Berikut kegiatan yang dilakukan di Kalteng, terkait proyeksi lumbung pangan nasional

id Lumbung pangan nasional, pertanian, pulang pisau, pulpis, kapuas, lahan rawa gambut,Bptp kalteng, balai pengkajian teknologi pertanian, hortikultura

Berikut kegiatan yang dilakukan di Kalteng, terkait proyeksi lumbung pangan nasional

Pengecekan ke kondisi lahan lapangan di Desa Mulya Sari Pangkoh 3, Kecamatan Pandih Batu, Pulang Pisau baru-baru ini. (ANTARA/Ho-BPTP Kalteng)

Palangka Raya (ANTARA) - Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Kalimantan Tengah DR Syamsuddin menjelaskan, kontribusi lahan rawa terhadap produksi nasional memang masih rendah.

"Hal ini disebabkan luas rawa yang dimanfaatkan untuk pertanian masih sangat kecil, hanya 23,8 persen dari luas total lahan sawah di Indonesia," katanya saat dihubungi dari Palangka Raya, Selasa.

Kemudian, produktivitas yang dihasilkan juga masih rendah, yakni kurang dari empat ton per hektare dan masih di bawah angka rata-rata nasional sebesar 5,06 ton per hektare. Pengetahuan petani dan penguasaan inovasi teknologi budidaya di lahan juga masih perlu ditingkatkan.

Untuk itu, penunjukan lokasi optimalisasi lahan rawa di Kalimantan Tengah oleh presiden sebagai lumbung pangan masa depan Indonesia, disikapi segera oleh Gubernur Sugianto Sabran dengan membentuk tim percepatan pengembangan rawa gambut.

Pengembangan rawa gambut sebagai sentra produksi pertanian dan lumbung pangan nasional, dengan melakukan intesifikasi dan ekstensifikasi lahan rawa gambut di Pulang Pisau dan Kapuas.

Baca juga: Program 'Food Estate' di Pulang Pisau ciptakan peluang lapangan kerja baru

Baca juga: Mentan sebut prospek pertanian sangat menjanjikan


Pada Jumat (29/5) lalu, tim pakar rawa gambut dari BPTP, Universitas Palangka Raya, Universitas Muhammadiyah, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan dan beberapa perwakilan instansi terkait lainnya, mengunjungi Desa Mulya Sari Pangkoh 3, Kecamatan Pandih Batu, Pulang Pisau.

Tujuannya untuk mengetahui kondisi lahan, usaha tani, sistem budidaya, sarana dan prasarana pertanian, serta sosial masyarakat di kawasan eks Pengembangan Lahan Gambut (PLG) sejuta hektare Pulang Pisau.

"Kunjungan kerja tim tersebut, untuk memastikan potensi lahan yang dapat dikembangkan sebagai lahan produksi, memetakan kesesuaian pengembangan lahan, hingga penyediaan pangan nasional," jelasnya.

Baca juga: Antisipasi berbagai kendala pertanian di Kalteng

Baca juga: Kementan dorong Kalteng jadi lumbung pangan Indonesia


Selain itu, untuk mempersiapkan tindak lanjut pengembangan lahan eks PLG berupa optimalisasi lahan khususnya eks cetak sawah 2016-2017 yang belum dikelola, serta memastikan kawasan untuk percetakan sawah baru atau ekstensifikasi.

Sementara itu Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kalteng Sunarti menyatakan, kawasan Desa Mulya Sari Pangkoh 3, merupakan salah satu kawasan eks Pengembangan lahan PLG wilayah kerja di Blok C.

"Adapun luas hamparannya lebih dari 900 hektare dan baru dikelola masyarakat untuk pertanaman padi seluas 430 hektare dengan indeks pertanaman dua kali setahun (IP200), produktivitas rata-rata 4 ton per hektare," terangnya.

Baca juga: Dinas Pertanian Kotim dorong kebangkitan petani milenial

Baca juga: Diseminasi hidroponik Sawi Samhong King di Kalteng


Lebih lanjut disampaikan, masih rendahnya hasil panen disebabkan tidak optimalnya jaringan irigasi dan tata kelola air di kawasan eks PLG.

Dari luas wilayah kerja eks PLG Kalteng satu juta hektare di Blok A,B,C, dan D, luas lahan yang telah memiliki jaringan irigasi seluas 413.452 hektare dan luas baku sawah tersebar di Blok A,B, dan D seluas 59.705 hektare, sehingga ada potensi untuk ekstensifikasi di wilayah eks PLG dengan tetap memerhatikan kawasan hutan lindung dan konservasi, pasalnya di ekosistem lahan rawa menyimpan keanekaragaman hayati (biodiversity) yang tinggi.

Pewarta :
Uploader : Admin 4
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar