTARA) - Kedokteran Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Biddokes Polda Sumatera Selatan melakukan autopsi jenazah Andrey Sushakov (43) warga negara Rusia teknisi pesawat pembom air (water bombing) untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan musim kemarau ini.

"Hari ini kami baru mendapat izin melakukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian seorang warga Rusia yang meninggal dunia karena sakit di Rumah Sakit Siloam pada Minggu (11/8)," kata Ketua Tim Autopsi, Kompol dr Mansyuri di RS Bhayangkara Palembang, Rabu.

Berdasarkan investigasi medis jenazah untuk mengetahui penyebab kematian dan laporan rekam medis pihak RS Siloam yang melakukan perawatan beberapa hari kepada warga Rusia itu, penyebab kematiannya karena sakit peradangan selaput otak.

Hasil autopsi tersebut akan diberikan kepada pihak keluarga atau perwakilannya yang akan membawa jenazah tenaga teknisi (engineer) pendukung operasional pesawat pembom air (water bombing) penanggulangan karhutla di Pangkalan Udara Palembang.

Sebelumnya Kabid Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansor menjelaskan warga negara Rusia yang menjadi tenaga teknisi pesawat pembom air meninggal dunia pada Minggu (11/8) setelah menjalani perawatan beberapa hari di RS Siloam Palembang.

Warga Rusia bernama Andrey Sushakov bertugas sebagai "ground engineer" RA-22583 dari PT Bumame Utama Indonesia. atau tenaga teknik untuk unit pesawat "water boombing" yang disewa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak Juni 2019.

Awalnya Andrey dalam kondisi libur bertugas.mengalami sakit karena kesulitan bernapas pada 8 Agustus 2018 sekitar pukul 17.00 WIB sehingga dirujuk ke RS Siloam Palembang.

Dokter menyatakan bahwa yang bersangkutan terindikasi mengalami penyempitan pembuluh darah di otak sehingga langsung masuk dalam perawatan intensif di ICU.

Lalu pada Minggu (11/8) pukul 17.45 WIB, pihak RS Siloam menghubungi BPBD Sumsel dan menyatakan bahwa yang bersangkutan sudah meninggal sekitar pukul 17.35 WIB.

Meski yang bersangkutan dinyatakan meninggal karena sakit, pemerintah Indonesia tetap melakukan autopsi mengingat hal itu menjadi persyaratan dari negara asalnya Rusia.

Pewarta :
Uploader : Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar