Kritik terkait pemangkasan gaji pemain membuat Suarez terluka

id Luis suarez, pemain barcelona, gaji pemain barcelona

Kritik terkait pemangkasan gaji pemain membuat Suarez terluka

FILE PHOTO: Soccer Football - La Liga Santander - FC Barcelona v Deportivo Alaves - Camp Nou, Barcelona, Spain - December 21, 2019 Barcelona's Luis Suarez celebrates scoring their fourth goal from the penalty spot REUTERS/Albert Gea (k)

Jakarta (ANTARA) - Penyerang Barcelona Luis Suarez menyatakan dirinya terluka akibat kritik seputar pemangkasan gaji para pemain di klubnya.

Menurut dia, banyak orang yang mengkritik terlalu lamanya pihak pemain menyetujui keputusan untuk dilakukan pemangkasan gaji.

"Hal itu menyakitkan, karena kami adalah pihak pertama yang ingin mencapai kesepakatan. Kami tahu situasi klub, situasi dunia saat ini, dan itu hanya mengenai detail minimal (yang menjadi sebab terlambatnya tercapai kesepakatan)," kata Suarez kepada stasiun radio Uruguay Sport890 seperti dikutip AFP.

Baca juga: Lionel Messi dan skuat Barcelona sepakat potong gaji 70 persen

"Namun orang-orang mengatakan kami, para pemain, tidak ingin melakukannya, bahwa para atlet bola basket dan bola tangan mencapai kesepakatan dan kami tidak," tambahnya.

Pada Senin, megabintang Barca Lionel Messi mengonfirmasi bahwa para pemain tim pertama akan menerima pemotongan gaji sebesar 70 persen.

Pemotongan gaji itu dilakukan agar pihak klub dapat tetap menggaji para staf di Barcelona, di tengah pandemi COVID-19 yang melumpuhkan sepak bola Spanyol dan dunia olahraga secara umum.

Baca juga: Barcelona dilaporkan pertimbangkan kembali latihan pada 27 April

Dalam wawancara itu, Suarez yang masih bertahan di Spanyol, meminta agar lockdown diterapkan di kampung halamannya, Uruguay.

"Itu merupakan solusi terbaik bagi semua pihak. Saya tahu situasinya begitu berat di Uruguay bagi orang yang mengandalkan upah harian, namun jika kita tidak berjalan bersama dan menuju arah yang tepat, akan sulit untuk keluar dari situasi ini," tuturnya.

Uruguay telah menutup sejumlah perbatasannya, menutup sekolah-sekolah dan pusat perbelanjaan, dan meminta masyarakat menjaga jarak satu sama lain.

Mereka belum menerapkan lockdown, dan dari catatan terakhir terdapat 350 kasus COVID-19 di negara Amerika Selatan tersebut dengan empat korban jiwa.

Pewarta :
Uploader : Admin Kalteng
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar