Balita penderita penyakit otak mengecil butuh bantuan dermawan

id kota palangka raya,menderita otak mengecil,palangka raya

Nurul Hikmah (29) menggendong anaknya Muhammad Ryan berumur 2,7 tahun yang tidak bisa berjalan, karena menderita penyakit otak mengecil sebelah sejak lahir, Selasa (22/1/19). (Foto Antara Kalteng/Adi Wibowo)

...bagian lehernya tidak bisa tegak melainkan lentur. Sedangkan tangan dan kaki balita tersebut, hanya bisa digerakkan, namun belum tidak dapat dipergunakan layaknya orang normal lainnya
Palangka Raya (Antaranews Kalteng) - Muhammad Ryan balita berumur 2,7 tahun yang menderita penyakit otak mengecil sebelah dari sejak lahir, memerlukan bantuan pengobatan kesehatan dari para dermawan yang berada di Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. 

Penyakit itu diketahui ketika Muhammad Ryan masih berumur empat bulan menjalani pemeriksaan di rumah sakit yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan, kata ibu kandungnya Nurul Hikmah (29) di kediamannya di sebuah barak di Jalan dr.Murjani, Gang Jingah, Selasa.

"Anak saya ini tidak bisa jalan dan lain sebagainya. Ia seperti orang lumpuh karena tangan, kaki, dan lehernya itu tidak berfungsi seperti orang normal lainnya," beber dia.

Dikatakan, dengan mengidap penyakit pengecilan otak sebelah tersebut, bagian lehernya tidak bisa tegak melainkan lentur. Sedangkan tangan dan kaki balita tersebut, hanya bisa digerakkan, namun belum tidak dapat dipergunakan layaknya orang normal lainnya.

Anak pertama dari pasangan Jihan (32) dan Nur Hikmah itu pernah dibawa kebeberapa dukun kampung serta rumah sakit, namun hasilnya tidak begitu maksimal. Anak semata wayang yang mereka miliki tersebut tetap saja tidak bisa disembuhkan. 

"Kalau diperkirakan rinci saya mengobati anak saya ini dari lahir sampai pengobatan terapi di rumah sakit ditotal bisa mencapai Rp10 juta. Pengobatan itu terhenti karena kami tidak mampu untuk mengikuti arahan dokter untuk dilakukan terapi," bebernya.

Hikmah mengatakan, kemampuannya untuk menyembuhkan anaknya tersebut tentunya sudah sangat lah besar. Namun suaminya yang hanya bekerja sebagai tukang cuci mobil di Bengkel Mobil Tehnik Ban, gajinya tidak mampu untuk membiayai Muhammad Ryan. 

Suaminya terpaksa menghentikan melakukan pengobatan terhadap anaknya, karena ekonomi yang didapatkannya itu tidak sanggup lagi membiayai pengobatan anak kesayangnya itu. 

"Pendapatan suami saya dalam seminggu Rp300 ribu, itu kalau cucian mobil di tempat suami saya ramai. Belum lagi kamir perlu membayar barak yang kami sewa ini per bulannya sebesar Rp400 ribu," ucapnya dengan nada lirih.

Ditambahkan Hikmah, keluarganya sangat banyak bersyukur bisa tinggal di kawasan Jalan dr.Murjani, Gang Jingah, sebab warga yang bermukim di kawasan setempat tingkat kepeduliannya untuk membantu sesama sangat tinggi. 

"Beruntungnya warga di sekitar tempat kami tinggal ini selalu memberikan bantuan kepada kami. Jadi saya tidak pernah berputus asa untuk berusaha menyembuhkan penyakit anak saya ini. Semoga saja para dermawan yang ada di kota ini bisa membantu pengobatan putra kami yang menderita penyakit pengecilan otak sebelah," tandasnya. 
 

Pewarta :
Editor: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar