Harga karet turun, petani di Barut terpukul

id harga karet,petani karet,harga karet di barut

Seorang petani karet merendam karet di Sungai Barito di Desa Benao Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara (FOTO ANTARA Kalteng/Kasriadi)

Muara Teweh (Antaranews Kalteng) - Harga karet di pedalaman Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, pada pertengahan Juli 2018 turun tipis menjadi Rp6.200 per kilogram dari sebelumnya Rp6.500/kg.

"Meski hanya turun sedikit harga karet itu membuat petani di daerah ini kembali terpukul," kata Igang, seorang petani karet di Kelurahan Jambu Kecamatan Teweh Baru, Kamis.

Igang mengatakan, posisi harga karet yang kembali turun ini membuat petani kembali tidak bergairah, setelah harga jual bulan lalu sempat membaik.

Kabupaten yang terletak di pedalaman Sungai Barito merupakan sentra kebun karet di Provinsi Kalimantan Selatan. Penduduknya dominan sebagai petani yang bergerak di sektor perkebunan karet.

Posisi harga yang turun ini hampir merata terjadi pada sentra kebun karet di kabupaten ini. Produksi kebun karet rakyat dominan ditampung kalangan pedagang yang mendatangi kebun petani, atau lebih dikenal sebutan tengkulak.

"Ini juga bisa karena ulah tengkulak yang memang menguasai petani," katanya, seraya menambahkan para tengkulak mengaku patokan harga beli disesuaikan dengan posisi harga jualnya di kalangan pedagang di Banjarmasin, pusat pemerintahan Kalimantan Selatan.

Luas kebun karet rakyat di kabupaten yang juga dikenal kaya potensi sumber daya alam batu bara itu, tercatat 46.062 hektare dengan produksi karet kering mencapai 13.411,49 ton per tahun.

Kebun karet rakyat itu tersebar pada sembilan kecamatan di kabupaten tersebut.Budi Suyanto

Pewarta :
Editor: Admin Kalteng
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar