Perluas cakupan pemeriksaan massal 'rapid test' di Kalteng

id Rapid test massal, pasar besar palangka raya, virus corona, covid 19, tes cepat, kalteng, kalimantan tengah, tim gugus tugas

Perluas cakupan pemeriksaan massal 'rapid test' di Kalteng

Rapid test di Palangka Raya, Selasa, (26/5/2020). (ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

Palangka Raya (ANTARA) - Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Kalimantan Tengah, berupaya meningkatkan pemeriksaan massal menggunakan metode 'rapid test' atau tes cepat.

"Saat ini sudah mengembangkan kolaborasi dengan semua pihak, untuk mengejar pemeriksaan massal," kata Ketua Gugus Tugas COVID-19 Kalteng Sugianto Sabran, melalui Wakil Ketua Pelaksana Harian Suyuti Syamsul di Palangka Raya, Selasa.

Untuk itu, pihaknya saat ini sedang mempersiapkan pengadaan kembali alat rapid test, sehingga bisa terus dikerjakan di kabupaten.

Bahkan rencananya jika tidak ada halangan, Rabu (27/5) juga akan dilakukan di Kapuas. Cakupan tersebut akan terus diperlebar, sehingga pada akhirnya rantai penyebaran virus tersebut bisa segera diputus.

Ia menjelaskan, mereka yang dites swab adalah yang reaktif saat mengikuti rapid test. Pola penyaringan seperti itu dipilih, mengingat terbatasnya kapasitas pemeriksaan pada laboratorium di Rumah Sakit Doris Sylvanus (RSDS).

"Kalau swab, punya kapasitas maksimal, sekitar 100 tes per hari. 100 tes loh ya, bukan 100 orang, artinya kurang lebih 50-70 orang, pasien perhari sebanyak itu rata-ratanya," ungkapnya.

Selain itu tidak dilakukannya uji swab secara massal di lapangan, sebab pengambilan sampel yang justru akan berbahaya, karena berpotensi menyebar saat berada di lingkungan terbuka.

Menurutnya, saat ini pada pasar di Palangka Raya ada sekitar 100 lebih yang mengikuti rapid test, dan mungkin saja jumlahnya bertambah.

"Tidak ada jumlah tertentu yang ditargetkan, sedapatnya saja," terangnya yang juga menjabat Kepala Dinas Kesehatan Kalteng tersebut.

Ia juga menjabarkan, sebelumnya provinsi menawarkan kepada kabupaten dan kota, mengadakan alat rapid test secara kolaborasi yang digunakan dalam pemeriksaan dengan cakupan lebih luas.

Jika memang benar bisa dilakukan dan direalisasikan, maka rapid test massal dengan cakupan lebih luas tentu akan bisa dilaksanakan lebih lanjut.

Kemudian Suyuti menyebut, jika secara umum kedisiplinan masyarakat dalam mematuhi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagian cukup sulit dipenuhi, karena berbagai faktor.

"Diantaranya sebagian penduduk yang bekerja secara harian dan penghasilannya pun secara harian dan bukan bulanan," katanya.

Pewarta :
Uploader : Admin 4
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar