Runtuhnya Tembok Parpol Di Seruyan

id Runtuhnya Tembok Parpol Di Seruyan , Parpol, Seruyan, Sampit, Kotim

Ilustrasi (Istimewa)

Sampit, Kalteng, 12/5 (ANTARA) - "SURYA akhirnya sinari Seruyan". Begitulah tulisan seorang rekan di Kabupaten Seruyan beberapa saat setelah Mahkamah Konstitusi (MK) merilis putusan sengketa pemilu kepala daerah Seruyan, Rabu lalu.

Tidak lama berselang, sejumlah warga ramai-ramai membuat tulisan di status blackberry messenger (BBM) maupun akun facebook terkait hasil putusan MK.

Tidak hanya masyarakat Kabupaten Seruyan, reaksi positif atas putusan MK tersebut juga ditunjukkan oleh sejumlah warga Kabupaten Kotawaringin Timur, yang merupakan kabupaten induk Seruyan.

SURYA yang mereka maksud adalah pasangan Sudarsono-Yulhaidir yang selama musim pemilu kepala daerah (pemilukada) Kabupaten Seruyan memang akrab disebut SURYA.

Dengan keluarnya putusan MK yang menolak seluruhnya gugatan terhadap Komisi Pemilihan Umum (KPU) Seruyan terkait hasil pemungutan suara 4 April 2013, secara otomatis kemenangan pasangan Sudarsono-Yulhaidir tak terbantahkan lagi. Mereka kini tinggal bersiap menuju kursi Bupati dan Wakil Bupati Seruyan periode lima tahun ke depan.

Kemenangan Sudarsono-Yulhaidir memang tidak hanya mendapat perhatian dari masyarakat Seruyan, tetapi juga dari masyarakat di daerah lainnya di Kalimantan Tengah.

Kemenangan pasangan yang maju melalui jalur perseorangan atau independen ini menjadi sejarah baru bagi Seruyan dan Kalimantan Tengah. Untuk pertama kalinya provinsi ini memiliki bupati dan wakil bupati yang terpilih melalui jalur independen.

Pasangan Sudarsono-Yulhaidir berhasil mengalahkan pasangan H Ahmad Ruswandi-H Sutrisno yang didukung koalisi 12 partai politik. Dari 78.704 suara sah, pasangan Sudarsono-Yulhadir berhasil memenangi perolehan suara dengan mengantongi 42.226 suara, sedangkan pasangan H Ahmad Ruswandi-H Sutrisno hanya memperoleh 36.478 suara.

Kemenangan pasangan politisi yang sama-sama berlatar belakang sebagai wakil rakyat ini seakan merobohkan kokohnya pertahanan koalisi partai politik (parpol) di Seruyan.

Kemenangan mereka mematahkan pendapat bahwa dominasi parpol adalah syarat mutlak kemenangan dalam sebuah pemilu. Kemenangan mereka juga memberi harapan baru bagi figur-figur di Kalimantan Tengah yang ingin maju melalui jalur independen.

"Kita ingin Seruyan berubah lebih maju lagi karena seharusnya bisa dilakukan karena Seruyan memilik potensi sumber daya alam dan manusia yang besar. Sebagai anggota DPRD, sudah tugas kami menyerap aspirasi sehingga kami tahu betul apa permasalahan di lapangan yang menjadi harapan warga dan kami sudah punya solusi yang akan ditawarkan untuk mengatasinya," kata Sudarsono dalam beberapa kali kampanyenya.

Jargon perubahan yang ditawarkan Sudarsono-Yulhaidir tampaknya memang efektif membuat masyarakat bersimpatik. Apalagi, terlepas ada pengaruhnya atau tidak, tampilnya H Ahmad Ruswandi yang tak lain adalah putra dari H Darwan Ali, bupati yang memimpin Seruyan selama dua periode, sepertinya menguatkan posisi pasangan Sudarsono-Yulhaidir mengusung jargon perubahan sebagai amunisi dalam menarik dukungan masyarakat.

"Itu bisa jadi salah satu poin kekuatan kemenangan pasangan calon independen tersebut. Kepemimpinan yang ada orang sudah tahu persis bagaimana karakternya sehingga orang bisa jenuh dengan model kepemimpinan sehingga mencari model yang baru, ingin perubahan. Walaupun yang maju adalah putranya, tapi tidak bisa dipungkiri masyarakat pasti tetap akan mempertimbangkan faktor X tersebut," ujar pemerhati politik dari Universitas Palangka Raya, Sidik Rahman Usop ketika dihubungi dari Sampit, Sabtu.

Kemenangan calon independen di Kabupaten Seruyan, menurut dia, membuktikan betapa dahsyatnya kekuatan rakyat, meski ketika berhadapan dengan dominasi parpol.

Pasangan calon independen tersebut berhasil menyatukan tekad dan kekuatan masyarakat sehingga mempunyai tujuan yang sama. Jika kebersamaan itu muncul, kekuatan parpol maupun godaan lainnya semisal politik uang, tidak akan ampuh jika diterapkan.

"Independen berani maju berarti dia sudah membangun komunikasi yang efektif dengan massa mereka jauh-jauh hari sebelumnya sehingga itu menjadi bagian penting kekuatan. Dia sudah mempelajari kelemahan calon yang ada, sehingga memiliki kepercayaan diri yang sangat kuat dan dia mempelajari peta politik di sana," kata Ketua Jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini.

Dari sisi penggalangan dukungan, pasangan calon independen secara tidak langsung memang diuntungkan oleh aturan. Mereka diharuskan mengumpulkan puluhan ribu dukungan masyarakat yang dibuktikan dengan fotokopi kartu tanda penduduk (KTP).

Momen itu sudah menjadi awal bagi mereka untuk menyosialisasikan diri dengan terjun langsung menemui masyarakatnya, sekaligus meminta dukungan, sementara hal itu belum tentu dilakukan sejak awal oleh pasangan yang diusung parpol.

Selain itu, dukungan yang dihimpun pasangan calon independen adalah dukungan riil di lapangan, bukan semu. Logikanya, masyarakat tidak mungkin dengan sadar bersedia menyerahkan menyerahkan fotokopi KTP mereka sebagai bukti dukungan, seandainya mereka tidak bersimpatik dengan pasangan calon independen tersebut.

Dengan turun langsung menemui masyarakat sejak jauh hari sebelum pemilihan, pasangan calon independen punya waktu yang cukup lama untuk memupuk hubungan dan ikatan emosional dengan masyarakat yang menjadi target pendukung mereka. Pasangan calon independen pun akan lebih mengenali karakteristik masyarakat di tiap desa yang mungkin saja berbeda-beda.

"Dia sudah memiliki calon pemilih di Seruyan. Seruyan itu bukan hanya Kuala Pembuang sebagai ibu kota kabupaten, tapi juga ada banyak konsentrasi penduduk seperti Pembuang Hulu, Tumbang Manjul dan lainnya. Itu memiliki karakteristik yang berbeda dibanding kawasan kota seperti Kuala Pembuang. Dari sisi sebaran agama juga menjadi perhatian. Karakteristik berbeda, maka pendekatannya juga pasti berbeda. Inilah kejelian calon independen yang bisa menelusurinya lebih dulu," ujar Sidik.

Masalah ini, katanya, juga tidak lepas dari proses kaderisasi yang baik dari partai politik sehingga melahirkan figur yang mumpuni yang bisa mendapat tempat di hati masyarakat. Figur yang dimunculkan secara instan membutuhkan energi yang luar biasa jika ingin memenangkannya.


Kegagalan Partai Politik
Kemenangan Sudarsono-Yulhaidir di pemilukada Kabupaten Seruyan tidak hanya membuat kejutan tentang keberhasilan pasangan calon independen melawan dominasi partai politik, tetapi juga mengisyaratkan kegagalan partai politik.

Bayangkan, kekuatan 12 partai politik dirobohkan oleh pasangan calon independen.

Sidik Rahman Usop menilai hasil pemilukada Kabupaten Seruyan juga menunjukkan kegagalan partai politik dalam pertarungan pemilukada. Partai politik gagal mengamankan dan menjaga loyalitas kader mereka sendiri untuk mengikuti kebijakan partai dalam mendukung pasangan calon yang diusung.

"Ini adalah salah satu contoh bagaimana partai tidak mempunyai kekuatan dengan massanya karena partai membangun komunikasi dengan massanya hanya sesaat. Begitu pemilu, baru ramai-ramai. Ini kegagalan partai," kata Sidik.

Di sisi lain, keberhasilan proses pembinaan internal partai dan kaderisasi menjadi dipertanyakan. Secara logika, jika mesin politik berjalan maksimal hingga ke tingkat bawah, maka pasangan calon yang diusung oleh 12 partai politik seharusnya dengan mulus berhasil menduduki kursi bupati dan wakil bupati.

"Partai adalah wadah kaderisasi pemimpin, jadi orang harus taat dan tunduk kepada aturan partai, tapi yang terjadi kan berarti tidak. Terkadang pemimpin yang muncul di partai politik sendiri juga bukan pemimpin yang melalui sebuah kaderisasi yang baik. Di partai itu kan kadang muncul adalah figur yang kurang kita kenal, padahal di dalam tubuh partai itu ada yang antre kader lama yang punya kredibilitas bagus," kata Sidik.

Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Kalimantan Tengah, HM Asera juga menyoroti kegagalan koalisi partai politik memenangkan pemilukada Kabupaten Seruyan.

Dia mengakui mesin koalisi tidak berjalan maksimal, khususnya dalam hal mengamankan suara kader partai masing-masing.

"Koalisi partai tidak berjalan dan tidak efektif seperti diharapkan. Mesin partai juga tidak dihidupi. Kalau dari segi kekuatan, seharusnya sangat kokoh, tapi karena jalannya melempem, ya tidak jalan," ujar Asera.

Kegagalan ini, menurut dia, tentu akan menjadi pelajaran berharga bagi partai politik, khususnya PKB. Pembinaan internal harus lebih ditingkatkan, apalagi dalam waktu dekat partai politik harus menghadapi agenda besar yaitu pemilu legislatif 2014.

Meski begitu, Asera menilai, faktor situasional seperti besarnya keinginan masyarakat Seruyan untuk melakukan perubahan, sangat menguntungkan calon independen. Isu itu diakuinya sangat strategis di tengah keinginan masyarakat untuk merasakan kemajuan yang lebih di kabupaten tersebut.

"Isu perubahan sangat strategis. Masyarakat berpikiran bahwa gaya kepemimpinan kepala daerah akan berubah jika memilih calon independen. Masyarakat melihat independen akan banyak membawa perubahan," katanya.

Disinggung mengapa DPW PKB Kalimantan Tengah turut merestui pasangan calon yang diusul DPC PKB Seruyan, Asera berkilah bahwa pihaknya memberikan kepercayaan kepada DPC untuk menentukan pilihan berdasarkan aspirasi masyarakat.

"Kita setujui karena kita percaya dengan DPC. Soal hasil, ya itu hasil perkembangan di lapangan," ujarnya.


Jadi Model Baru
Banyak pelajaran yang dipetik dari kemenangan pasangan calon independen Sudarsono-Yulhaidir di pemilukada Kabupaten Seruyan. Keberhasilan ini menjadi sejarah dan model baru bagi pemilukada di Kalimantan Tengah.

Kemenangan Sudarsono-Yulhaidir menjadi pemantik semangat bagi pasangan calon independen yang maju di daerah lainnya di Kalimantan Tengah. Sudarsono-Yulhaidir membuktikan bahwa bukan hal mustahil kemenangan diraih pasangan calon independen.

"Ini menjadi bagian penting kemanangan independen di Seruyan ini menjadi model di dalam pemilu di Kalimantan Tengah. Di Kapuas juga ada model bagaimana kelompok-kelompok di luar tim itu mendukung kemenangan dengan cara-cara yang khas walaupun dengan risiko-risiko tertentu," kata Sidik Rahman Usop.

Dalam waktu dekat pemilukada juga akan digelar di Kota Palangka Raya. Ada dua pasang calon independen yang akan bertarung di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah tersebut.

Kemenangan Sudarsono-Yulhaidir agaknya akan menjadi motivasi bagi mereka untuk bersaing dengan pasangan-pasangan calon wali kota dan wakil wali kota yang diusung partai politik.

Namun, tidak semua pasangan calon dari independen yang beruntung memenangi pemilukada. Seperti di Kabupaten Katingan dan Lamandau, calon independen tidak berhasil memenangi pemilukada melawan kekuatan partai politik. "Tentu situasinya juga pasti berbeda. Tetapi, peluang calon independen selalu terbuka," ucap Sidik.

Berbicara masalah program, Sidik berharap nantinya ada akademisi yang maju sebagai calon bupati dan wali kota melalui jalur independen. Selain mewarnai politik di daerah, jika berhasil terpilih maka tentu akan berdampak terhadap pelaksanaan program-program yang selama ini menjadi gagasan para akademisi.

"Kita berharap muncul tokoh independen dari kampus sehingga bisa mewarnai karena selama ini belum ada muncul dari kampus. Selama ini kampus hanya mewarnai dengan berkomentar tapi belum muncul sebagai calon. Kalau maju, sehingga gagasan mereka bisa masuk dalam pelaksanaan," demikian Sidik.




(T.KR-NJI/B/H-KWR/H-KWR)

Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar