Sampit (Antara Kalteng) - Kesulitan air bersih tidak hanya dialami warga di pesisir dan pedalaman Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, tetapi juga di sejumlah lokasi di kawasan kota sehingga warga harus patungan membuat sumur bor.
"Di tempat kami airnya berwarna coklat karena tanahnya gambut. Kalau mau dapat sumber air bersih, harus mengebor sampai kedalaman seratus meter lebih, tapi biayanya sangat mahal. Makanya sekarang banyak yang patungan membuat sumur bor dalam itu," kata Ina, warga di Perumahan Tidar Baru Sampit, Sabtu.
Warga terpaksa harus mencari solusi sendiri untuk mengatasi kesulitan air bersih. Saat ini layanan air bersih oleh Perusahaan Daerah Air Minum Dharma Tirta Sampit masih sangat terbatas karena terbatasnya produksi air bersih.
PDAM belum membuka pendaftaran baru sehingga masyarakat harus memikirkan sendiri cara memenuhi air bersih. Jatah fasilitas sumur bor yang disediakan pengembang umumnya hanya kedalaman hitungan belasan meter sehingga untuk kawasan gambut tebal seperti di Perumahan Tidar Baru, sebagian Perumahan Wengga dan perumahan lainnya, air yang didapat belum jernih.
Untuk membuat sumur bor dengan kedalaman puluhan meter sehingga mendapatkan air yang jernih, kabarnya menelan biaya hingga belasan juta. Untuk mengurangi beban biaya, warga kini banyak yang membuat sumur bor secara patungan sehingga biaya menjadi lebih ringan.
"Kalau saya biasanya beli air dari pedagang air keliling. Tak ada pilihan lagi karena sampai saat ini jaringan PDAM belum ada masuk ke sini. Tapi air bersih yang dibeli itu diutamakan untuk konsumsi dan mencuci baju-baju warna putih. Kalau untuk mandi, masih bisa air yang ada meski sebenarnya kurang jernih," kata Iwan, warga lainnya.
Masyarakat berharap pemerintah daerah mendorong PDAM meningkatkan kapasitas layanan. Sangat ironis jika masyarakat di kawasan perkotaan pun kesulitan mendapatkan air bersih padahal lokasinya tidak jauh dari tempat pengolahan air PDAM.
