Palangka Raya (ANTARA) - Legislator yang merupakan Anggota Komisi II DPRD Palangka Raya, Kalimantan Tengah Khemal Nasery mengatakan, pemulihan gambut sangat penting untuk dilakukan.
“Lahan gambut yang rusak akibat karhutla tidak bisa dibiarkan begitu saja. Pemulihan ekosistem harus menjadi bagian dari penanganan jangka panjang agar tidak terjadi kerusakan lingkungan yang lebih parah,” katanya di Palangka Raya, Rabu.
Untuk itu pemerintah kota diminta tidak hanya fokus pada pemadaman saat terjadi karhutla, tetapi juga serius dalam melakukan pemulihan ekosistem khususnya lahan gambut yang rusak akibat kebakaran.
Ia menekankan, lahan gambut memiliki peran penting sebagai penyimpan cadangan air dan pengatur iklim mikro, sehingga ketika rusak, tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga meningkatkan potensi kebakaran berulang.
“Pemerintah harus menyusun langkah konkret, mulai dari rewetting atau pembasahan kembali lahan gambut, rehabilitasi vegetasi alami, hingga edukasi kepada masyarakat sekitar kawasan rawan karhutla,” ucapnya.
Khemal juga mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah dengan lembaga konservasi, akademisi, serta masyarakat adat dalam proses pemulihan.
Baca juga: Ketua DPRD Palangka Raya sebut Sekolah Rakyat wujudkan pemerataan pendidikan
Dia menilai, upaya pemulihan gambut tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan memerlukan perencanaan matang dan pendanaan yang berkelanjutan, serta kegiatan ini juga harus didukung oleh data ilmiah terkait kondisi lahan, agar langkah yang diambil sesuai dengan karakteristik wilayah.
“Tanpa data yang valid, kita hanya akan mengulang kesalahan yang sama. Pemulihan harus berbasis pada penelitian, sehingga program yang dijalankan tepat sasaran dan benar-benar mengembalikan fungsi ekologis lahan gambut,” ujarnya.
Khemal menambahkan, keberhasilan pemulihan gambut juga sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat, selain itu edukasi mengenai manfaat menjaga gambut, larangan membuka lahan dengan cara membakar, serta pemanfaatan alternatif lahan secara ramah lingkungan perlu terus digalakkan.
Ia mengingatkan, kerusakan gambut tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga kesehatan manusia, sebab asap yang ditimbulkan dari kebakaran gambut mengandung partikel berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit pernapasan dan gangguan kesehatan jangka panjang.
“Kalau kita ingin melindungi generasi mendatang, maka menjaga dan memulihkan gambut adalah salah satu langkah penting. Ini bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga menyangkut kesejahteraan dan keselamatan masyarakat,” demikian Khemal.
Baca juga: Fakultas Pertanian dan Kehutanan UMPR buka Program S2 Ilmu Pertanian
Baca juga: Prodi Hukum Keluarga UMPR evaluasi kurikulum tingkatkan serapan kerja lulusan
Baca juga: Wakil Wali Kota Palangka Raya minta mahasiswa kritis membangun daerah
