Seberapa penting membangun pola komunikasi dengan anak?

id membangun pola komunikasi dengan anak,Seberapa penting membangun pola komunikasi dengan anak?,hubungan orang tua dengan anak,psikolog anak

Seberapa penting membangun pola komunikasi dengan anak?

Ilustrasi orangtua dan anak (ANTARA News/Shutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Membangun pola komunikasi yang terbuka dengan anggota keluarga khususnya anak bukan hal yang mudah, apalagi budaya di Indonesia tidak terbiasa untuk menyampaikan pendapat secara langsung.

Psikolog anak Dian Nirmala S.Psi, M.Psi mengatakan para orang tua memiliki tantangan yang cukup besar untuk membuat anak terbiasa mengungkapkan isi hati atau pikiran mereka pada orang yang lebih tua.

"Di Indonesia itu budayanya enggak pernah langsung terbuka untuk ngomong ke masalah intinya apa, harus basa-basi dulu, ngomong hal lain dulu, ngomong masalah orang lain dulu," ujar Dian dalam bincang-bincang virtual #SayItwithOreo, Rabu.

Menurut Dian, komunikasi antara anak dan orang tua berpengaruh pada tumbuh kembangnya dan hal tersebut akan terbawa hingga dewasa. Jika komunikasi lancar, anak akan percaya diri, kreatif dan berani mencoba berbagai tantangan.

Baca juga: Haruskah menunda vaksinasi ketika anak batuk pilek?

Sebaliknya, jika komunikasi tidak berjalan dengan lancar maka akan muncul kesalahpahaman, salah menilai dan keliru dalam bersikap.

"Itu akan menimbulkan potensi masalah yang besar. Keluarga diharapkan jadi wadah untuk anak menghadapi konflik, karena di rumah itu kan biasa ada perbedaan pendapat dan pandangan. Kalau anak enggak biasa menghadapi konflik, ke depannya rentetan masalahnya akan panjang sekali," jelas Dian.

Cara memancing komunikasi dengan anak pun beragam, salah satunya dengan mengajak anak terlibat dalam aktivitas seperti bermain bersama.

"Bisa dimulai dengan aktivitas yang suasananya menyenangkan, dan menuntun untuk kreatif. Suasana menyenangkan berpengaruh pada tumbuh kembang dan relasi anak. Tumbuh kembang mengasah anak untuk keterampilannya, kreativitas, gagasan dan apa yang jadi minatnya," ujar Dian.

"Kalau relasi, kegiatan yang berbasis aktivitas akan menjadi jembatan interaksi yang lebih dalam. Bonding itu rasa saling percaya, anak ke orang tua, orang tua ke anak. Kepercayaan ini bisa terwujud dengan cara kalau aktivitas dilakukan bersama supaya ada keterlibatan aktif. Karena dari situ ada ungkapkan pendapat kalau sudah biasa jadinya lebih nyaman untuk mengungkapkan perasaan terdalam," lanjutnya.

Baca juga: Benarkah anak lahir caesar lebih berisiko terkena alergi?

Baca juga: Mungkinkah anak bisa belajar berdiri tanpa bisa duduk dahulu?

Baca juga: Agar anak suka dan terbiasa makan sayur, berikut tipsnya

Pewarta :
Uploader : Admin Kalteng
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar