Pengembangan kerajinan rotan di Kotim terkendala rendahnya minat warga

id Pengembangan kerajinan rotan di Kotim terkendala rendahnya minat warga, kalteng, Sampit, kotim, Kotawaringin Timur, ekonomi, rotan

Pengembangan kerajinan rotan di Kotim terkendala rendahnya minat warga

Aktivitas warga di gudang rotan di Kelurahan Kota Besi Hilir Kecamatan Kota Besi Kabupaten Kotawaringin Timur. Rotan yang sudah dibersihkan, diberi pewarna dan dijemur, kemudian disortir sebelum dikirim ke industri rotan di Cirebon. ANTARA/Norjani

Sampit (ANTARA) - Upaya pengembangan kerajinan rotan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah masih menghadapi kendala, salah satunya rendahnya minat warga menekuni pekerjaan tersebut.

"Ini bukan soal kemampuan, tapi etos kerjanya. Kurang berminat. Mungkin karena masih banyak pilihan profesi lain, makanya tidak banyak yang tertarik secara serius menjadi perajin rotan," kata Haji Dahlan Ismail, seorang pengusaha rotan di Kecamatan Kota Besi, Senin.

Dahlan menyebut potensi sektor rotan di Kotawaringin Timur cukup besar. Tidak hanya hasil berupa rotan mentah, tetapi juga potensi industri kerajinan rotan untuk menghasilkan barang jadi.

Salah satu kendala yang dihadapi untuk pengembangan kerajinan rotan skala besar adalah rendahnya minat warga untuk secara serius menggeluti profesi tersebut. Hal ini tentu berpengaruh terhadap hasil produksi dan keberlanjutan produksi dan usaha kerajinan.

Dahlan merasakan sendiri kondisi tersebut. Beberapa tahun lalu dia pernah membuka industri kerajinan rotan dengan mendatangkan mesin dan tenaga instruktur dari luar daerah, namun usaha itu tidak berjalan mulus.

Hanya sedikit warga yang bertahan menjadi perajin rotan, selebihnya berhenti dan memilih beralih ke profesi lain. Kondisi inilah yang kemudian membuat Dahlan memutuskan untuk menghentikan usaha kerajinan rotan tersebut.

Baca juga: DPRD Kotim umumkan penetapan dan pemberhentian kepala daerah

"Tidak bisa dipaksakan. Kondisi di daerah kita berbeda dengan di daerah lain seperti di Jawa. Di sana mungkin lebih mudah mendapatkan pekerja yang serius mau menggeluti profesi menjadi perajin rotan," ujar Dahlan.

Sejauh ini, kata dia, pelaku usaha rotan di Kotawaringin Timur hanya menjual rotan mentah ke industri di luar daerah, khususnya Cirebon. Hanya sebagian yang mengolahnya menjadi bahan jadi dan dijual ke pasaran lokal.

Menurut Dahlan, perlu dukungan pemerintah untuk membina dan memfasilitasi agar pemasaran produk rotan terserap di pasaran agar industri hilir ini terus meningkat, sehingga semakin banyak pula warga yang tertarik untuk menggeluti usaha kerajinan rotan.

"Soal kualitas, rotan Sampit atau rotan Kotawaringin Timur ini diakui bagus, bahkan dikatakan terbaik di dunia. Makanya dulu sangat laris di pasaran ekspor," timpal Dahlan.

Kotawaringin Timur merupakan salah satu daerah penghasil rotan di Kalimantan Tengah. Sektor ini kemudian meredup setelah pemerintah melarang ekspor rotan mentah sejak akhir 2011 lalu.

Kini Dahlan dan pengusaha rotan lainnya hanya mengandalkan pemasaran ke industri rotan dalam negeri, khususnya Cirebon. Pelaku usaha rotan masih berharap keran ekspor rotan kembali dibuka, misalnya dengan sistem buka tutup maupun kuota ekspor agar sektor rotan kembali bangkit.

Baca juga: DLH Kotim jajaki kemitraan pengelolaan sampah

Baca juga: Pemkab Kotim ajak perusahaan besar tingkatkan kepedulian bantu pembangunan desa

Baca juga: Legislator Kotim berharap SPMB jadi solusi pemerataan pendidikan