Hujan buatan berhasil turun

id Hujan buatan ,kabut asap,Hujan buatan berhasil turun di riau

Hujan buatan berhasil turun

Pesawat Cassa milik TNI AU bersiap melakukan operasi hujan buatan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, Sabtu (14/9/2019). (ANTARA/HO-Pentak Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru)

Jakarta (ANTARA) - Operasi teknologi modifikasi cuaca untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan telah berhasil menurunkan hujan buatan di Riau, kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo.

"Pesawat Hercules C-130 melakukan penyemaian garam NaCl sebanyak 3,4 ton di daerah Kota Dumai, Kabupaten Rokan Hilir, dan Kota Padang Sidempuan pada Rabu (18/9)," kata Agus melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis.

Agus mengatakan operasi tersebut dilakukan dengan menyemai garam NaCl sesuai potensi pertumbuhan awan yang berpeluang menghasilkan hujan.

Baca juga: Pelaksanaan rekayasa hujan buatan di Kalteng tunggu awan comulus

Teknologi modifikasi cuaca tersebut berhasil menurunkan hujan buatan di Kota Dumai, tepatnya di Kelurahan Batu Teritip yang berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hilir.

"Hujan turun selama kurang lebih 30 menit dengan intensitas sedang," jelasnya.

Selain di Riau, operasi teknologi modifikasi cuaca juga masih dilakukan untuk menghasilkan hujan buatan di wilayah Kalimantan Tengah.

Pesawat CN295 menyemai garam NaCl sebanyak 1.500 kilogram pada Rabu (18/9) pukul 13.30 WIB hingga 15.45 WIB di wilayah Kabupaten Katingan, Utara Kota Palangkaraya, dan Kabupaten Kapuas pada ketinggian 8.000 kaki.

Agus mengatakan operasi teknologi modifikasi cuaca untuk turunkan hujan buatan akan terus dilakukan di wilayah Sumatera dan Kalimatan. Terdapat tiga pesawat bantuan dari TNI, yaitu dua di Pekanbaru, Riau; dan satu di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Baca juga: Polres Barito Utara shalat istisqa meminta turun hujan
Baca juga: Air garam di baskom datangkan hujan ternyata hoaks, ini penjelasan BBPT

 

Pewarta :
Uploader : Admin Kalteng
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar