Sampit (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah mengantisipasi peningkatan volume sampah selama Ramadhan, salah satunya dengan memberlakukan jam pembuangan sampah agar tidak menumpuk lama di depo.
“Menghadapi Ramadhan memang sedikit banyak akan terjadi peningkatan volume sampah, tapi tidak seberapa. Untuk itu juga, kami mulai menggeser jam pembuangan sampah agar tidak ada lagi yang buang sampah sembarang waktu,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kotim Marjuki di Sampit, Kamis.
Ia menjelaskan, adanya kebijakan efisiensi anggaran tidak memungkinkan pihaknya untuk melakukan penambahan armada maupun tenaga jelang Ramadhan.
Namun, DLH Kotim akan berupaya memaksimalkan sarana prasarana dan sumber daya yang ada dalam hal penanganan sampah, terlebih selama Ramadhan yang biasanya diikuti dengan fenomena peningkatan volume sampah.
Pemberlakuan jam buang sampah pun menjadi salah satu upaya DLH dalam rangka pengelolaan sampah yang optimal. Sebab, biasanya sampah di depo terkesan selalu menumpuk karena warga yang membuang sampah tidak beraturan.
Misalnya, pengangkutan sampah menggunakan truk dari depo menuju tempat pembuangan akhir dilakukan pada pagi hari, namun setelah sampah diangkut ada lagi warga yang membuang sampah sehingga seolah-olah sampah di depo tidak pernah habis.
Di sisi lain, terbatasnya jumlah armada pengangkut dan terdapat delapan depo yang harus ditangani tidak memungkinkan untuk terus bolak-balik mengangkut sampah pada satu depo di hari yang sama.
Baca juga: Pemkab Kotim jelaskan penyebab DBH sawit 2025 Kotim turun drastis
“Sekarang jam buang sampahnya kami geser, yakni dari pukul 14:00 WIB sampai sore, supaya ada jeda untuk pengangkutan sampah dari depo ke tempat pembuangan akhir. Jadi kami harap masyarakat bisa mengikuti aturan itu,” ujarnya.
Ia menyebutkan, sebagian besar sampah berasal dari masyarakat maka untuk penanganannya diharapkan keterlibatan dari masyarakat pula. Bukan hanya pada saat kegiatan gotong royong pada hari-hari nasional, tapi juga dalam keseharian.
Mulai dari tidak membuang sampah sembarangan dan mematuhi aturan dalam membuang sampah di depo, baik dari segi waktu dan tata cara, contohnya tidak sekadar meletakkan sampah di luar atau depan pintu depo, tapi masuk dan meletakkan sampah itu ke dalam.
Berkaitan dengan Ramadhan, biasanya Pasar Ramadhan atau sejenisnya menjadi penghasil sampah yang cukup besar. Dalam hal ini, ia mengimbau kesadaran dari pengelola pasar tersebut agar bisa mengelola penanganan sampah secara mandiri dan tertib.
DLH Kotim tidak menyediakan petugas atau armada khusus untuk menangani sampah di suatu kegiatan atau lokasi acara, sehingga kesadaran dari pihak yang terlibat sangat penting agar tidak terjadi penumpukan sampah yang dapat membawa permasalahan lainnya.
“Makanya penanganan sampah itu oleh semua pihak, terutama kalau ada event itu pengelola usaha harus bisa ikut berkontribusi dalam pengelolaan sampah ini supaya tidak ada lagi bau dan lainnya yang dapat mengganggu kelancaran kegiatan,” demikian Marjuki.
Baca juga: Kotim tunggu realisasi bantuan cetak sawah
Baca juga: Bea Cukai Sampit musnahkan ratusan ribu rokok ilegal
Baca juga: DPRD Kotim minta penyusunan RKPD berpihak kepada masyarakat