Palangka Raya (ANTARA) - Harga daging babi di pasar tradisional Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mengalami kenaikan harga yang cukup tajam sejak beberapa bulan yang lalu.
Salah satu peternak sekaligus pedagang daging babi di Pasar Kahayan, Isma, Rabu, membenarkan tingginya harga jual daging babi kepada konsumennya itu sejak Februari 2022 hingga sekarang, harganya sudah mencapai Rp120 ribu per kilogram.
"Harga daging babi naik ini diduga akibat adanya isu flu babi Afrika. Sebelumnya harga daging babi hanya Rp65 per kilogram saja, sekarang menjadi Rp120 ribu per kilogram," kata Isma.
Dia menuturkan, untuk harga daging babi hutan saat ini sudah mencapai Rp90 ribu per kilogram, biasanya hanya Rp50 per kilogram.
"Hal tersebut naik diduga lantaran juga banyaknya permintaan para konsumen, baik untuk kebutuhan sendiri maupun untuk kebutuhan di rumah makan dan ketersediaan daging tersebut juga sulit didapatkan," ucapnya.
Isma juga mengungkapkan, diduga kuat pemicu terjadinya naiknya harga daging babi itu selama ini banyak hewan ternak babi mati lantaran diduga terserang virus flu babi Afrika.
Bahkan ternaknya pun banyak yang mati, sehingga tak sempat dijual dan harus dikubur. Kenaikan harga babi di Kota Palangka Raya ini lantaran kosong atau mungkin stok tidak banyak.
"Kami mengambil daging babi ini dari Kalsel dan Kalbar. Andai ada di Palangka Raya harganya pun mahal dan ongkos angkut hewan tersebut juga lumayan mahal. Belum lagi risiko hewan tersebut mati di tengah jalan saat pengiriman ke tempat kita. Kami menjual daging babi ini tentunya dari hasil babi yang sehat," ungkapnya.
"Jujur omset menurun akibat kenaikan daging babi. Jangankan kita mendapatkan lebih selama ini, malah sebaliknya atas kenaikan harga tersebut. Kami pedagang berharap harga daging babi dapat stabil kembali, sehingga pemasukan kami juga stabil," tutupnya.
