Populasi sapi di Pulang Pisau diprediksi menurun tanpa inseminasi buatan

id Populasi sapi di Pulang Pisau diprediksi menurun tanpa inseminasi buatan, Kalteng, pulang pisau, populasi sapi

Populasi sapi di Pulang Pisau diprediksi menurun tanpa inseminasi buatan

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Pulang Pisau, Ibrahim. ANTARA/Adi Waskito 

Pulang Pisau (ANTARA) - Populasi ternak sapi di Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah, diprediksi mengalami penurunan karena pemerintah setempat melalui Dinas Pertanian tidak mengalokasikan anggaran untuk pengembangan ternak sapi melalui kawin suntik atau inseminasi buatan. 

“Dua tahun ini kita tidak ada alokasi anggaran dari pemerintah daerah yang diperuntukan memberikan pelayanan kepada para peternak sapi untuk inseminasi buatan, meski usulan sudah kita sampaikan berkali-kali di dalam pembahasan anggaran,” kata Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Pulang Pisau, Ibrahim di Pulang Pisau, Selasa. 

Dikatakan Ibrahim, dalam dua tahun ini tidak ada anggaran yang dialokasikan untuk pembelian Straw N2 cair untuk memenuhi kebutuhan inseminasi buatan tersebut. Tahun pertama, bidang peternakan masih bisa bertahan karena ada bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Namun, di tahun kedua ini kebutuhan peternak untuk inseminasi buatan tidak akan bisa terpenuhi. 

“Kita tidak bisa selamanya hanya berharap pada bantuan dari pemerintah provinsi atau kementerian, karena yang berperan besar adalah anggaran pemerintah setempat untuk memenuhi kebutuhan daerahnya sendiri,” ucap Ibrahim. 

Populasi sapi yang ada di Kabupaten Pulang Pisau mencapai 10 ribu ekor dengan jumlah sapi betina produktif mencapai 1.700 ekor yang menjadi cikal bakal untuk dikembangkan melalui kawin suntik. Saat ini para peternak sapi sudah terbiasa dan lebih memilih pengembangan ternak melalui kawin suntik daripada kawin alami yang lebih memiliki resiko untuk memunculkan bibit turunan yang unggul. 

Baca juga: ATR/BPN Pulang Pisau sebut Badan Bank Tanah masih wacana

Kawin alami, terang Ibrahim, sangat beresiko dengan kondisi air di kabupaten setempat yang memiliki kadar asam yang tinggi dan kurang zat kapur. Saat sapi pejantan menaiki betina dikhawatirkan roboh dan patah tulang bisa terjadi dan menyebabkan peternak merugi. 

Untuk memperbaiki keturunan sapi yang berkualitas melalui mutu genetik ternak, terang Ibrahim, biasa inseminasi buatan dikawinkan dengan bibit unggul seperti Limosin, Brahman dan Simental. 

Selain itu melalui kawin suntik, juga menghindari terjadinya kawin sedarah. Terkait dengan kebutuhan anggaran, Ibrahim menjelaskan cukup dialokasikan Rp150 Juta sudah memenuhi permintaan pelayanan bagi para peternak sapi di kabupaten setempat selama satu tahun. 

“Keuntungan lain dari kawin suntik ini, nilai jual ternak sapi yang dihasilkan menjadi lebih mahal. Seperti sapi Limosin berumur tiga bulan saja bisa laku mencapai Rp10 Juta, sehingga lebih menguntungkan bagi para peternak sapi,” demikian Ibrahim. 

Baca juga: Desa Gandang berhasil kembangkan ternak kambing melalui usaha kelompok

Pewarta :
Uploader : Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar