Feature - Tak Sabar Santap Nasi Goreng

id nasi goreng, wisatawan korea selatan, rendang

Feature - Tak Sabar Santap Nasi Goreng

Ilustrasi - Nasi goreng siap disantap. (bedahresep.com)

mereka gak sabar untuk makan nasi goreng. Langsung ambil saja
Kim Jiwon segera mengambil sepiring nasi goreng yang baru saja dituangkan dari wajan tanpa memedulikan situasi sekitarnya. Wanita asal Korea ini segera membawa nasi itu ke meja restoran.

Dia tidak sabar untuk menyantap nasi goreng, padahal menu itu masih mengepulkan sedikit asap panas.

"Woou..., enak sekali nasi goreng ini," katanya usai mengunyah satu sendok nasi goreng sambil menoleh kepada tiga rekannya yang sama-sama dari Korea, yakni Shim Jaehun, Yoo Inchul, Lim Sumi dan Kim Jiwon.

Si juru masak, chef Slamet Riyadi cuma melongo melihat nasi gpreng karyanya telah berpindah dari meja memasak ke meja restoran yang cuma berjarak sekitar enam meter.

"Waduh, kok sudah dimakan duluan. Kan belum dikasih telur dan irisan timun," kata Slamet sambil melihat ke arah meja Jiwon.

Chef di Plataran Borobudur Hotel & Resort ini lalu menghampiri keempat warga Korea yang baru saja mengunjungi Candi Borobudur, di Magelang, Jawa Tengah, itu.

Kepada wisatawan asal Negeri Ginseng ini, Slamet menjelaskan bahwa menu nasi goreng masih akan dilengkapi. Jiwon pun maklum dan merelakan nasi goreng di depannya diambil salah satu karyawan restoran untuk dilengkapi dengan telur goreng, irisan timun dan bawang goreng.

"Mungkin, mereka gak sabar untuk makan nasi goreng. Langsung ambil saja," kata Slamet sambil tersenyum.

Keempat orang Korea ini sedikit beruntung dibandingkan dengan wisatawan lain karena mendapatkan kesempatan langsung melihat proses pembutan nasi goreng. Padahal biasanya, pengunjung tidak dapat melihat chef restoran beraksi.

Setelah menu nasi goreng dinyatakan lengkap oleh Slamet Riyadi, mereka pun segera makan lagi dan tentunya juga memesan menu lain di restoran itu.

Rasa lapar warga Korea ini muncul karena mereka baru saja berkunjung ke Candi Borobudur yang memaksa untuk naik turun tangga. Udara panas menyengat di kawasan candi membuat keringat bercucuran.    
    
Animo wisatawan asing akan nasi goreng memang sangat tinggi, bahkan mereka menjadikan kuliner khas Indonesia itu sebagai salah satu yang favorit.

Radja, warga keturunan Malaysia yang sedang berkunjung ke Keraton Jogjakarta, juga menjadikan nasi goreng sebagai kuliner yang dicobanya.

"Kami ini vegetarian dan suka nasi goreng," kata Radja yang berlibur ke Indonesia bersama puterinya.

Sebagai orang yang tidak makan daging, Radja mengaku juga mencoba gado-gado dan pecel, namun nasi gorenglah yang dianggap enak.

Ajine, Tom dan Christ, tiga wisatawan asal Inggris juga mengaku terkesan dengan kelezatan nasi goreng setelah mencobanya setibanya di Indonesia.

"Kami suka masakan Indonesia. Sate, nasi goreng dan rendang," kata Ajine.

Pamor nasi goreng mulai mendunia saat CNN Internasional menempatkan makanan ini sebagai makanan terlezat nomor 2 di dunia setelah rendang pada jajak pendapat yang melibatkan 35 ribu orang pada 2011.

Nasi goreng di Indonesia sejak dulu dikenal sebagai masakan rakyat karena dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang tingkat ekonomi, agama, suku dan bisa dibeli mulai di pinggir jalan, kantin sekolah sampai restoran dan hotel mewah. Cocok disantap pagi, siang atau malam hari.

Sementara itu, Lembaga kajian Prapancha Research (PR) menemukan nasi goreng, rendang, dan sate lebih terkenal secara global dibanding rata-rata masakan yang berasal dari Asia di jejaring sosial Twitter.

"Penelitian dilakukan dengan periode pencarian pada Juli 2011," kata peneliti dari PR Adi Ahdiat, beberapa waktu yang lalu.

Ketiga jenis makanan tersebut dibandingkan dengan tom yam (Thailand), bulgogi (Korea) dan bibimbap (Korea).

Hasilnya adalah nasi goreng yang paling banyak diperbincangkan di jejaring sosial dengan 2,3 juta perbincangan di luar Indonesia, diikuti rendang dengan 1,1 juta perbincangan, serta sate dengan 533 ribu perbincangan.

Sementara untuk tom yam, di luar Thailand memperoleh 254 ribu perbincangan, bulgogi dan bibimbap di luar Korea masing-masing memperoleh 210 ribu dan 162 ribu perbincangan.

Sedangkan kalau Indonesia diikutsertakan dalam pantauan, maka total perbincangan sate di Twitter akan mencapai 8,6 juta,  nasi goreng 5,4 juta dan rendang 2,5 juta perbincangan.

Ini jauh melampaui misalnya "lasagna", masakan internasional asal Italia, yang perbincangannya mencapai 3,8 juta, namun mendekati "spaghetti" yang mencapai 9 juta.

Bahkan perbincangan bibimbap dan bulgogi di luar Korea sendiri, paling banyak kedua adalah di Indonesia (bulgogi 40 ribu, bibimbap 26 ribu).

Semuanya pernah masuk ke dalam daftar 50 makanan terlezat dunia versi jajak pendapat CNN tahun 2011.

Chef Slamet Riyadi mengatakan bahan untuk membuat nasi goreng adalah nasi putih, minyak sayur, ayam, kecap, loncang, sambel terasi, telur, acar dan lada.

"Bumbu ditumis dengan minyak sayur dan setelah harum baru dimasukkan nasi putih," katanya.

        
              Belajar Memasak
Tidak hanya makan, orang asing rupanya juga tertarik untuk belajar masak nasi goreng. Akhir 2015, sekitar 25 mahasiswa, guru dan orang tua siswa Colegio Indonesia dan chef (koki) Instituto Gastronomico Corbuse mengikuti peragaan memasak nasi goreng yang diadakan di kampus Instituto Gastronomico Corbuse di Coacalco, Meksiko.

Pelaksana Fungsi Penerangan Sosial Budaya Kedutaan Besar RI di Meksiko Febby Fahrani menyebutkan demo memasak ini tidak hanya sebagai sarana mempererat hubungan sekolah dengan KBRI, tapi juga sarana memperkenalkan Indonesia.

Selain itu, pada Mei 2013 delapan mahasiswa asing dari Slovakia, Brazil, Rumania, dan Thailand, yang selama ini kuliah di Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya bahkan ikut memasak nasi goreng khas Jawa dengan "anglo" (alat memasak dari tanah).

Dalam kegiatan di Warung Pecel Murni, Jalan Ahmad Yani, Surabaya itu, para mahasiswa asing tampak antusias memasak nasi goreng dengan bahan-bahan dan peralatan yang telah disediakan sebelumnya, namun mereka sebelumnya menyaksikan demo memasak yang disampaikan pemilik Warung Pecel Murni, Dhima.

"Resep itu merupakan resep keluarga andalan warung Pecel Murni. Anglo sengaja dipilih karena memasak dengan anglo bisa mengurangi penggunaan minyak, namun tetap memberikan cita rasa yang tak kalah nikmat," kata Dhima.

Pewarta :
Editor : Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar