Udara pagi di Sampit masuk kategori sangat tidak sehat

id Udara pagi di Sampit masuk kategori sangat tidak sehat, kalteng, Sampit, kotim, kotawaringin Timur, karhutla, BPBD kotim

Udara pagi di Sampit masuk kategori sangat tidak sehat

Asap menghalangi jarak pandang di Jalan Tjilik Riwut Sampit pada Minggu? 3/9/2023) pukul 05.30 WIB. ANTARA/Norjani

Sampit (ANTARA) - Kualitas udara di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah menurun akibat masih maraknya kebakaran lahan, bahkan kualitas udara pada Minggu pagi sudah masuk kategori Sangat Tidak Sehat. 

"Pagi ini kabut asapnya lebih tebal dari biasanya. Makanya tidak heran kalau kualitas udara juga lebih parah dari kemarin," kata Yudi, warga Sampit, Minggu. 

Pantauan pukul 05.30 WIB pagi, kabut terlihat cukup pekat. Ini diyakini dampak besar kebakaran lahan lantaran bau asap tercium cukup menyengat. 

Sebagian warga yang beraktivitas maupun berolahraga memilih menggunakan masker. Namun sebagian warga lainnya tidak menggunakan masker. 

Pekatnya asap juga mengganggu jarak pandang sehingga pengendara mengurangi laju kendaraan mereka untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit merilis kondisi cuaca pada pukul 06.00 WIB, jarak pandang di sekitar Bandara Haji Asan Sampit hanya sekitar 400 meter, padahal dalam kondisi normal jarak pandang mencapai hingga 10.000 meter. 

Sementara itu berdasarkan aplikasi ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, indeks standar pencemaran udara (ISPU) pada parameter partikulat (PM 2.5) pada pukul 06.00 WIB sudah mencapai angka 253. 

Paramater tersebut menunjukkan kualitas udara masuk dalam kategori Sangat Tidak Sehat. Masyarakat diimbau menggunakan masker karena tingkat kualitas udara yang dapat meningkatkan risiko kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. 

Sementara itu berdasarkan situs IQAir dalam unggahan kondisi kualitas udara (AQI) dan polusi udara PM2.5 di Indonesia pada pukul 05.30 WIB, Sampit menduduki peringkat pertama kota paling berpolusi dengan angka 244, disusul Karawang Jawa Barat dengan angka 171 dan Indralaya Sumatera Selatan dengan angka 167.

Baca juga: Isak tangis iringi penghormatan terakhir untuk Ketua Fraksi Golkar DPRD Kotim

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, untuk wilayah dalam kota Sampit pada Sabtu (2/9) terjadi kebakaran lahan di lima lokasi. Pemadaman dilakukan bersama tim gabungan BPBD, Dinas Damkar, relawan masyarakat dan lainnya. 

Bahkan sesuai arahan Bupati Halikinnor, kini sejumlah satuan organisasi perangkat daerah juga mulai turun tangan membantu pemadaman kebakaran, khususnya dengan menyuplai air untuk pemadaman kebakaran. Beberapa instansi yang mulai bergabung di antaranya Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pendidikan dan lainnya. 

"Sejumlah dinas sudah mengambil tandon air dari BPBD untuk membantu suplai air ke lokasi pemadaman kebakaran lahan," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam. 

Berdasarkan laporan harian BPBD pada Sabtu (2/9) sore, sejak ditetapkannya status Siaga Darurat Karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur pada 23 Mei 2023 lalu, hingga saat ini tercatat 2.561 hotspot, 159 kejadian kebakaran lahan, 139 penanganan kejadian dan 538,462 hektare lahan yang terbakar. 

Lahan yang terbakar tersebar di wilayah tengah seluas 199,677 hektare atau 37,08 persen meliputi Kecamatan Parenggean, Kota Besi, Cempaga Hulu, Cempaga, Telawang, Seranau dan Baamang. 

Kebakaran lahan di wilayah selatan sudah mencapai 338,785 hektare atau 62,92 persen yang meliputi Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit. Sementara itu wilayah utara belum ada muncul hotspot dan kebakaran lahan. 

Sementara itu menyikapi kualitas udara yang sudah Sangat Tidak Sehat, Multazam mengimbau masyarakat kelompok sensitif agar sebaiknya menggunakan masker saat berada di luar ruangan.

Warga juga disarankan menyalakan penyaring udara, menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor, serta mengurangi aktivitas di luar rumah saat terjadi asap pekat. 

Biasanya kabut asap mulai berkurang ketika hari beranjak siang, seiring meningkatnya kecepatan angin yang mampu mengurangi konsentrasi atau kepekatan asap. 

Baca juga: Kontingen Kotim diharapkan mampu berprestasi di Pesparawi Korpri Kalteng

Baca juga: Pelamar disarankan bersiap, Pemkab Kotim dapat kuota 1.089 formasi PPPK

Baca juga: Ketua Fraksi Golkar DPRD Kotim tutup usia