Industri hilir sawit tumbuh positif, ini faktor pendorongnya

id industri hilir sawit,sawit

Ilustrasi - Seorang pekerja dengan bantuan kendaraan angkut memindahkan kardus berisi margarin di pabrik industri hilir kelapa sawit. (FOTO ANTARA/Saptono)

Jakarta (Antaranews Kalteng) - Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengungkapkan industri hilir sawit nasional mengalami pertumbuhan positif pada 2018 baik untuk sektor minyak nabati, oleokimia, maupun biodiesel.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga di Jakarta, Sabtu, mengatakan, ada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir yaitu produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa, diplomasi dagang pemerintahan Joko Widodo yang sangat aktif, tindakan retaliasi AS dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko, maupun Uni Eropa, dan menguatnya kurs mata uang Amerika Serikat.

"Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global," kata Sahat dalam silaturahmi bersama media dengan tiga asosiasi industri hilir sawit yaitu Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN).

Sementara itu Ketua Umum APOLIN Rapolo Hutabarat, memproyeksikan volume ekspor produk oleokimia tumbuh 22 persen menjadi 4,4 juta ton, dibandingkan tahun lalu berjumlah 3,6 juta ton.

Peningkatan ekspor oleokimia ditopang tren kenaikan konsumsi global produk oleokimia di sektor kosmestik, industri, ban dan pengeboran minyak.

Di dalam negeri, menurut dia, kegiatan ekspor semakin menarik karena ada investasi baru oleokimia seperti PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever.

Seluruh faktor ini yang menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia dengan nilai ekspor mencapai 3,3 miliar dolar AS pada 2017.

Tahun ini, tambahnya, diperkirakan nilai ekspor naik menjadi 3,6 miliar dolar sementara hingga triwulan pertama, volume ekspor oleokimia 1,1 juta ton dengan nilai perdagangan 915 juta dolar AS.

Untuk minyak goreng, menurut Sahat Sinaga, produk minyak goreng curah akan beralih kepada kemasan yang mana memperkirakan proses transisi ini akan selesai pada 2019.

"Nanti  2020 tidak ada lagi minyak goreng yang dijual curah," ujarnya.

Pada 2018, konsumsi minyak goreng domestik diperkirakan mencapai 12,759 juta ton, lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11,056 juta ton.

Tahun ini, lanjutnya, penggunaan minyak sawit untuk dalam negeri masih didominasi untuk pangan, dengan rincian, sebanyak 8,414 juta ton untuk makanan dan specialty fats. Sementara itu, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle, lalu, 3,5 juta ton memenuhi kebutuhan biodiesel.

Menurut Paulus Tjakrawan, Ketua Harian APROBI, tahun ini pemakaian biodiesel di dalam negeri naik sekitar 500 ribu.

Kenaikan tersebut, lanjutnya, dapat terealisasi asalkan penggunaan biodiesel non-subsidi dapat berjalan, ditambah dengan pemakaian biodiesel untuk campuran bahan bakar kereta api dan alat berat pertambangan.

"Jika konsumsi B-20 dipakai kereta api, maka konsumsi domestik bisa tambah sekitar 200 ribu sampai 500 ribu kiloliter,"ujar Paulus.

Sementara itu, menurut Paulus, keputusan WTO yang memenangkan gugatan Indonesia terhadap kebijakan anti dumping Uni Eropa menjadi angin segar bagi industri sawit nasional.

Selain itu Komisioner Eropa mengirimkan sinyal tidak mendukung resolusi sawit yang diusulkan Parlemen Eropa, sehingga sejumlah produsen biodiesel menjajaki pengiriman biodiesel ke Eropa, yang sempat terhenti beberapa tahun terakhir.

"Diproyeksikan ekspor biodiesel Indonesia ke Eropa mencapai 500 ribu kiloliter sampai akhir tahun ini. Walaupun, adapula  biodiesel yang dijual ke negara lain, tapi jumlahnya kecil," ujarnya.

Pewarta :
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar