Begini penjelasan penularan COVID-19 dari individu tanpa gejala

id Begini penjelasan penularan COVID-19 dari individu tanpa gejala,Yuendri Irawanto, PMI, Sampit, Kotawaringin Timur, Kotim, virus Corona, COVID-19

Begini penjelasan penularan COVID-19 dari individu tanpa gejala

Kepala Unit Donor Darah PMI Kotawaringin Timur dr Yuendri Irawanto. ANTARA/Norjani

Sampit (ANTARA) - Penularan virus Corona jenis COVID-19 dari manusia ke manusia diduga bisa terjadi tanpa disertai gejala sakit, sehingga orang yang terjangkit virus tersebut bisa saja terlihat sehat atau merasa sehat.

"Suhu tubuh normal, tidak batuk, tidak pilek dan tidak sesak nafas, bagaimana mungkin bisa menyebarkan virus ke orang lain? Pertanyaan-pertanyaan ini, terutama saya dapatkan dari masyarakat yang ada anggota keluarganya atau kerabatnya ditetapkan sebagai ODP (orang dalam pemantauan)," kata Kepala Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia Kabupaten Kotawaringin Timur dr Yuendri Irawanto di Sampit, Selasa.

Yuendri mengaku sering mendapatkan pertanyaan dari masyarakat tentang orang yang datang dari daerah terjangkit COVID-19 dan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit, namun diharuskan melakukan isolasi dan masuk dalam kategori ODP.

Yuendri menjelaskan, telah diungkapkan dalam buku Pneumonia COVID-19 yang diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) tahun 2020, setelah terjadi transmisi atau penularan, virus masuk ke saluran napas atas kemudian memperbanyak diri atau replikasi di sel permukaan atau epitel saluran napas atas. Setelah itu menyebar ke saluran napas bawah.

Pada infeksi akut terjadi peluruhan virus dari saluran napas dan virus dapat berlanjut meluruh beberapa waktu di sel gastrointestinal setelah penyembuhan.

Ketika virus telah melakukan replikasi dalam sel tubuh manusia, terjadi reaksi imun atau kekebalan tubuh yang mengakibatkan kerusakan sel tubuh dan menimbulkan gejala penyakit.

Masa inkubasi atau masuknya virus sampai muncul gejala penyakit sekitar 3-14 hari. Faktor tingkat keganasan virus dan kekebalan tubuh serta penyakit lain yang telah diderita sebelumnya, berpengaruh pada tingkat morbiditas atau keparahan dan mortalitas atau kematian penyakit ini.

"Mengingat virus berada di saluran nafas maka penularan virus terjadi melalui penyebaran tetesan cairan pernapasan," katanya.

WHO dalam publikasinya 27 Maret 2020 mengungkapkan bahwa penularan tetesan terjadi ketika seseorang berada dalam kontak dekat dengan jarak satu meter dengan seseorang yang memiliki gejala pernapasan, misalnya batuk atau bersin.

Kulit mukosa yakni mulut dan hidung atau konjungtiva yakni mata yang terkena tetesan berpotensi menjadi tempat masuknya virus. Penularan tetesan tidak langsung dapat terjadi melalui peralatan di lingkungan sekitar orang yang terinfeksi.

Penularan melalui udara hanya dapat dimungkinkan timbul akibat tindakan medis yang menghasilkan aerosol atau penggunaan nebuliser/penguapan, pemasangan/pelepasan slang bantu nafas pada tenggorok, operasi pembuatan lubang pernafasan pada leher dan lainnya, dilakukan pada penderita yang positif COVID-19. 

Menurut Yuendri, dalam analisis 75.465 COVID-19 kasus di China, penularan melalui udara tidak dilaporkan. Demikian pula keberadaan virus di feses, ada bukti bahwa infeksi COVID-19 dapat menyebabkan infeksi usus dan virus terdapat dalam feses, namun belum ada laporan mengenai penularan feses-mulut.

Potensi penularan COVID-19 dari individu yang telah terpapar virus yang masih dalam rentang waktu masa inkubasi atau belum timbul gejala, yang dikenal sebagai 'presymptomatic transmission'. 

Penularan dari individu tanpa gejala ini sesuai yang dilaporkan  Rothe C, dk (2020) dalam publikasinya yang berjudul 'Transmission of 2019-nCoV infection from an asymptomatic contact in Germany'.

Baca juga: DPRD Kotim beri solusi pengalihan anggaran pilkada maksimalkan penanganan COVID-19

Rothe C melaporkan bahwa tiga orang telah mengadakan pertemuan dengan seorang yang berasal dari Shanghai China, lalu dua hari berikutnya dua orang timbul gejala sakit yakni satu dari Jerman dan satu yang dari Shanghai. Hari berikutnya, dua orang yang lain menunjukkan gejala timbulnya penyakit.

Keempat orang tersebut dari hasil pemeriksaan PCR dinyatakan positif COVID-19. Hasil Penelitian Zhang J (2020) yang dimuat dalam Critical Care vol. 24, juga mengungkapkan bahwa 5 persen dari infeksi COVID-19 adalah kasus tanpa gejala dan berpeluang sebagai sumber penularan.

Mengutip Lorenz J tanggal 30 Maret 2020, kata Yuendri, juga mengungkapkan banyak individu yang terinfeksi virus, menunjukkan sedikit atau tidak ada gejala sehingga menyulitkan upaya memerangi penyakit COVID-1. Kimball, A (2020) juga menemukan hal yang sama terjadi pada residen unit pelayanan keperawatan.

Walaupun masih memerlukan penelitian lebih lanjut, menurut Yuendri, penularan berpeluang terjadi dari individu yang tidak menunjukkan gejala COVID-19.

Yuendri menilai, mereka yang sebelumnya berada pada wilayah terjangkit COVID-19 atau mereka yang pernah kontak dengan penderita, dikelompokkan dalam ODP. Mereka sangat dianjurkan untuk melakukan isolasi mandiri atau di sarana kesehatan.

"Mari kita bersama-sama berjuang melawan penyebaran Covid-19 dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan, sering cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, tetap tinggal di rumah kecuali ada kebutuhan mendesak, menghindari kerumunan orang, olah raga teratur, berjemur diri, konsumsi menu bergizi yang seimbang dan istirahat yang cukup," demikian Yuendri.

Baca juga: Pemkab Kotim siapkan bantuan sembako untuk warga miskin terdampak COVID-19
Baca juga: Relawan bantu siapkan APD untuk RSUD Murjani Sampit


Pewarta :
Uploader : Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar