
Soal pemukulan camat, Wabup Kotim tekankan kesabaran dan penindakan sesuai hukum

Sampit (ANTARA) - Menanggapi insiden pemukulan terhadap Camat Mentaya Hilir Utara (MHU) Zikrillah, Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Irawati meminta camat tetap sabar dan tidak membalas secara anarkis, melainkan lebih mengedepankan jalur hukum.
“Kemarin saya langsung menelpon Camat MHU, saya berpesan karena kita ini merupakan pelayan rakyat jadi harus sabar, jangan ikut membalas dengan sumpah serapah atau melakukan pemukulan pada warga yang sudah melakukan tindak kekerasan,” kata Irawati di Sampit, Kamis.
Sehari sebelumnya, Rabu (11/3), Camat MHU Zikrillah diserang oleh sejumlah warga yang menjadi anggota Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) Bagendang Raya hingga mengalami cedera ringan.
Irawati mengaku telah menerima informasi tersebut segera setelah insiden terjadi. Ia pun sempat berniat untuk langsung ke lokasi kejadian, namun atas saran dan kepolisian setempat dengan mempertimbangkan faktor keamanan, maka niat itu pun ia urungkan.
Ia pun segera menghubungi dan telah berkomunikasi langsung dengan Camat MHU pasca kejadian. Meski menyesalkan tindakan kekerasan tersebut, ia mengingatkan agar aparatur pemerintah tidak terpancing emosi dan tetap menunjukkan sikap profesional sebagai pengayom masyarakat.
“Saya juga sudah meminta Polsek setempat agar segera ditindaklanjuti sesuai ketentuan. Terkait laporannya seperti apa, saya serahkan ke Polsek karena kemarin komunikasinya via telepon. Saya minta tolong di-backup dan dijaga,” ujarnya.
Langkah tegas ini diambil agar kejadian serupa tidak terulang dan memberikan perlindungan kepada aparatur sipil negara yang sedang menjalankan tugas.
Lebih lanjut, Irawati memastikan kondisi Camat MHU dalam keadaan sehat meski sempat mengalami penyerangan fisik.
Baca juga: Wabup Kotim ajak masyarakat teliti saat membeli bahan pangan
Ia mengimbau seluruh pihak untuk menahan diri, terlebih saat ini memasuki bulan suci Ramadhan yang seharusnya diisi dengan kegiatan positif dan pengendalian diri.
“Kondisi camatnya sehat saja. Saya minta sabar apalagi ini bulan puasa. Kalau ada permasalahan kita bisa bermusyawarah dengan baik, duduk baik-baik jadi jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi bulan puasa ini kan biasanya cepat naik tensi kita,” pungkasnya.
Terpisah, Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain enggan berkomentar banyak mengenai insiden yang terjadi di wilayah kerjanya tersebut. Namun, ia menyampaikan bahwa kasus ini telah ditangani langsung oleh Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Tengah.
“Untuk insiden di MHU sudah ditangani oleh Polda,” demikian Resky.
Penyerangan terhadap Camat MHU ini terjadi di tengah mediasi terkait polemik penandatanganan pengesahan pemilihan Ketua Gapoktanhut yang berujung ricuh. Warga yang merupakan anggota Gapoktanhut itu memaksa camat untuk menandatangani hasil pemilihan tersebut.
Namun, camat menolak karena hal tersebut tidak sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Warga yang kecewa pun meluapkan dengan melempari hingga menarik-narik camat tersebut.
Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Camat Baamang itu bahkan sempat hampir tersungkur di tengah kerumunan dan kancing seragamnya pun sampai terlepas.
Beruntung situasi segera dapat dikendalikan oleh pihak Polsek dan Danramil setempat. Namun, kericuhan yang terekam kamera amatir warga itu kemudian viral di media sosial dan menjadi sorotan banyak pihak.
Baca juga: Wabup Kotim tegaskan data penerima KHBS langsung dari Kemensos
Baca juga: Kecam pemukulan terhadap camat, Legislator Kotim minta polisi mengusut tuntas
Baca juga: 10 calon penumpang kapal di Sampit jadi korban tiket palsu
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
