Bertolak dari Sampit, kapal bermuatan CPO hilang saat menuju Tanjung Priok

id Bertolak dari Sampit, kapal bermuatan sawit hilang saat menuju Tanjung Priok,KSOP,Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan,Thomas Chandra,Tanjung,

Kapal MT Namse Bangdzhod yang dilaporkan hilang kontak saat perjalanan dari Sampit menuju Pelabuhan Tanjung Priok. (Foto Istimewa)

Sampit (Antaranews Kalteng) - Sebuah kapal bermuatan minyak kelapa sawit mentah atau CPO (crude palm oil) yang bertolak dari Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah, dilaporkan hilang kontak saat perjalanan menuju Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara.

"Iya benar. MT Namse Bangdzhod hilang kontak, posisi terakhir terecord di perairan ujung Karawang arah Tanjung Priok dari Sampit," kata Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Sampit, Thomas Chandra saat dikonfirmasi di Sampit, Minggu.

Berdasarkan data, MT Namse Bangdzhod dengan GT/NT 1128 merupakan kapal berbendera Indonesia. Kapal ini dioperasikan oleh PT Surabaya Shipping Lines yang berkantor pusat di Surabaya.

MT Namse Bangdzhod dinakhodai Muhammad Asdar Wijaya dengan anak buah kapal sebanyak 11 orang yaitu Yanuardin Mendrofa dan Husni Mubarak sebagai mualim, Andi Tasyriq sebagai KKM, Satria Idam Sulistio dan Bambang Mulyono sebagai masinis, Agustinus Piter, Asrun Suriansa dan Dahar sebagai juru mudi, serta Wardani, Ardiyanto dan Dwi Wahyu Sabtono sebagai juru minyak.

Kapal ini bertolak dari Sampit pada 27 Desember 2018 lalu dan seharusnya sudah sampai di Pelabuhan Tanjung Priok, namun hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Thomas mengatakan, saat ini berbagai upaya sedang dilakukan untuk mengetahui keberadaan kapal tersebut. Dia tidak ingin berspekulasi terkait dugaan keberadaan dan kejadian yang dialami kapal tersebut.

"Ditjen Perhubungan Laut melalui Direktorat KPLP, bersama Kantor Syahbandar Tanjung Priok, Basarnas, KSOP Sampit dan pemilik kapal, sedang dan terus mencari tahu atau memonitor keberadaan kapal tersebut," ujar Thomas.

Sementara itu, kabar hilang kontak MT Namse Bangdzhod langsung menyebar di media sosial. Beberapa pemilik akun media sosial yang memuat kabar dan foto kapal tersebut, meminta bantuan masyarakat untuk menginformasikan jika mengetahui keberadaan kapal pengangkut minyak sawit mentah tersebut.

Berbagai komentar warga pun muncul menggapi postingan kabar hilang kontaknya kapal tersebut. Ada yang menduga kapal sedang berlindung dari cuaca buruk di laut, namun ada pula yang khawatir kapal tersebut menjadi korban pembajakan. Namun semua mendoakan agar kapal dan seluruh kru segera ditemukan dalam kondisi selamat.

Sekadar diketahui, perompakan kapal yang bertolak dari Sampit pernah terjadi pada 2014 lalu. Sebuah kapal bermuatan minyak kelapa sawit atau CPO yang bertolak dari Sampit, dirompak saat dalam perjalanan menuju Gresik.

Kapal Srikandi 515 mengangkut 3.100 ton minyak sawit berangkat pada 8 Oktober 2014 dan digiring kapal pandu ke luar muara pada 9 Oktober 2014. Seharusnya, paling lama tiga hari sudah sampai Gresik, tapi kemudian dikonfirmasi pada tanggal 17 Oktober 2014 bahwa kapal itu belum tiba di Gresik.

Informasi baru diterima 24 Oktober 2014 bahwa nakhoda dan anak buah kapal ditemukan oleh nelayan Malaysia dalam keadaan selamat. Para perompak akhirnya berhasil ditangkap pada 2015 di Thailand. Para pelaku kemudian dibawa ke Kalimantan Tengah untuk menjalani proses hukum.

Sebelumnya pada 26 Februari 2012, perompakan tugboat dan tongkang bermuatan minyak sawit juga terjadi di perairan Kotawaringin Timur. Sebanyak 16 anak buah kapal bersama nakhodanya diikat dan dibuang ke hutan di kawasan muara. Untungnya mereka berhasil ditemukan dengan selamat.

Setelah dilakukan pencarian, polisi menemukan tugboat Sindo Ocean dan tongkang Anggada VI bermuatan 3.700 ton minyak sawit tersebut. Saat itu perompak hanya berhasil membawa kabur peralatan navigasi dan harta benda milik ABK dengan nilai diperkirakan mencapai Rp204.560.000.

Pewarta :
Editor: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar