Sampit (ANTARA) - Upaya pelestarian budaya di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah tidak hanya dilakukan pemerintah daerah dan pegiat budaya, tetapi juga memastikan kepedulian insan pendidikan dengan melalui kegiatan di sekolah.
"Kita melokalkan, kita mengenal lagi budaya kita. Ini bentuk pelestarian budaya lokal. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan,” kata Kepala SMA Muhammadiyah Sampit, Galuh di Sampit, Kamis.
SMA Muhammadiyah Sampit adalah salah satu sekolah yang menunjukkan kepedulian turut membantu pelestarian budaya. Kali ini dengan menggelar pelatihan dan perlombaan permainan tradisional bagasing atau oleh masyarakat Dayak Kalimantan Tengah dikenal dengan nama habayang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan yang bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotawaringin Timur.
Dalam kegiatan ini, para peserta didik mendapat pelatihan langsung sebelum mengikuti lomba. Berbekal pengetahuan baru tersebut, mereka mengikuti lomba dengan peserta terdiri 12 peserta putra dan putri.
Kegiatan ini disambut antusias peserta didik. Mereka bersemangat mengikuti pelatihan dan lomba permainan tradisional yang mengasyikkan tersebut.
Satu per satu pelajar mencoba memutar gasing di arena yang telah disiapkan. Antusiasme mereka dalam adu ketangkasan lomba gasing menunjukkan bahwa permainan tradisional masih punya tempat di hati generasi muda, jika diberi ruang untuk dikenalkan kembali.
"Kegiatan ini menjadi pengalaman pertama bagi sekolah ini dalam mengangkat budaya permainan tradisional ke lingkungan pendidikan. Sangat penting bagi generasi muda untuk kembali mengenal budaya lokal," ujar Galuh.
Baca juga: Pemkab Kotim perbaharui data warga miskin lewat penjaringan murid SR
Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Kesejarahan BPK Wilayah VIII Yusri Darmadi menyampaikan, permainan tradisional seperti gasing tersebar di banyak daerah di Indonesia. Namun, saat ini eksistensinya mulai tergeser oleh permainan digital sehingga perlu dilestarikan.
“Budaya adalah identitas. Kapan lagi kita mau melestarikan budaya kita sendiri? Fungsi kami di balai salah satunya menetapkan Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Mudah-mudahan permainan gasing ini bisa diusulkan tahun depan sebagai WBTb,” kata Yusri.
Sesuai ketentuan, proses pewarisan budaya menjadi salah satu syarat penetapan WBTb. Kegiatan yang digelar di SMA Muhammadiyah Sampit termasuk dalam proses pewarisan tersebut.
"Selain karya budaya, cara pewarisan ke generasi muda juga menjadi nilai penting dalam pengusulan," kata Yusri.
Kepala Disbudpar Kotawaringin Timur Bima Ekawardhana mengatakan, permainan gasing tidak hanya sekadar hiburan, tapi juga memiliki filosofi dan bentuk yang khas dari setiap daerah. Dia berharap para pelajar tidak hanya tahu, tetapi juga bisa memainkan dan mewariskan budaya tersebut.
menyampaikan apresiasinya terhadap BPK dan pihak sekolah dalam memperkenalkan kembali permainan tradisional.
“Generasi saat ini lebih akrab dengan permainan digital. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk mengingatkan kembali bahwa kita punya permainan tradisional yang sarat makna, seperti gasing ini,” demikian Bima Ekawardhana.
Baca juga: DPRD Kotim dorong akselerasi infrastruktur air bersih
Baca juga: Film Ternyata Aku Korban mengedukasi pelajar di Kotim tentang perundungan
Baca juga: DWP Kotim berkomitmen tingkatkan aksi nyata bantu masyarakat
