"Tugas saya sudah selesai, Pak"

id Yudha Herlambang, direktur RSUD dr Murjani Sampit, direktur RS Murjani meninggal, Sampit, Kotim, Kotawaringin Timur

"Tugas saya sudah selesai, Pak"

Istri dan anak-anak menabur bunga di pusara dr Febby Yudha Herlambang yang dimakamkan di area Masjid Darul Ma'rifah Jalan Tjilik Riwut km 2,5 Sampit, Kamis (26/11/2020). ANTARA/Norjani

Sampit (ANTARA) - Mendung menggelayuti Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur,  Kalimantan Tengah, ketika pesawat penerbangan khusus membawa jenazah Pelaksana Tugas Direktur RSUD dr Murjani Sampit, dr Febby Yudha Herlambang, tiba di Bandara Haji Asan Sampit, Kamis (26/11) sekitar pukul 09.00 WIB.

Usai peti jenazah dimasukkan ke dalam ambulans, iring-iringan mobil berjalan perlahan menuju RSUD dr Murjani Sampit. Di sepanjang jalan yang dilewati, beberapa warga yang sudah mengetahui iring-iringan akan lewat, sengaja berdiri di pinggir jalan untuk memberi penghormatan terakhir kepada almarhum dokter yang dikenal ramah tersebut.

Sementara itu bendera setengah tiang dinaikkan di halaman RSUD dr Murjani Sampit, melambangkan duka mendalam keluarga besar rumah sakit tersebut. Pita hitam disematkan di lengan simbol keprihatinan karena kehilangan.

Sesampainya iring-iringan di rumah sakit, puluhan pegawai berjejer di pinggir jalan menyambut dengan haru kedatangan ambulans membawa jenazah dr Yudha. Tidak pernah terpikirkan di benak mereka jika selama ini mereka disuguhi senyum ramah Yudha, kini kenyataan pahit yang dihadapi adalah harus menyambut dan melepas jenazah pemimpin rumah sakit tersebut.

Suasana haru sangat terasa ketika pintu ambulans dibuka dan terlihat peti jenazah berwarna putih. Semua orang menjadi sedih dan bahkan sebagian meneteskan air mata membayangkan pemimpin mereka yang dikenal baik hati, kini terbujur kaku di dalam peti jenazah tersebut.

Sebagai penghormatan terakhir, puluhan pegawai laki-laki melaksanakan shalat jenazah di halaman belakang rumah sakit tersebut. Air mata tak terbendung ketika pintu ambulans kembali ditutup dan perlahan iring-iringan mobil membawa jenazah dr Yudha meninggalkan halaman rumah sakit.

Cerita kenangan dan kebaikan almarhum terdengar dari banyak pegawai yang masih bertahan di beberapa sudut area rumah sakit. Dengan mata berkaca-kaca, mereka seakan masih tidak percaya bahwa pemimpin mereka itu kini telah tiada.

Pun bagi manajemen rumah sakit. Selama ini dr Yudha dikenal sebagai orang yang selalu memotivasi seluruh manajemen dan pegawai untuk terus bersemangat memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat, terlebih di tengah risiko tinggi pandemi COVID-19 yang terjadi sejak Maret lalu.

Wakil Direktur RSUD dr Murjani Sampit, dr Benjamin Kumila adalah salah satu rekan sejawat yang merasa sangat kehilangan atas kepergian dr Yudha. Benjamin baru menyadari ternyata almarhum seolah memberikan isyarat tentang kepergiannya, beberapa hari sebelum dia sakit dan harus dirawat intensif di ruang isolasi penanganan COVID-19.

"Beliau berkata kepada saya, Pak Ben (panggilan Benjamin), tugas saya sudah selesai, Pak Ben. Saya tidak menyangka ternyata itu kata-kata terakhir yang saya dengar dari beliau. Saya tidak tahu mengapa beliau berkata seperti itu," ujar Benjamin sambil menyeka air matanya.

Dokter yang kini lebih banyak duduk karena menderita penyakit tulang belakang ini nyaris tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Beberapa dokter lainnya mengusap pundak untuk menenangkan dan memberi motivasi kepada Benjamin.

Benjamin menceritakan, mereka sangat senang ketika dr Yudha dilantik menjadi Pelaksana Tugas Direktur RSUD dr Murjani Sampit menggantikan dr Denny Muda Perdana yang meletakkan jabatan dengan alasan kondisi kesehatan. Apresiasi itu lantaran harapan besar disematkan karena semua mengetahui bahwa Yudha adalah orang yang gesit dalam menjalankan tugas.

