Logo Header Antaranews Kalteng

Pemanfaatan tanaman lokal bawa pelajar Kalteng ukir prestasi di ajang internasional

Senin, 24 November 2025 21:17 WIB
Image Print
Ilustrasi teh herbal (ANTARA/Shutterstock)

Palangka Raya (ANTARA) - Tim peneliti pelajar dari Kalimantan Tengah (Kalteng) berhasil mengukir prestasi di ajang internasional melalui pemanfaatan atau penelitian terhadap tanaman lokal.

Dalam keterangan yang diterima di Palangka Raya, tim ini meliputi Wynona Anneliese Winterberg, Christy, Hillary Natasha Saconk, Devita Aurelia Zefanya dan Puttri Candra Kirana dari SMAN 2 Palangka Raya, serta Beatrix Fuji Emmanuella Putri Karnida dari SMAN 3 Palangka Raya.

Mereka berhasil menyumbang medali emas dalam ajang International Science and Invention Fair (ISIF) 2025, melalui penelitian bertajuk “San Koetjape Cortex Tea: Sandoricum koetjape Bark as a Natural Remedy for Hemorrhoids”.

Tim ini mengembangkan teh herbal dari kulit batang Sandoricum koetjape sebagai upaya pemanfaatan tanaman lokal untuk membantu mengatasi wasir secara alami.

Baca juga: Plt Kadisdik: Capaian pelajar Kalteng pada ISIF 2025, selaras dengan komitmen pemprov

Perwakilan tim, Wynona menceritakan pengalaman sangat berharga selama mengikuti International Science and Invention Fair 2025.

Sejak hari pertama tiba di Bali, suasana kompetisi internasional sudah terasa begitu kuat. Peserta dari berbagai negara berkumpul membawa semangat, ide, dan inovasi di berbagai bidang, mulai dari teknologi, edukasi, lingkungan, sosial, hingga sains kehidupan.

"Kami merasa sangat bangga dapat mewakili Kalimantan Tengah dan memperkenalkan tanaman lokal Kalimantan ke panggung internasional,” tuturnya.

‎Ia menambahkan, rangkaian kegiatan di Bali menjadi ajang belajar yang sangat berharga. Selama mengikuti kegiatan, mereka belajar banyak hal baru.

"Kami berlatih mempresentasikan penelitian dengan percaya diri sekaligus mengasah kemampuan tanya jawab dalam bahasa Inggris," ujarnya.

Kemudian mereka juga mendapat kesempatan untuk mengenal peserta dari berbagai negara yang membawa inovasi unik masing-masing.

Pertemuan ini membuka wawasan kami tentang betapa luasnya dunia penelitian dan pentingnya kolaborasi lintas budaya. Wynona berharap inovasi yang mereka kembangkan dapat bermanfaat bagi masyarakat.

“Kami berharap inovasi ini tidak hanya berhenti sebagai karya kompetisi, tetapi juga dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," tuturnya.

Baca juga: Revitalisasi dan digitalisasi pendidikan di Kalteng tak hanya tampak pada 'angka'

Baca juga: Pemprov Kalteng usung strategi pembangunan pendidikan dari desa

Baca juga: TWKC asah kreativitas dan kepemimpinan pelajar di Kotim



Pewarta :
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026