Jamaah haji Indonesia diminta tak paksakan lontar jumrah saat padat

id lontar jumrah,haji,haji indonesia,mina,makkah,arab saudi,ppi

Jamaah haji Indonesia diminta tak paksakan lontar jumrah saat padat

Jamaah haji saat melakukan lontar jumrah. (ANTARAFOTO/Sigit Kurniawan)

Makkah (ANTARA) - Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi meminta jamaah haji Indonesia untuk tidak memaksakan diri melakukan lontar jumrah saat situasi di jalur Jamarat, Mina, padat.


Saat ini jalur jamarat dipenuhi jamaah dari berbagai belahan dunia. Mereka seolah serempak mengambil waktu lontar jumrah mulai sore hari setelah pukul 16.00 waktu Arab Saudi.

Pengambilan waktu tersebut seiring dengan adanya peringatan dari otoritas setempat perihal cuaca panas yang melanda kawasan Mina pada Senin siang yang mencapai 45 derajat Celsius.

Saat suhu udara relatif lebih baik, apalagi diselingi hujan di sekitar Mina pada pukul 16.00 WAS, membuat jamaah berduyun-duyun melaksanakan lontar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah pada hari tasyrik.

Mengingat kepadatan tersebut, jamaah Indonesia diminta untuk menyesuaikan waktu dan menghindari kepadatan agar dapat melaksanakan lontar jumrah dengan nyaman.

Kepala Daerah Kerja Makkah, Khalilurrahman, sebelumnya mengimbau kepada jamaah lanjut usia dan risiko tinggi agar membadalkan lontar jumrahnya, guna menjaga kesehatan dan keselamatan mereka.

Baca juga: Jamaah haji Indonesia Nafar Awal kembali ke hotel pada hari ini

"Jamaah haji dengan risiko tinggi (risti), lanjut usia, disabilitas, serta jamaah yang sedang kurang sehat dan mengalami kelelahan diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar tenda Mina," ujar dia.

Tak hanya jamaah lansia, disabilitas, dan risti, jamaah yang saat kondisinya tidak memungkinkan untuk berjalan jauh atau sakit diimbau agar mewakilkan lontar jumrah.

"Jamaah dapat mewakilkan/membadalkan pelaksanaan lontar jumrah kepada jamaah lain atau petugas," kata dia.

Baca juga: Wilayah Makkah diguyur hujan setelah muncul peringatan cuaca panas

Baca juga: Kawasan Mina diguyur hujan sesaat pada Senin sore


Khalilurrahman meminta kepada Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah KBIHU untuk mengkoordinasikan pelaksanaan badal lontar jumrah bagi jamaah binaan yang lansia, risti, disabilitas, sakit, kelelahan dan kurang sehat secara fisik.

Mabit di Mina menjadi tahapan terberat fase puncak haji Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Sebab, jamaah tinggal lebih lama di tenda Mina.

Selain itu, jika di Arafah dan Muzdalifah jamaah relatif hanya berdiam di tenda, di Mina ada aktivitas lontar jumrah. Karenanya, ikhtiar menjaga kesehatan sangat diperlukan. Jamaah diimbau untuk tidak memaksakan diri dalam melontar jumrah.