Secara pribadi Benjamin sangat kagum dengan pribadi rekannya itu. Sejak dirinya menderita sakit tulang belakang, Yudha lah yang terkadang melaksanakan tugas yang seharusnya menjadi kewajiban Benjamin. Hal itu yang membuatnya sangat sedih dan merasa kehilangan.

Semua merasa sangat kehilangan, bahkan sampai saat ini banyak yang seakan tidak percaya dr Yudha telah meninggalkan mereka. Keluarga besar RSUD dr Murjani Sampit sempat gembira ketika mendapat kabar pada Rabu (25/11) pagi kondisi Yudha membaik. Namun ternyata Allah berkehendak lain dan Yudha mengembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 18.00 WIB.

Menurut Benjamin, semua rekan sejawat sudah berusaha melakukan yang terbaik. Pihaknya selalu berkoordinasi dengan pihak keluarga dan sudah berkonsultasi dengan teman-teman di rumah sakit yang lain dan akhirnya dengan persetujuan pihak keluarga, dr Yudha dirujuk ke Rumah Sakit Kramat Jati Jakarta Timur.

"Kami mohon maaf kepada pihak keluarga atas keterbatasan kami. Teman-teman sejawat sudah berusaha. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami berserah kepada Yang Maha Kuasa," kata Benjamin.

Terkait perkembangan terakhir yang disampaikan pihak keluarga kepada Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Kotawaringin Timur bahwa hasil dua kali uji swab di RS Polri Kramat Jati yang menunjukkan hasil negatif, Benjamin enggan berkomentar.

"Kalau perkembangan terakhir seperti itu (negatif), itu bukan kewenangan kami memberikan keterangan. Itu ranah rumah sakit di sana karena mereka yang lebih tahu perkembangan terakhirnya," kata Benjamin.
Pegawai RSUD dr Murjani Sampit melaksanakan shalat jenazah dan memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum dr Febby Yudha Herlambang, Kamis (26/11/2020). ANTARA/Norjani

Sementara itu usai dishalatkan di halaman RSUD dr Murjani Sampit, jenazah dr Yudha kemudian dibawa dan dishalatkan di Masjid Darul Ma'rifah di Jalan Tjilik Riwut km 2,5 Sampit.

Ratusan jamaah yang sebagian besar santri pondok pesantren yang dikelola keluarga dr Yudha, mengikuti shalat jenazah tersebut. Selanjutnya jenazah ayah tiga anak itu dimakamkan di alkah keluarga yang lokasinya berada di depan masjid tersebut.

Pihak keluarga terlihat sangat terpukul atas kehilangan pria yang merupakan suami dan ayah yang baik tersebut. Sikap tegar dan tabah ditunjukkan dari putra sulung almarhum yang terlihat menenangkan ibu dan dua adiknya.

Perwakilan pihak keluarga menyampaikan terima kasih atas bantuan semua pihak. Pihak keluarga juga memohon maaf jika semasa hidup almarhum ada berbuat salah.

Sementara itu Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur diwakili Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kotawaringin Timur, Imam Subekti menyampaikan duka mendalam atas kepergian dr Yudha Herlambang.

Yudha yang dikenal cerdas merupakan aset yang sangat berharga dalam sumber daya manusia Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur. Pemerintah daerah mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas pengabdian almarhum selama ini. Keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan.

"Kita semua merasa kehilangan. Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Semoga kebaikan almarhum dibalas dengan ganjaran berlipat ganda. Semoga keluarga diberi ketabahan," ucap Imam.

Yudha Herlambang dilantik sebagai Pelaksana Tugas Direktur RSUD dr Murjani Sampit pada 30 April 2020 saat kasus COVID-19 sedang melonjak di Kabupaten Kotawaringin Timur. Dia bekerja keras dalam membantu penanganan COVID-19 karena rumah sakit yang dipimpinnya menjadi harapan terbesar dalam menyembuhkan pasien-pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19.

dr Febby Yudha Herlambang, pria kelahiran Surabaya pada 14 Maret 1977, merupakan lulusan SMA Taruna Nusantara Magelang tahun 1995 dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya tahun 2002.

Yudha menikah dengan Aynur Rizqa dan dikaruniai tiga orang anak. Pria yang dikenal sebagai sosok yang ramah, cerdas dan suka membantu ini meninggal dunia pada Rabu (25/11) sekitar pukul 18.00 WIB di RS Polri Kramat Jati Jakarta Timur.

Baca juga: Pejuang penanganan COVID-19 itu kini telah tiada

Baca juga: Dua kali hasil swab Yudha Herlambang negatif COVID-19

Baca juga: Operasional laboratorium PCR RSUD Murjani Sampit disesuaikan kemampuan personel

Pewarta :
Uploader : Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar