Begini rasanya diwisuda secara daring

id Begini rasanya diwisuda secara daring, Kotim, universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Sampit, Kotawaringin Timur

Begini rasanya diwisuda secara daring

Wajah Ibnu Yustiya Ramadhan (tengah) muncul dalam tayangan saat dia diwisuda secara daring dalam program studi Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Program Studi Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga, Sabtu (19/9/2020). ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi

Sampit (ANTARA) - Wisuda biasanya menjadi kebanggaan karena tanda bahwa mahasiswa telah merampungkan kuliahnya, namun di tengah pandemi COVID-19 ini seremonial sakral itu umumnya terpaksa dilakukan secara daring atau online.

"Tentunya berbeda dengan wisuda secara langsung yang bisa disaksikan secara bersama-sama dengan kawan-kawan dalam satu ruang yang sama, serta ada dokumentasi prosesi wisuda langsung," kata Ibnu Yustiya Ramadhan di Sampit, Sabtu.

Ibnu adalah warga Sampit yang hari ini mengikuti wisuda Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Program Studi Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga. Seremonial wisuda dilaksanakan di kampus mereka di Surabaya, namun Ibnu dan peserta lain mengikuti prosesi wisuda dari rumah masing-masing.

Untuk wisuda kali ini, Rektor Universitas Airlangga mewisuda sebanyak 2.701 lulusan. Dari jumlah tersebut, 11 di antaranya merupakan mahasiswa internasional berasal dari Malaysia, Kenya, Zimbabwe, Nepal, The Gambia, Rwanda, Uganda, Timor Leste, dan Tukinistan.

Prosesi wisuda dilaksanakan empat sesi selama dua hari yakni Sabtu dan Minggu. Semua dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) atau online.

Tidak pernah terbayang di benak Ibnu bahwa dia akan menjalani wisuda secara daring. Namun wisudawan yang mengangkat tesis dengan judul "Dinamika Lokalitas dan Modernitas Suku Banjar dalam Novel Jendela Seribu Sungai karya Miranda Seftiana dan Avesina Soebli" bersama lulusan lainnya harus bisa menerima karena situasi memang belum memungkinkan untuk dilakukan wisuda secara tatap muka.

Hasilnya, pria kelahiran 26 Januari 1996 yang merupakan putra Ketua Komisi III DPRD Kotawaringin Timur, Sanidin dan istrinya Emmy Yulmartina A Djaja ini harus merasa puas menjalani wisuda secara daring. 

Dia menggunakan toga di rumahnya menunggu giliran namanya disebut, kemudian dilakukan proses wisuda secara daring. Saat proses itu, wajah Ibnu ditayangkan di layar saat rektor melakukan prosesi sakral wisuda.

Ibnu merupakan alumni MIN Sampit lulus 2007, MTs Negeri Sampit lulus 2010, SMA Negeri 1 Sampit lulus 2013, Universitas Negeri Malang 2017 (S-1) Bahasa dan Sastra Indonesia serta lulus Pascasarjana UNAIR 2020.

Meski menjalani wisuda secara daring, dia mengaku senang karena bisa menyelesaikan kuliahnya. Momen wisuda dalam suasana yang tidak biasa ini akan menjadi kenangan baginya dan lulusan lainnya.

"Saya menganggap ini juga merupakan suatu keunikan tersendiri dengan diwisuda yg belum pernah terbayangkan sebelumnya. Ini pengalaman tersendiri karena pada saat lulus sarjana S1, saya diwisuda secara normal yaitu wisuda secara tatap muka seperti wisuda pada umumnya, sedangkan kali ini melaluinya daring," ujar Ibnu.
 
Yulia Kartika Sari, mahasiswi Program Studi Magister Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Palangka Raya mengikuti sidang tesis secara daring dari rumahnya di Sampit, Kamis (17/9/2020). ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi

Pengalaman hampir sama dirasakan Yulia Kartika Sari. Pegawai negeri sipil di Dinas Pemuda dan Olahraga Kotawaringin Timur ini harus menjalani sidang tesis secara dari atau online pada Kamis (17/9) lalu.

Mahasiswi Program Studi Magister Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Palangka Raya ini mengaku gugup menghadapi dosen penguji meski tidak berhadapan secara tatap muka. Dia mengikuti sidang tesis dari rumahnya di Sampit, sementara dosen penguji berada di kampus mereka di Palangka Raya.

Yulia membayangkan bagaimana tegangnya jika saat itu sidang dilakukan secara tatap muka. Dari sisi ini, sidang tesis secara daring dinilai lebih mudah.

"Gugup juga. Takut jaringan atau sinyalnya hilang di tengah kegiatan. Di sisi lain, momennya (sidang tesis secara daring) kurang greget. Kurang berkesan," ucap putri pasangan Pramono dan Yuliasih.

Meski begitu, Yulia menyadari bahwa situasi pandemi COVID-19 mengharuskan kegiatan lebih diutamakan secara daring sesuai protokol kesehatan pencegahan COVID-19. Dia bersyukur sejauh ini semua berjalan dengan lancar dan berharap bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik.

Baca juga: Penyelenggara Pilkada Kotim harus tingkatkan kepercayaan publik

Baca juga: Jenazah pelajar SMP tenggelam di Sungai Mentaya akhirnya ditemukan

Baca juga: DPRD Kotim ingatkan penggunaan APBD jangan memihak kepada peserta pilkada