Gaharu hutan andalan pendapatan warga Bangkal Seruyan

id Gaharu hutan,seruyan,Gaharu hutan andalan pendapatan warga Bangkal Seruyan

Kayu gaharu yang berhasil dikumpulkan sebagian warga Desa Bangkal Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan saat dibersihkan untuk kemudian dijual kepada pengumpul dengan harga yang bervariasi sesuai kualitas. (Ist)

Kuala Pembuang (Antaranews Kalteng) - Sebagian warga di Desa Bangkal, Kecamatan Seruyan Raya, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah mengandalkan sisa kayu gaharu hutan sebagai mata pencaharian dan sumber pendapatan utama.

"Usaha mencari gaharu hutan ini sudah saya tekuni sejak lama untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari," kata Herman (31), salah seorang pencari kayu gaharu asal Desa Bangkal, Kecamatan Seruyan Raya, Jumat.

Ia menjelaskan, kayu gaharu atau yang disebut warga dengan gaharu buaya yang terpendam di dalam tanah dicari di kawasan bekas "land clearing" perkebunan perkebunan kelapa sawit yang berada di sekitar desa.

"Saat mencari kayu gaharu saya tidak sendiri, tapi berkelompok dan satu kelompok hingga lima orang," katanya.

Ia mengatakan, mencari kayu gaharu cukup sulit dilakukan karena posisinya yang terpendam di dalam tanah. Pencari gaharu harus menyusuri kawasan perkebunan sawit yang luas untuk menemukan gaharu di dalam tanah hanya berpatokan pada bagian kecil gaharu yang muncul kepermukaan.

Selain sulit, gaharu yang ditemukan jumlah tidak menentu. Apabila beruntung, sekali cari jumlah kayu gaharu yang ditemukan cukup banyak hingga mencapai 50 kilogram.

"Tapi pernah juga seharian menyusuri kawasan perkebunan, gaharu yang dicari tidak ketemu, akhirnya kita pulang dengan tangan kosong," katanya.

Ia menambahkan, kayu gaharu yang berhasil ditemukan kemudian dibersihkan, namun tidak langsung dijual. Tapi dikumpulkan hingga banyak, baru dijual ke pengumpul.

Harga jual kayu gaharu sendiri bervariasi antara Rp1.500 per kilogram hingga Rp2.000 per kilogram, dan jika kualitasnya bagus bisa mencapai Rp9.000 per kilogram.

"Dari pengumpul di Desa Bangkal, gaharu itu kemudian dijual ke Sampit, Kotawaringin Timur, salah satunya untuk dijadikan bahan membuat kemenyan serta bahan lainnya," katanya.

Menurutnya, meski mencari kayu gaharu sangat sulit dilakukan karena letaknya di dalam tanah. Namun hal itu harus dilakukan setiap hari karena sulitnya mencari pekerjaan, terutama bagi warga dengan pendidikan rendah seperti dirinya.

"Karena tidak ada pekerjaan lain. Maka saya melakukan apa yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga," katanya.
 

Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar