Atasi obesitas dengan operasi bariatrik, amankah?

id obesitas,operasi bariatrik,Atasi obesitas dengan operasi bariatrik

Muhammad Naufal Abidllah (23) yang semula memiliki bobot tubuh 239 kilogram lalu menjalani bedah bariatrik jenis sleeve gastrectomy pada tahun 2018. Kini beratnya turun 36 kilogram. (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Jakarta (ANTARA) - Bedah bariatrik menjadi salah satu jalan keluar untuk mengatasi masalah kesehatan obesitas. Namun, tak semua penderita obesitas bisa menempuh prosedur ini.

Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestive RS Pondok Indah, Dr. dr. Peter Ian Limas, Sp. B-KBD mengatakan hanya mereka yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) di bawah 27,5 yang bisa menjalani bedah bariatrik.

"Karena biaya. Bukan berarti tanpa risiko. Kalau hanya mau menghilangkan 10 kilogram dengan biaya sekian, enggak pantas. Makanya lebih ke arah berat badan yang lebih tinggi," kata dia di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Benarkah operasi sesar tingkatkan risiko obesitas pada anak

Ada empat jenis bedah bariatrik, dua di antaranya umum dilakukan di Indonesia, yakni sleeve gastrectomy dan gastric bypass. Kedua tindakan ini sama-sama memiliki hasil akhir penurunan berat badan akibat berubahnya bentuk organ pencernaan pasien sehingga mempengaruhi pola makan dan penyerapan makanan di dalam tubuh.

Sleeve gastrectomy merupakan tindakan pemotongan lambung pasien kurang lebih sebanyak 85 persen sehingga ukuran lambung jadi lebih kecil.

Sementara gastric bypass adalah tindakan penggabungan bagian atas lambung dengan usus kecil sehingga makanan tidak lagi melewati lambung dan kalori makanan yang diserap sedikit.

Baca juga: Setahun mengonsumsi mi instan, Narti alami obesitas hingga 250 kg

Kisah Naufal

Salah satu pasien yang pernah menjalani sleeve gastrectomy adalah Muhammad Naufal Abidllah (23). Pria yang semula memiliki bobot 239 kilogram pada Desember 2018 kini berat badannya susut 36 kilogram.

"Seperti yoyo, ketika sudah berat (badannya) ikut diet lalu turun, naik lagi. Sampai puncaknya 239 kilogram. Saya dari kecil setiap bulan naik (bobot) satu kilogram. Sakit saja naik setengah kilogram. Waktu kelas 6 SD berat saya 110 kilogram," kata Naufal.

Menyoal kasus Naufal, Peter mengatakan bahwa pilihan sleeve gastrectomy bukannya gastric bypass karena ada kemungkinan sang pasien membutuhkan tindakan lebih lanjut.

Baca juga: Ini yang dirasakan Titi Wati setelah lambungnya dipotong

"Pada prinsipnya pengobatan harus kerjasama dengan pasien. Ini bukan telur emas, enggak mau diet, olahraga bisa selesai. Tidak begitu," kata Peter.

Dia berharap melalui teknik sleeve gastrectomy berat badan Naufal bisa turun menjadi 80 kilogram.

Menurut Peter, teknik bedah bariatrik bisa menghilangkan 55 hingga 85 persen berat badan dengan pengurangan IMT 20-40 kg/m2.

Lalu, apakah semua penderita obesitas bisa menjalani kedua teknik bedah ini? Peter mengungkapkan sleeve gastrectomy tidak bisa dilakukan pada mereka yang mengalami panas di ulu hati.

Baca juga: Kecukupan gizi awal kehidupan pengaruhi terjadinya obesitas

Sementara gastric bypass tak disarankan bagi penderita obesitas yang tak bisa menahan diri mengonsumsi makanan manis dalam jumlah banyak.

"Karena terlalu banyak makanan manis sekaligus ada efek dumping yakni karbohidrat cepat masuk ke usus halus, insulin banyak sehingga overwhelming. Gula darah drop. Terasa sakit perut, mules," kata Peter.

 

Pewarta :
Editor: Admin Kalteng
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar