Silaturahmi Kebangsaan perkuat komitmen masyarakat Kalteng jaga persatuan dan NKRI

id Silaturahmi Kebangsaan perkuat komitmen masyarakat Kalteng jaga persatuan dan NKRI,Gubernur,Sugianto Sabran,Ketua DAD Kalteng,Agustiar Sabran,Sampit,D

Pejabat dan ratusan peserta yang hadir bersama-sama membacakan ikrar kebangsaan dalam acara Silaturahmi Kebangsaan di Sampit, Sabtu (12/1/2019) malam. (Foto Antara Kalteng/Norjani)

Sampit (Antaranews Kalteng) - Silaturahmi Kebangsaan yang digelar di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah, mampu menggelorakan kembali semangat dan komitmen masyarakat untuk menjaga persatuan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Kita jangan meributkan perbedaan pilihan politik. Kita harus tetap harmonis. Kita lebih baik fokus membangun Kalimantan Tengah. Kalau kita bersama, maka kita akan kuat," ujar Gubernur H Sugianto Sabran saat acara Silaturahmi Kebangsaan di Sampit, Sabtu malam.

Ratusan peserta mengikuti silaturahmi Forum Kebangsaan, lintas agama, adat dan tokoh masyarakat. Peserta berasal dari kalangan tokoh lintas agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan mahasiswa.

Menurut Sugianto, tantangan menjaga persatuan, kesatuan dan keutuhan NKRI, semakin berat. Untuk itu seluruh masyarakat harus bersama-sama meningkatkan persatuan dan kesatuan.

Acara yang diisi diskusi dan pembacaan ikrar kebangsaan itu diharapkan lebih memperkuat lagi rasa persaudaraan. Perbedaan yang ada di tengah masyarakat jangan sampai dijadikan masalah, apalagi sampai menimbulkan perpecahan.

"Perbedaan itu justru harus menjadi kekuatan bagi kita untuk bersama-sama menghadapi berbagai tantangan yang datang. Kita semua bersaudara dan sama-sama cinta NKRI. Kita harus menjaga kondisi daerah dan bangsa ini agar selalu kondusif," ajak Sugianto.

Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah Agustiar Sabran mengatakan, masyarakat Suku Dayak sangat menjunjung tinggi toleransi. Sejak dulu masyarakat Dayak terbiasa hidup berdampingan dengan rukun dan damai di tengah perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan.

"Bahkan sebelum ada dicetuskan Bhinneka Tunggal Ika, masyarakat Dayak sudah menjalankan falsafah huma betang (rumah kas Suku Dayak). Di huma betang, masyarakat Dayak berbagi tempat tinggal dengan warga lain yang berbeda suku dan agama. Semua saling toleransi dan bisa menjaga persaudaraan sehingga selalu rukun," ujar Agustiar.

Dia mengajak seluruh masyarakat untuk tidak mudah diadu-domba atau diprovokasi oleh siapapun yang ingim mengganggu ketenangan masyarakat Kalimantan Tengah. Semua pihak diimbau menghargai budaya dan kearifan lokal sehingga kerukunan selalu terjaga.

Sementara itu, Wakil Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah Brigjen Rikwanto mengajak semua pihak menjaga kebersamaan sehingga dapat menangkal berbagai ancaman dari dalam dan luar. Kepentingan bersama harus diutamakan dan tidak membeda-bedakan latar belakang siapapun.

"Saya baru tiga bulan bertugas di Kalimantan Tengah, di sini sudah kelihatan ke-Indonesiaannya. Indonesia besar seperti ini karena keberagaman menjadi persatuan. Jangan mau dipecah belah. Disintegrasi yang bisa menjatuhkan negara kita. Kalau kita ego maka semua akan hancur," tandas Rikwanto.

Pewarta :
Editor: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar