Petani ikut terkena dampak kampanye penolakan sawit

id Petani ikut terkena dampak kampanye penolakan sawit,Kotawaringin Timur,DPRD Kotim ,Sampit,Ary Dewar

Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur H Ary Dewar. (Foto Antara Kalteng/Untung Setiawan)

Sampit (Antaranews Kalteng) - Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah H Ary Dewar mengutuk keras aksi aktivis lingkungan yang mengampayekan penolakan terhadap perkebunan kelapa sawit karena tindakan itu juga berdampak terhadap petani kelapa sawit.



"Alasan aktivis ligkungan tersebut tidak jelas dan tidak mendasar dengan menolak perkebunan kelapa sawit. Keberadaan perkebunan kelapa sawit erat kaitannya dengan perekonomian masyarakat," katanya di Sampit, Senin.



Menurut Ary, penolakan perkebunan kelapa sawit akan menyengsarakan masyarakat karena sangat banyak menggantungkan hidupnya dari hasil perkebunan tersebut.



"Saya kira penolakan para aktivis lingkungan tersebut telah terlambat. Jika tidak menghendaki keberadaan perkebunan kelapa sawit, mengapa tidak dari dulu sebelum masyarakat ikut berkebun kelapa sawit," tambahnya.



Ary meminta kepada para aktivis lingkungan yang menolak perkebunan kelapa sawit tersebut untuk mencarikan solusi permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat, khususnya petani kelapa sawit.



"Menolak tanpa ada solusi, sama saja dengan menyengsarakan masyarakat. Bahkan dampak dari kampanye para aktivis lingkungan tersebut telah mengakibatkan anjloknya harga jual tandan buah segar di tingkat petani. Apa yang seperti ini yang diinginkan para aktivis lingkungan itu," terangnya.



Ary menyebut hasil perkebunan kelapa sawit sangat besar manfaatnya bagi para petani, bahkan sangat membantu perekonomian negara.



"Salah satu manfaat sawit untuk menyejahterakan masyarakat, terutama kalangan petani, seperti di Kotawaringin Timur banyak yang jadi petani sawit," ucapnya.



Selain itu, menurut Ary, komoditas kelapa sawit juga memberikan sumbangan besar kepada negara baik itu pendapatan melalui pajak hingga ekspor ke luar negeri berupa CPO (crude palm oil) atau perkebunan kelapa sawit.



Ary mengatakan, sejak harga  tandan buah sawit itu anjlok hingga menyentuh di angka Rp500/kg membuat semuanya jadi korban.



"Namun saya optimis kondisi ini akan berakhir jika pemerintah bersikap. Kami tidak hanya memperjuangkan nasib petani saja, namun juga penghasilan untuk negara," tegasnya.



Ditegaskan Ary, kualitas kelapa sawit di Kotawaringin Timur tidak diragukan lagi. Namun jika ada yang mengganggap kualitas jelek, menurutnya hal itu tidak benar.



"Itu hanya akal-akalan semata untuk memperburuk harga jual tandan buah segar dan latar belakangnya persaingan bisnis dengan memanfaatkan oknum tertentu," demikian Ary Dewar.


Pewarta :
Editor: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar